Jelang Debat Capres, Pengusaha Ungkap Persoalan Rendahnya Produktivitas Pekerja
JAKARTA, investortrust – Rendahnya produktivitas pekerja di Indonesia menjadi problem berlarut yang harus dicari solusinya. Untuk itu, pemerintahan baru nanti diharapkan punya concern serius pada masalah ini.
Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kadin, Sarman Simanjorang, mengatakan, rendahnya produktivitas pekerja disebabkan masih kurangnya keterampilan dan pendidikan yang dimiliki mereka.
Saat ini kata Sarman, 90% tenaga kerja di Indonesia merupakan buruh yang masih berpendidikan menengah ke bawah. Wajar bila kebanyakan pekerja kita belum mampu bersaing di industri yang berbasis teknologi.
Baca Juga
Kadin Harap Capres Punya Program Khusus Hadapi Bonus Demografi
“Artinya dari latar belakang pendidikan tersebut bisa dikatakan bahwa mereka itu hanya bisa ditampung di Industri padat karya atau mungkin sebagian di industri-industri hiburan,” ungkap Sarman Simanjorang saat dihubungi Investortrust.id, Jumat (02/02/2024).
Oleh sebab itu, dia berharap, para calon presiden punya program untuk menggenjot kompetensi sumber daya manusia dengan memperkuat program vokasi.
Pentingnya juga melakukan evaluasi kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal ini diperlukan agar pekerja dapat memiliki skill dan kompetensi yang mumpuni.
Baca Juga
Sarman mengatakan, saat ini kurikulum-kurikulum yang ada di SMK masih berorientasi pada teori. Padahal, di negara lain seperti Jerman, pemerintah lebih memaksimalkan siswa SMK untuk praktek di industri besar.
“Jadi, mungkin kurikulumnya perlu diubah. Bagaimana supaya siswa SMK itu lebih banyak prakteknya daripada teori. Jadi setahun saja dia (diberikan) teori, sisanya mereka diwajibkan magang di perusahaan-perusahaan besar,” terangnya.
Pengevaluasian kurikulum SMK ini dinilai dapat memaksimalkan siswa agar menjadi tenaga kerja yang diharapkan oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Di sisi lain, dengan adanya kompetensi skill yang mumpuni dari tenaga kerja, Sarman berharap bahwa produktivitas pekerja akan semakin meningkat dan dapat mengatasi isu UMP.
“Tentu kalau mereka sudah punya kompetensi skill yang mumpuni nah tentu produktivitas mereka akan semakin meningkat, tentu masalah UMP juga tidak ada lagi,” harapnya.

