SKK Migas Setujui Investasi Dua Proyek EOR di Wilayah Rokan Rp 5,18 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyetujui investasi senilai total Rp 5,18 triliun pada dua proyek pengurasan minyak tingkat lanjut (enhanced oil recovery/EOR).
“Kedua proyek EOR tersebut merupakan bagian dari pemenuhan komitmen kerja pasti di wilayah kerja Rokan yang telah dibuat saat alih kelola,” kata Deputi Eksplorasi, Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Benny Lubiantara dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Senin (18/12/2023).
Benny menjelaskan, proyek yang disetujui SKK Migas terdiri atas Plan of Development (POD) Chemical EOR Lapangan Minas Tahap-1 (Area-A) yang dikelola kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dengan investasi Rp 1,48 triliun. Proyek ini disetujui pada14 Desember 2023.
Baca Juga
Mantap! Hanya dalam Tempo 2 Hari, Forum SKK Migas Ini Bukukan Kontrak Rp 20,2 Triliun
Pada 1 Desember 2023, menurut Benny,SKK Migas juga menyetujui POD Steamflood EOR Lapangan Rantaubais Tahap-1 dengan investasi Rp 3,7 triliun. “Dengan demikian,total investasi kedua proyek EOR tersebut mencapai Rp 5,18 triliun,” ujar dia.
Benny Lubiantara mengungkapkan, melalui persetujuan POD ini, Minas akan menjadi lapangan pertama di Indonesia yang mengimplementasikan metode Chemical EOR (CEOR) pada skala komersial menggunakan bahan kimia injeksi alkali-surfaktan-polimer (ASP).
“Komersialisasi proyek CEOR Lapangan Minas merupakan tonggak bersejarah setelah perjalanan panjang pengembangan proyek CEOR yang diinisiasi operator wilayah kerja Rokan sebelumnya, yaitu Caltex/Chevron dengan penelitian-penelitian intensif sejak tahun 2000-an guna mencari formulasi surfaktan yang cocok dengan karakteristik lapangan Minas,” papar dia.
Dia membeberkan, CEOR merupakan salah satu metode pengurasan lapangan minyak tahap tersier dengan menginjeksikan bahan kimia tertentu (polimer, atau surfaktan-polimer) secara berpola dari sumur injeksi untuk mengubah karakteristik fluida dan batuan reservoir. Metode ini dapat melepaskan minyak yang terikat di batuan agar dapat mengalir ke sumur produksi.
Metode CEOR, kata dia, diimplementasikan di Lapangan Minas setelah secara maksimal memproduksikan minyak menggunakan metode pengurasan primer dan sekunder (waterflood). Proyek CEOR Minas Tahap 1 akan menggunakan pattern-pattern berukuran 18 acres dengan pola injeksi inverted irregular 7-spot dengan target injeksi pada formasi reservoir Bekasap dan Bangko.
Menurut Benny, cadangan minyak tambahan dari pengembangan CEOR Tahap-1 di Lapangan Minas diperkirakan mencapai 2,24 juta barel. Adapun puncak produksi minyak pada proyek ini diprediksi mencapai 1,566 BOPD.
Baca Juga
SKK Migas Ingatkan Risiko Kecurangan dan Korupsi dalam Investasi Hulu Migas
“Proyek ini merupakan tahap awal (proof of expandability) pengembangan CEOR untukmenuju skala lapangan penuh (fullfield scale) di Lapangan Minas yang diidentifikasi memiliki total potensi tambahan cadangan minyak mencapai 500 juta barel saat pengembangan skala penuh,” papar dia.
Benny menegaskan, POD CEOR Minas tahap 1 sangat penting sebelum menuju investasi yang lebih masif melalui POD-POD tahap berikutnya. Informasi yang diperoleh pada tahap ini diperlukan untuk memitigasi risiko pada saat pengembangan lapangan skala penuh (full scale) kelak.
Dia mengemukakan, pengembangan lapangan ini akan banyak memanfaatkan sumur-sumur existing sebagai upaya efisiensi biaya proyek, meskipun tetap akan diperlukan pengeboran sebanyak lima sumur pengembangan baru untuk membentuk pola atau pattern injeksi tertentu.
Fasilitas produksi dan injeksi kimia di permukaan, kata dia, juga telah diefisiensikan dengan memanfaatkan fasillitas yang digunakan pada proyek surfactant field trial (SFT-2) pada 2015. “Total biaya investasi yang diperlukan pada proyek ini mencapai Rp 1,48 triliun,” tandas dia.

