Orasi Ilmiah di Universitas Paramadina, Sandiaga Uno: Hampir 20% Anak Muda Indonesia Masuk Kelompok NEET
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pengusaha nasional, Sandiaga Salahuddin Uno mengingatkan, hampir 20% anak muda Indonesia masuk kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training), yakni kelompok yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.
Persoalan NEET menjadi sorotan Sandiaga Uno saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Wisuda ke-45 Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu (7/11/2026). “Kondisi ini mencerminkan besarnya tantangan ketenagakerjaan nasional, sekaligus menunjukkan potensi generasi muda yang belum tergarap secara produktif,”kata Sandiaga.
Menurut Sandiaga Uno, para lulusan perguruan tinggi jangan hanya mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan peluang dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
"Apakah mencari kerja sekarang gampang atau susah? Susah atau susah banget?!" ujar Sandiaga, menggambarkan beratnya tantangan yang dihadapi pencari kerja di tengah tingginya pengangguran, terutama di kalangan anak muda.
Baca Juga
Ekonomi Tumbuh 5,29%, Angka Pengangguran & Kemiskinan Turun, Tapi Ketimpangan Membesar
Selain persoalan pengangguran, kata Sandiaga, Indonesia menghadapi tantangan middle-income trap (jebakan negara berpendapatan menengah) serta ketidaksesuaian kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Kondisi tersebut membuat potensi generasi muda belum sepenuhnya terserap dalam kegiatan ekonomi produktif,” tutur dia.
Pengusaha yang akrab disapa Sandi itu mengungkapkan, besarnya kelompok NEET menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mendorong lulusan perguruan tinggi mencari pekerjaan.
"Hampir 20% dari anak-anak muda kita itu berada dalam kategori NEET. Tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan," ucap dia.
Karena itu, Sandi mendorong para lulusan Universitas Paramadina mengambil peran lebih besar dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan menggerakkan perekonomian.
Baca Juga
BPS: Tingkat Pengangguran Terbuka RI Turun Jadi 7,38 Juta Orang
“Generasi muda harus mampu mengubah tantangan ketenagakerjaan menjadi peluang untuk melahirkan kegiatan ekonomi baru,” ucap dia.
Integritas di Atas Kompetensi
Sandiaga Uno juga mengingatkan pentingnya integritas sebagai fondasi utama dalam membangun karier dan kepemimpinan. Kemampuan akademik dan keahlian profesional tidak akan cukup tanpa karakter yang kuat.
"Integritas adalah landasan dari kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang mumpuni kalau integritas tidak diperbaiki," tandas dia.
Sandiaga menggarisbawahi bahwa character over competence (karakter di atas kompetensi) sungguh penting di dunia kerja. Kejujuran, tanggung jawab, konsistensi, dan komitmen terhadap nilai moral harus berjalan beriringan dengan kecerdasan intelektual serta kemampuan profesional.
Dia menambahkan, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki pola pikir inovatif agar mampu menghadapi perubahan dan persaingan. "Mindset inovatif diperlukan untuk menghadapi tantangan dan mencari solusi, bukan sekadar mengeluh," ujar dia.
Menjadi Pencipta Lapangan Kerja
Di sisi lain, Sandiaga Uno mendorong para wisudawan Universitas Paramadina mengembangkan entrepreneurial mindset (pola pikir kewirausahaan). Semangat kewirausahaan tidak hanya dibutuhkan oleh mereka yang ingin mendirikan perusahaan sendiri. Semangat serupa diperlukan para pekerja di perusahaan, organisasi, maupun institusi publik.
"Entrepreneurship is not a profession, tapi entrepreneurship is a mindset. Sebuah pola pikir," tutur dia.
Dia menjelaskan, pola pikir kewirausahaan mendorong seseorang lebih proaktif, mampu membaca peluang, berani menghadapi tantangan, serta berorientasi pada pemecahan masalah. Dengan demikian, setiap individu dapat menciptakan nilai tambah melalui pekerjaan yang dijalankannya.
Sandiaga juga mengajak para lulusan Universitas Paramadina mengubah orientasi dari sekadar pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan kerja (job creator). "Mindset seorang pemenang adalah mindset inovasi," tegas dia.
Menurut Sandi, generasi muda seharusnya tidak hanya bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan, tetapi turut mengambil inisiatif untuk menciptakan peluang ekonomi baru.
Baca Juga
Tantangan Lapangan Kerja dan Biaya Hidup Generasi Muda Kini Makin Disorot
"Bukan menambah masalah dengan mencari pekerjaan, tapi kita memberikan solusi dengan mendorong terciptanya lapangan pekerjaan," ucap dia.
Bekal 4AS dan 3SI
Menutup orasi ilmiahnya, Sandiaga mengajak para wisudawan menerapkan etos kerja 4-as”, yakni kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Selain itu, dia mendorong penerapan prinsip 3-“si” yang mencakup inovasi, adaptasi, dan kolaborasi sebagai bekal menghadapi persaingan dan perubahan dunia kerja.
Sandi mengemukakan, para wisudawan harus membangun budaya kerja keras, sekaligus mengembangkan kemampuan berinovasi, beradaptasi, dan berkolaborasi. Inovasi diperlukan untuk menghasilkan gagasan dan solusi baru, sedangkan adaptasi menjadi kemampuan penting dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis dan perkembangan teknologi.
“Adapun kolaborasi membuka peluang untuk membangun sinergi dan menghasilkan capaian yang lebih besar,” tandas dia.
Sandiaga berpandangan, keberhasilan seorang sarjana tidak semata-mata diukur dari jabatan, posisi, maupun pencapaian material. "Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Betul atau betul?!" ujar dia.
