Orang Indonesia Umumnya Jadi Pengusaha karena “Kecelakaan”, Apa Maksudnya?
JAKARTA, investortrust.id – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia lumayan banyak, jumlahnya mencapai 64 juta. Namun, sebagian besar ternyatamenjadi pengusaha karena “kecelakaan”.
“Orang Indonesia yang menjadi pengusaha mikro dan ultramikro itu umumnya by accident, bukan by design,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil, Menengah Mandiri Indonesia (Apmikimmdo), Laurensius Manurung dalamdiskusi Bersinergi Mengembangkan Ekosistem UMKM dalam Era Digitalisasi yang digelar PT PermodalanNasional Madani/PNM (Persero) dan investortrust.id di Jakarta, Selasa (07/11/2023).
Baca Juga
Diskusi yang dipandu Pemimpin Redaksi investortrust.id Primus Dorimulu itu juga menghadirkan Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop dan UKM) Siti Azizah, Deputi Manajer SDM Teknologi Informasi (TI) Kementerian BUMN Tedi Bharata, Ketua Komite Tetap Aplikasi Teknologi Komunikasi dan Informatika Kadin Indonesia Noudhy Valdryno,serta ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda.
Laurensius Manurung mengungkapkan, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64 juta. Dari jumlah itu, 99% di antaranya masuk kategori usaha mikro dan ultramikro. UMKM menyerap sekitar 97% dari total tenaga kerja di Tanah Air, dengan kontribusi sekitar 61% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Baca Juga
Dorong UMKM Naik Kelas, Ini yang Dilakukan Kemenkop UKM dan Kementerian BUMN
Namun, menurut Laurensius, para pelaku UMKM di Tanah Air umumnya tidak didukung keahlian yang mumpuni. Soalnya, mereka menjadi pengusaha karena kebetulan, terpaksa, atau akibat “kecelakaan”, bukan karena sejak awal merancang diri untuk betul-betul menjadi pengusaha. “Kena PHK kemudianbikin usaha. Sulit cari kerja kantoran langsung bikin UMKM,” tutur dia.
Alhasil, kata Laurensius, umur para UMKM itu pun tidak lama karena mereka tidak mempersiapkan diri secara matang untuk menjadi pengusaha, misalnya membekali diri dengan pendidikan atau keterampilan bisnis, melakukan riset pasar dan riset produk,serta menjalin jejaring.
Baca Juga
“Makanya live time-nya singkat, sebulan-dua bulan sudah tutup. Hari ini usaha tempe, besok kaos kaki. Padahal, sebelum menjadi pengusaha, seseorang harusmenyiapkan diri sebaik mungkin,” tandas dia.
Tak mengherankan pula, menurut Laurensius Manurung, jika UMKM Indonesia sulit naik kelas, bahkan sulit bersaing dengan UMKM-UMKM negara lain. “Jangankan go global, menjadi tuan rumah di negeri sendiri pun susah,” ucap dia.

