Penurunan Target Bauran EBT Turunkan Kepercayaan Investor
JAKARTA, investortrust.id - Koalisi Masyarakat Sipil yang tergabung dalam Gerakan Energi Terbarukan memprotes rencana pemerintah untuk menurunkan target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional. Keputusan ini dianggap sebagai langkah mundur, bukti inkonsistensi kebijakan, menimbulkan biaya dan dampak sosial lebih besar, serta bisa berujung pada penurunan kepercayaan investor EBT.
Dewan Energi Nasional (DEN) pasalnya berencana menurunkan target bauran EBT Indonesia pada 2025 mendatang menjadi 17-19%. Padahal sebelumnya target yang dipatok adalah 23%. Target bauran EBT terbaru ini akan tercantum dalam revisi Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Manajer Program Transformasi Energi Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo menilai, penurunan target ini merupakan sebuah langkah mundur. Pasalnya, itu membuat Indonesia baru mencapai puncak emisi pada 2035.
“Capaian tersebut 7-10 tahun lebih lambat dari kebutuhan membatasi kenaikan temperatur rata-rata global dibawah 1,5 derajat Celsius sesuai laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Jadi, RPP KEN mengancam tercapainya Persetujuan Paris dan komitmen netral karbon pada 2060 atau lebih cepat yang sudah ditarget pemerintah,” kata Deon dalam Seminar Langkah Mundur Transisi Energi Melalui Permen dan KEN, Jumat (8/3/2024).
Deon menyebut, puncak emisi yang tertunda membuat Indonesia harus mengakselerasi transisi energi dalam kurun waktu yang lebih pendek (setelah 2035), sehingga biaya dan dampak sosial akan lebih besar dan sulit dimitigasi.
Draf RPP KEN ini juga dipandang berdampak pada perspektif berbagai aktor, seperti investor dan pengembang energi terbarukan, terkait keseriusan pemerintah untuk mendorong pengembangan energi terbarukan.
“Hal ini juga menandai bahwa penurunan target bauran energi primer pada 2025 dan 2030, terutama porsi energi terbarukan seperti surya dan angin, dapat menghambat gotong royong transisi energi. Pasalnya, energi terbarukan yang bisa memungkinkan demokratisasi energi seperti energi surya, porsinya kecil,” paparnya.
Menurut Deon, dukungan lebih besar justru diberikan ke proyek skala besar seperti pembangkit fosil dengan teknologi penyimpanan karbon atau Carbon Capture Storage (CCS), maupun nuklir. Maka dari itu, draf RPP KEN dianggap kurang memihak transisi energi bersama masyarakat.
Sementara dari segi pendanaan, Deon menyebut penurunan target ini akan membuat masyarakat dunia melihat investasi di Indonesia lebih berisiko, dikarenakan kebijakannya yang inkonsisten alias bisa berubah sewaktu-waktu.
“Artinya pendanaannya akan lebih sulit. Orang mungkin akan tidak mau menanamkan investasi di Indonesia dalam bidang EBT. Jadi semakin sulit untuk mencapai targetnya,” tegas Deon.
Baca Juga
Menteri ESDM Pastikan Target Bauran EBT 23% Berlanjut di 2025

