Investasi EBT Jauh dari Target, Ini Kata Menteri ESDM
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap investasi di sub-sektor energi baru terbarukan (EBT) baru mencapai US$ 1,17 miliar periode Januari-November 2023. Angka itu jauh dari target US$ 1,8 miliar sepanjang 2023.
Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengatakan salah satu penyebabnya yaitu oversupply pada tenaga listrik.
"Kemarin dengan kenaikan harga energi seharusnya menjadi daya tarik, tapi kemudian kemampuan sistem kita kan masih over (listrik). Nah sekarang tinggal demand-nya bagaimana," ujar Arifin dikutip Senin (11/12/2023).
Oleh sebab itu Kementerian ESDM tengah berupaya meningkatkan permintaan listrik di Indonesia supaya menarik minat investor. Salah satunya lewat penyaluran rice cooker kepada 500.000 penerima yang rencananya dimulai bulan ini.
Baca Juga
"Sekarang kan kita coba naikkan demand lewat motor listrik, kompor listrik, alat masak listrik tapi kan baru saja mulai," ucapnya.
Sementara itu dia mengatakan demand tenaga listrik dari sektor industri dinilai masih kurang. Dia kembali menegaskan harga energi yang kompetitif bakal membuat investor masuk.
Baca Juga
Harga Emas Antam Parkir di Rp 1.107.000 per Gram, Cek Harga Termurahnya
"Untuk demand industrinya sendiri masih (kurang). Harga energi harus bisa kompetitif sehingga bisa menarik investasi untuk masuk. Sedangkan kuncinya cuma satu, investasi, investasi, investasi," tuturnya.
Diketahui pemerintah menargetkan investasi EBT mencapai US$ 36,95 periode 2019 hingga 2025. Hal itu termaktub pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2025. (CR-14)

