Gawat! Masyarakat Indonesia Kembali Gandrungi Rumah Tapak, Dirut BTN Kasih Usulan Begini
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Nixon Napitupulu mengungkapkan, masyarakat Indonesia kini kembali menggandrungi rumah tapak (landed house). Padahal, dulu, animo untuk memiliki hunian vertikal atau high-rise (apartemen) sangat tinggi.
“Hari ini animonya balik lagi ke zaman dulu, landed house. Market-nya begitu,” tutur Nixon Napitupulu dalam acara buka puasa bersama pimpinan redaksi (pemred) media massa di Jakarta, Selasa (2/4/2024).
Menurut Nixon, tingginya animo masyarakat untuk memiliki rumah tapak dibanding apartemen harus diantisipasi. Soalnya, fenomena tersebut bakal melahirkan masalah dalam jangka panjang, baik di sektor perumahan, maupun sektor-sektor lainnya, terutama sektor pertanian.
“Emang ini masalah banget. Untuk jangka panjang, ini nggak bener. Kami sedang mendiskusikannya dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” ujar dia.
Baca Juga
Pangkas Backlog, BTN Minta Tambahan FLPP dan Pelonggaran Kriteria Penerima KPR Subsidi
Nixon menjelaskan, tingginya animo masyarakat untuk memiliki rumah tapak akan menyebabkan lahan pertanian terus menyempit karena terpakai untuk perumahan. “Lahan banyak terpakai, lama-lama sawah habis, ketahanan pangan nasional terancam,” tegas dia.
Untuk mencegah hal itu, kata Dirut BTN, pemerintah dan para pelaku industri properti perlu kembali menggalakkan kampanye pentingnya memiliki rumah vertikal. Selain itu, pemerintah perlu memberikan stimulus untuk mendorong masyarakat membeli apartemen alih-alih rumah tapak.
“Memang mesti ada campaign pemerintah atau stimulus untuk mendorong orang kembali ke high-rise. Jadi, hemat lahan, terjadi efisiensi lahan, sehingga sawah tidak terus berkurang,” tandas dia.
Dia mencontohkan, lahan pertanian di daerah Purawakarta dan Karawang yang dulu dikenal sebagai lumbung padi, kini makin berkurang karena terpakai untuk kawasan perumahan dan industri. Bahkan, rumah subsidi sudah bertebaran di kawasan tersebut.
Baca Juga
Bos BTN Ungkap Persoalan di Pemenuhan Backlog Perumahan, Cek
“Indonesia memang luas, tetapi 70%-nya air. Daratan kita nggak bertambah, segini-segini aja. Itu lama-lama habis oleh perumahan kalau policy-nya dalam jangka panjang nggak diatur,” papar dia.
Stimulus atau insentif fiskal, menurut Nixon Napitupulu, dibutuhkan agar harga hunian vertikal lebih terjangkau masyarakat. Dengan begitu pula, defisit atau backlog rumah bisa ditekan. “Jadi, harus ada stimulus lagi di high-rise building project,” tutur dia.
