Gen Z dan Milenial Pendorong Industri Fintech
JAKARTA, investortrust.id – Layanan teknologi finansial (fintech) di Tanah Air berkembang pesat. Golongan masyarakat yang selama ini menjadi pendorong pertumbuhan fintech adalah kalangan Gen Z dan milenial. Sebanyak 63% atau dua pertiga nasabah fintech peer to peer (P2P) lending berasal dari Gen Z dan milenial. Selain itu kaum perempuan juga berkontribusi lebih besar dibandingkan pria dalam perkembangan layanan ini.
Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wijaya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Implementation Digital Finance 2024 & Beyond”, di The Habibie - Ainun Library, Jakarta, Kamis (5/10/2023).
Dalam FGD yang dipandu Pemimpin Redaksi Investortrust.id Primus Dorimulu tersebut, juga menghadirkan Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) Ilham Akbar Habibie, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro dan Jasa Keuangan Lainnya OJK Edi Setijawan, anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Marsudi Wahyu Kisworo, CEO Izidata Indonesia Sigit Pratama, serta sejumlah pemimpin perusahaan jasa keuangan digital dari Tiongkok.
Gen Z adalah kelompok masyatakat yang lahir di rentang tahun 1997-2021. Sedangkan milenial merujuk pada generasi yang lahir pada rentang 1981 hingga 1996.
Baca Juga
Ronald mengungkapkan, dilihat dari demograsi nasabah atau borrower fintech peer to peer (P2P) lending, mayoritas didominasi Gen Z dan milenial, serta berjenis kelamin Perempuan.
“Kalau kita lihat datanya, ternyata 51% borrower didominasi oleh perempuan, laki-lakinya lebih rendah sedikit, sekitar 49%. Kalau kita lihat lagi, borrower lebih banyak di rentang usia 19 sampai 34 tahun, itu sekitar 63% atau dua pertiga dari pengguna aktif,” ungkapnya.
Dia menambahkan, manfaat P2P lending selama ini masih banyak dirasakan penduduk di Jawa. Di mana 80% nasabah P2P lending berdomisili di Jawa, dan selebihnya di luar Jawa.
“Tentu kita dorong untuk penerapan adopsi teknologi, agar manfaatnya tidak hanya di pulau Jawa, melainkan di luar pulau Jawa pula. Kalau kita lihat hari ini sekitar 80% itu fokusnya di pulau Jawa dan 20% sisanya berada di luar pulau Jawa,” ungkap Ronald.
Dalam konteks populasi yang digital-savvy, Ronald menyebut bahwa Indonesia berpotensi untuk naik ke peringkat keempat di dunia, terkait Produk Domestik Bruto (PDB), pada tahun 2045. Hal ini menjadi tantangan dan peluang bagi generasi milenial dan generasi Z juga untuk terus berperan aktif dalam pertumbuhan ekonomi digital negara Indonesia.
Pada kesempatan itu, Ronald juga menjelaskan, kehadiran perusahaan fintech selama tujuh tahun terakhir di Indonesia, bukan untuk bersaing dengan lembaga perbankan. Kehadiran fintech justru menjadi mitra kolaboratif bagi bank. Sebab, fintech mampu menjangkau segmen-segmen yang selama ini tidak terjangkau oleh bank.
Baca Juga
“Jadi kita semua memiliki peranan yang sangat penting, untuk menentukan arah ke depannya digital finance. Kami tidak bermaksud untuk menyaingi perbankan, bahkan saya pernah bilang, justru kami complimentary Bank, di mana teknologi sebagai tools untuk kolaborasi,” ujarnya.
Ronald memaparkan, industri fintech di Indonesia terbagi menjadi empat kuadran besar, yaitu fintech payment, fintech peer to peer (P2P) lending, securities crowdfunding, dan inovasi keuangan digital (IKD).
“Kuadran pertama, lahir paling awal, itu adalah fintech payment. Kemudian di kuadran kedua itu ada namanya fintech P2P lending, berikutnya adalah securities crowdfunding, dan inovasi keuangan digital yang berbentuk ekosistem fintech P2P lending,” paparnya Ronald.
Jumlah pemain dalam industri fintech terus berkembang. Saat ini, terdapat lebih dari 330 perusahaan yang telah memperoleh lisensi penuh.
Ronald mengungkapkan, meski terus meningkat, minat masyarakat untuk menanamkan dananya di platform fintech, khususnya fintech P2P lending masih rendah. Minat masyarakat menjadi investor atau lender di platform P2P lending, baru sekitar 1,08 juta orang. Jauh dibandingkan investor di pasar modal yang sudah menembus 11 juta investor. “Artinya masih ada potensi untuk bertumbuh,” ujarnya.
Baca Juga
CEO Izidata: Perusahaan “Credit Scoring” Perkuat Industri Fintech
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki beragam inovasi dalam keuangan digital, termasuk penyedia layanan credit scoring, aggregator, dan teknologi pengawasan melalui perusahaan. Perkembangan ini mendukung peningkatan kepercayaan masyarakat dan pertumbuhan fintech secara keseluruhan.
“Kalau kita lihat per hari ini, yang sedang berkembang pesat yaitu credit scoring, contohnya di sini ada Izidata, salah satu penyelenggara credit scoring yang berperan sangat penting dalam memberikan credit worthiness,” ungkap Ronald.
Indonesia, dengan populasi yang besar dan inklusi keuangan yang masih rendah, memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam industri fintech. “Indonesia termasuk negara digital predicative. Karena kita punya populasi tinggi, tetapi masih rendah inklusinya, jadi masih punya banyak peluang apalagi penduduk kita sudah terdigitalisasi,” ujar Ronald. (CR-3)

