Balik Modal Kereta Cepat Diprediksi Paling Cepat 64 Tahun
JAKARTA, investortrust.id – Ekonom Senior Indef Faisal Basri mengatakan, dengan harga tiket Rp 250 ribu per penumpang, Kereta Cepat Jakarta-Bandung baru bisa balik modal paling cepat dalam 64 tahun. Perkiraan itu memperhitungkan tingkat keterisian penumpang hingga 75%.
“Jika tempat duduk terisi 75% itu 64 tahun. Makanya saya katakan kiamat itu. Jadi nilai invesatsi tetap. Kalau seat 50% terisi itu (bisa sampai) 139 tahun,” ungkap Faisal dalam diskusi publik “Beban Utang Kereta Cepat di APBN” yang digelar Universitas Paramadina di Jakarta, Selasa (17/10/2023).
Asumsi ini memperhitungkan nilai investasi sebesar Rp114,4 triliun, serta berbagai beban operasional maupun beban cicilan utang. Nilai investasi tersebut, menurut menurut Faisal, sesungguhnya mengalami pembengkakan (cost overrun) hingga USD 1,449 miliar. Jika dirupiahkan dengan asumsi kurs Rp14.800 per dolar, nilai pembengkakan mencapai Rp21,4 triliun.
Baca Juga
Hore! Tiket Gratis Kereta Cepat Whoosh Kembali Dibuka untuk Periode 11-16 Oktober
Target balik modal tidak muda dicapai karena jalur Jakarta-Bandung punya banyak pilihan moda transportasi. Terlebih di jalur ini juga tersedia Kereta Parahyangan dengan posisi stasiun di tengah kota. Kondisi ini juga membuat pembangunan kereta cepat kurang berpengaruh menunjang mobilitas orang.
Perubahan Konsep Pembiayaan
Menurut Faisal Basri, guna menyelesaikan persoalan pembengkakan biaya (cost overrun) pemerintah membentuk Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan.
Komite ini kemudian mengubah konsep pembangaunan kereta cepat. Hal ini dimuat dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Satana Kereta Cepat Jakarat – Bandung.
Perturan ini mengubah konsep pembiayaan tidak lagi business to business tetapi mendapat pembiayaan dari APBN. “Pembiayaannya 75% bersumber dari pinjamae China Development Bank, ekuitas KCIC 25%,“ tutur Faisal.
Dalam struktur pembiayaan perubahan ini, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung memerlukan biaya US$8 miliar. Konsorsium Indonesia terhitung melakukan pembiayaan 15% dengan perhitungan PT KAI 5.70%, PT Wijaya Karya (WIKA) 3,75%, PTPN VIII 3,75%, dan Jasa Marga sebesar 1,80%. (CR-4)
Baca Juga
Budi Karya Sebut Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Sudah Masuk Agenda Kemenhub

