Indonesia-UEA Jalin Kerja Sama Kembangkan 62 GW EBT
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia menjalin kerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengembangkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 62 Gigawatt (GW). Pengembangan ini mencakup sumber energi solar, hidro atau air, dan geotermal.
“Kita punya potensi clean energy sebesar 3.600 GW. Ini termasuk solar panel,” ujar Menko Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan usai diskusi di Jakarta, Senin (25/09/2023).
Baca Juga
Potensi Listrik 572 MWP, Semen Indonesia (SMGR) Gandeng PLN Garap EBT
Kerja sama itu dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Upaya lain adalah penanaman mangrove di bibir pantai dan pengurangan deforestasi.
Indonesia juga akan mendorong 46 negara kepulauan yang hadir dalam KTT Archipelagic and Island States (AIS) 2023 untuk bekerja sama dalam mengatasi perubahan iklim. KTT diselenggarakan di Bali, 11 Oktober 2023.
Baca Juga
Industri Migas RI Terjepit Isu Geopolitik dan Perubahan Iklim
“Diharapkan negara-negara kepulauan di dunia, yang sebagian besar merupakan negara berkembang, dapat bersama-sama dengan Indonesia melakukan mitigasi perubahan iklim yang sudah mengancam di depan mata. Sudah waktunya Indonesia memperkuat posisinya di dunia. Jika pada waktu Konferensi Asia-Afrika di Bandung dulu spiritnya dekolonisasi, sekarang prosperity dan equality,” imbuh Luhut.
Perubahan iklim, lanjut Luhut, merupakan ancaman serius bagi negara-negara kepulauan. Hal ini dapat menyebabkan naiknya permukaan laut dan tenggelamnya pulau-pulau.
Optimalkan Ekonomi Biru
Sementara itu, dalam forum yang sama, Plt Staf Ahli Bidang Ekososbud Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Hendra Yusran Siry menyebut pemerintah telah menetapkan kebijakan ekonomi biru. Kebijakan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam laut dan pesisir secara berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Kebijakan terdiri dari lima pilar. Ini mencakup penambahan luas kawasan konservasi laut; penangkapan ikan terukur berbasis kuota; pengembangan perikanan budidaya di laut, pesisir, dan darat yang berkelanjutan; pengawasan dan pengendalian wilayah pesisir dan pulau kecil; serta pengelolaan sampah plastik di laut,” paparnya.
Dia melanjutkan, tantangan besar yang dihadapi Indonesia adalah mengoptimalkan potensi ekonomi biru di tengah ancaman perubahan iklim. Sebab, perubahan iklim tidak hanya menyebabkan naiknya permukaan laut, tetapi juga penurunan muka tanah.
Di beberapa daerah di Indonesia, penurunan muka tanah telah terjadi secara signifikan. Hal ini dapat memperburuk ancaman tenggelamnya pulau-pulau.
Sedangkan CEO Landscape Indonesia Agus Sari menekankan bahwa ekosistem ekonomi biru itu harus dibicarakan secara komprehensif. “Indonesia memiliki luas wilayah laut yang besar dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, potensi ini dibayangi oleh berbagai tantangan, seperti kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan sampah,” ujar dia.
Agus menilai bahwa pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa kemajuan dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Namun, masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk mewujudkan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Baca Juga

