Potensi Pasar Ikan Nila Global Bisa Capai Rp340,8 Triliun, Bisa Dorong Ekonomi Domestik
JAKARTA, Investortrust.id - Merujuk data Future Market Insights 2023, di tahun ini potensi pasar ikan nila (tilapia) global diperkirakan nilainya mencapai US$13,9 miliar. Diprediksi 10 tahun ke depan, potensi nilainya akan meningkat menjadi US$21,6 miliar atau setara dengan Rp340,8 triliun.
Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu usai melakukan pengukuhan dan pelantikan pengurus pusat Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), seperti dikutip dari laman KKP, Kamis (16/11/2023).
“Tilapia memiliki potensi besar dikembangkan. Pasalnya potensi pasar atau global market value ikan nila begitu besar. Merujuk data Future Market Insights 2023, di tahun ini potensi pasar ikan nila global diperkirakan nilainya mencapai US$13,9 miliar. Diprediksi 10 tahun ke depan, potensi nilainya akan meningkat menjadi US$21,6 miliar. Ini peluang yang luar biasa dan besar, potensi budidaya tilapia dapat meningkatkan perekonomian negara,” jelas pria yang akrab dipanggil Tebe ini.
Baca Juga
Tampil di BISFE 2023 Busan, Produk Perikanan Indonesia Raup Potensi Transaksi USD 2,57 Juta
Dalam mendorong peningkatan produksi tilapia Indonesia, KKP saat ini telah membangun Modeling Budi Daya Nila Salin Berbasis Kawasan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang. Modelling ini harapannya bisa menjadi proyek percontohan klaster budidaya ikan nila salin.
“Modeling Budi Daya Ikan Nila Salin (BINS) ini dibangun sebagai salah satu upaya dalam rangka mencapai target produksi ikan nila nasional di tahun 2024 sebesar 2,46 juta ton atau senilai Rp61,2 triliun. Selain itu sebagai upaya pemerintah pusat dalam mendorong peningkatan produktivitas tambak idle di Pantura Jawa. Agar perekonomian di wilayah tersebut menggeliat, tenaga kerja juga akan meningkat dan multiplier effect terus tumbuh,” harap Tebe.
Merujuk dari Satu Data KKP, adanya penurunan produktivitas tambak di Pantura akibat penurunan daya dukung yang diperkirakan mencapai luas 78.600 ha. Menyikapi hal tersebut, pemerintah terus berupaya agar produktivitas tambak idle terus meningkat yaitu menawarkan budidaya ikan nila salin sebagai salah satu solusi untuk permasalahan tambak idle tersebut. Dikarenakan kemampuan ikan nila salin yang telah terbukti dapat tumbuh dengan baik pada salinitas tinggi.
Baca Juga
Akses Ekspor Langsung Produk Perikanan ke Hong Kong Dibuka dari Sulsel
Dirjen Tebe menambahkan pembangunan model percontohan budidaya ikan nila salin yang diterapkan adalah berbasis darat (land based), dan bukan danau (lake based). Sehingga model percontohan tersebut selain dengan memperhitungkan keuntungan finansial, juga tetap mengedepankan ekologi.
Sebagai Informasi, Indonesia memiliki sejumlah negara tujuan ekspor utama dimana Amerika Serikat (USA) menduduki posisi teratas dengan pangsa pasar mencapai 62% (7.088 ton) dari total ekspor ikan nila Indonesia. Ini menunjukkan seberapa signifikan peran USA dalam menyerap produksi ikan nila Indonesia ke pasar internasional. Berdasarkan bentuk produk, impor tilapia ke AS didominasi dalam bentuk filet beku dengan pangsa pasar 66%. Selain Amerika Serikat, negara tujuan ekspor nila Indonesia adalah Kanada (14%) dan Uni Eropa (8%).

