Lebaran 2024, Kemenhub Prediksi Pergerakan Pemudik Jalur Udara 4 juta Orang
JAKARTA, investortrust.id - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi sebanyak empat juta penumpang akan menggunakan transportasi udara selama dalam arus mudik dan balik lebaran tahun 2024.
Demikian penjelasan Direktur Jenderal Perhubungan Udara M. Kristi Endah Murni saat kunjungannya ke beberapa Bandara di Sulawesi, beberapa waktu lalu.
Seperti tahun sebelumnya, Ditjen Hubud akan mengelar posko terpadu angkutan udara lebaran (angleb) 2024 di kantor pusat Kementerian Perhubungan dan melakukan pantauan di beberapa bandara.
Baca Juga
“Posko Angleb akan berlangsung selama 3 April 2024 sampai dengan 18 April 2024 dengan memantau 51 bandara untuk penerbangan dalam negeri dan 16 bandara untuk penerbangan luar negeri,” kata Kristi dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu (27/3/2024).
Ditjen Hubud memproyeksikan terjadi peningkatan penumpang pada periode lebaran 2024 sebesar 12% dibandingkan periode lebaran 2023.
Diperkirakan jumlah penumpang pada puncak arus mudik mencapai 310.411 orang, yaitu terdiri atas 261.206 penumpang domestik dan 49.205 penumpang internasional pada H-4 Lebaran.
Sedangkan untuk puncak arus balik diperkirakan mencapai 314.449 orang yaitu 261.573 penumpang domestik dan 52.875 penumpang internasional pada H+4 Lebaran.
Untuk memastikan kesiapan kapasitas tempat duduk, Ditjen Hubud juga telah memperkirakan kebutuhan kapasitas angkutan udara, dimana dengan ketersediaan 420 armada pesawat dan proyeksi jumlah penumpang domestik angkutan udara lebaran 2024, maka dibutuhkan 329 pesawat udara.
Baca Juga
6 Ruas Tol Baru Siap Beroperasi Fungsional Dukung Mudik Lebaran 2024
Tak sampai disitu, Kristi juga memberikan arahan kepada seluruh penyelenggara angkutan udara untuk mempersiapkan sarana prasarana transportasi udara serta seluruh pendukungnya, termasuk personel dan prosedur pelayanan.
"Selain fasilitas sarana prasarana, personel hal lain yang perlu diantisipasi yaitu cuaca ekstrim dengan mempersiapkan Contingency Plan jika terjadi Accident dan Force Majeure (bencana alam), ancaman keamanan dan ketertiban,” tutup Kristi.

