Mimpi Wujudkan Mobil Hidrogen Masih Panjang
JAKARTA, investortrust.id – Mimpi untuk mewujudkan mobil hidrogen yang ideal mungkin masih panjang. Mobil hidrogen atau fuel cell electric vehicle (FCEV) hingga kini masih menghadapi tantangan berat sehingga belum layak untuk diproduksi massal, meskipun memiliki berbagai keunggulan.
Demikian terungkap dari wawancara investortrust.id dengan pakar otomotif ITB Yannes Pasaribu, Sabtu (16/3/2024).
Yannes menerangkan, kendala yang saat ini dihadapi mobil hidrogen dalah biaya yang tinggi untuk produksi hidrogen itu sendiri, komponen kendaraan yang lebih kompleks dan mahal, serta infrastruktur pengisian yang belum merata.
“Hal itu membuatnya kurang menarik dibandingkan dengan mobil listrik (HEV/PHEV/BEV) untuk sebagian besar konsumen,” kata dia.
Meskipun, Yannes menyebut bahwa FCEV menawarkan waktu pengisian bahan bakar hidrogen yang cepat dan jarak tempuh yang lebih jauh. Faktor-faktor kelebihan ini belum cukup untuk mengatasi hambatan awalnya.
“Di level global, jenis merek, dan penjualan FCEV juga masih terbatas, dengan adopsi terfokus pada beberapa wilayah yang mendukung melalui insentif dan investasi infrastruktur,” ujarnya.
Dalam pandangan Yannes, jika teknologi combustion-nya berhasil dikembangkan, mobil hidrogen akan memiliki potensi besar di masa depan. Terutama jika infrastruktur pengisian hidrogen terus berkembang dan teknologi motor bakar khsusus untuk hidrogen dapat dikembangkan menjadi lebih matang dan terjangkau.
Dia menilai, inisiatif dari Pertamina dan PLN untuk membangun stasiun pengisian hidrogen merupakan langkah positif yang dapat meningkatkan adopsi hidrogen ICE di Indonesia. Langkah tersebut juga dapat memperluas pilihan kendaraan ramah lingkungan bagi konsumen dan mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.
Yannes berpendapat, pengembangan Hydrogen Internal Combustion Engine (HICE) secara teknologi memungkinkan. HICE adalah mesin pembakaran internal yang menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar, bukan bensin atau solar. Teknologi HICE masih tergolong baru dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut, sehingga saat ini masih dalam tahap prototipe.
“Kesuksesan ekosistem hidrogen juga akan bergantung pada dukungan pemerintah, penelitian dan pengembangan, serta kolaborasi antarindustri,” tegasnya.
Tonggak bersejarah pengembangan ekosistem mobil hidrogen ditandai dengan aksi PT Pertamina (Persero) melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) hydrogen refueling station (HRS) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Daan Mogot, Jakarta, Januari 2024.
Sekitar sebulan setelah Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyusul dengan peresmian HRS atau stasiun pengisian kendaraan hidrogen (SPKH) yang berlokasi di Senayan, Jakarta, Rabu (21/2/2024). Langkah ini merupakan tindak lanjut inovasi PLN sebelumnya, yaitu pengoperasian 21 unit green hydrogen plant (GHP) yang tersebar di Indonesia pada November 2023.
Baca Juga
