Badan Pangan Pastikan Perpanjangan Bansos Beras Tidak Bermuatan Politis
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah memperpanjang penyaluran bantuan pangan beras atau bansos beras hingga Juni 2024. Keputusan ini dikaitkan dengan momentum pemilihan umum yang akan digelar pada 14 Februari 2024.
Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi buru-buru menepis anggapan tersebut, dia menegaskan tidak ada unsur atau muatan politis dalam program itu.
Arief mengatakan, bantuan beras murni diputuskan pemerintah agar menjaga daya beli dan membantu masyarakat berpenghasilan rendah, serta guna menjaga inflasi dan harga beras. Sehingga, ia memastikan bantuan itu akan disalurkan tepat pada sasaran.
“Perpanjangan bantuan pangan beras sampai Juni 2024 telah melalui pertimbangan pemerintah secara mendalam. Kita pastikan penyaluran ke masyarakat selalu tepat sasaran dan tidak ada muatan politis, mengingat sudah memasuki tahun politik seperti saat ini. Masyarakat dan segenap elemen bisa mengawasi bersama,” ujar Arief dalam keterangan yang dikutip Senin, (20/11/2023).
Baca Juga
Salurkan 938 Ribu Ton Beras SPHP, Bulog Sebut 85,50% Target Sudah Terealisasi
Dia kemudian menjelaskan bahwa panen raya yang biasanya ada di Maret dan April diperkirakan akan mundur, atau bahkan kemungkinan akan bergeser 1 atau 2 bulan setelahnya. Sementara diketahui, 2024 terdapat penyelenggaraan Pemilu di Februari dan Idul Fitri di April.
"Yang mana pada momentum-momentum tersebut, demand untuk beras sebagai pangan pokok mengalami peningkatan. Untuk itu, Bapak Presiden Joko Widodo meminta untuk selalu memperkuat stok CBP (Cadangan Beras Pemerintah) yang nantinya disalurkan melalui bantuan pangan beras kepada 22 juta KPM (Keluarga Penerima Manfaat) hingga Juni 2024,” sambungnya.
Sebagaimana diketahui, dalam 2 tahun terakhir puncak tertinggi produksi beras secara bulanan terjadi di Maret dan April. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras di Maret pada 2022 tercatat 5,49 juta ton dan April 2022 mencapai 4,45 juta ton.
Angka tersebut menandakan panen raya di tahun 2022. Tren yang sama juga terjadi di 2023, di mana pada Maret 2023 produksi beras mencapai 5,13 juta ton dan April 2023 tercatat 3,66 juta ton.
Baca Juga
“Tentunya NFA bersama Perum Bulog akan mengantisipasi pergeseran masa panen raya tahun depan apabila benar tidak terjadi di Maret dan April. Kita komitmen akan menyerap produksi beras dalam negeri untuk terus memperkuat stok CBP. Ini menjadi tantangan karena kebutuhan stok CBP untuk bantuan pangan beras selama 6 bulan di 2024, kita estimasi memerlukan total 1.320.244 ton,” ungkapnya.
Arief menyatakan penyaluran bantuan pangan beras ini berperan sebagai unsur penekan harga beras di tingkat konsumen dan menjaga inflasi nasional. Meskipun sumber CBP termasuk berasal dari pengadaan luar negeri, ia menekankan harga di tingkat petani tidak akan begitu terpengaruh.
“Dapat dilihat, selama dua kali tahap penyaluran bantuan pangan beras di tahun ini, inflasi dapat terjaga, terutama inflasi beras. Begitu pula harga beras di konsumen yang dapat ditekan agar tidak bergejolak semakin tinggi,” tandas eks Direktur Utama ID FOOD ini. (CR-9)

