Indonesia Punya 65 Cekungan Migas yang Belum Dijelajahi, Investor Global Merapat!
Poin Penting
|
ABU DHABI, Investortrust.id - Indonesia menawarkan 65 cekungan sedimen yang belum dieksplorasi kepada investor global dalam ajang Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026 di ADNEC Centre Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2–5 November 2026. Melalui peluang eksplorasi dan kerja sama strategis, pemerintah membidik peningkatan investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) menjadi US$ 17,87 miliar pada 2026 atau sekitar Rp 285,9 triliun.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan tawaran tersebut saat pembukaan Indonesia Pavilion di ADIPEC 2026. Indonesia mengusung tema "Indonesia: A Strategic Horizon for Your Global Energy Investment" untuk memperkenalkan peluang investasi dan memperluas kemitraan dengan perusahaan energi internasional.
Djoko mengatakan Indonesia memiliki potensi eksplorasi yang masih luas dan membutuhkan dukungan modal, teknologi, serta kemitraan internasional untuk mengoptimalkannya.
Baca Juga
Kolaborasi Regional ASEAN Jadi Langkah Penting Reduksi Emisi Metana di Industri Migas
"Saya menekankan bahwa Indonesia membuka peluang yang lebar bagi investasi global. Kami menyambut hangat mitra-mitra internasional yang berminat untuk terlibat dalam pengembangan industri hulu migas Indonesia. Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen, termasuk 65 cekungan yang belum dieksplorasi. Potensi ini membuka peluang bagi investor global untuk berpartisipasi dalam pengembangan hulu migas Indonesia," ujarnya dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).
Menurut Djoko, dukungan investasi dan teknologi akan membantu mendorong penemuan sumber daya baru, menjaga keberlanjutan produksi, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Pembukaan Indonesia Pavilion turut dihadiri Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab Judha Nugraha, Wakil Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Stella Christie, Anggawira yang mewakili Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kepala Badan Pengelola Migas Aceh Mawardi Nur, serta Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi Sunaryanto yang mewakili PT Pertamina (Persero).
Djoko mengatakan, salah satu modal Indonesia untuk menarik investor adalah keberhasilan eksplorasi yang menghasilkan sejumlah temuan migas berskala besar dalam beberapa tahun terakhir. Dia mencontohkan temuan sumur gas Geliga-1 di Blok Ganal oleh perusahaan energi asal Italia, Eni, pada April 2026. Temuan tersebut diperkirakan memiliki sumber daya awal di tempat atau inplace sekitar 5 triliun kaki kubik gas dan 300 juta barel kondensat.
Kondensat merupakan hidrokarbon cair yang ditemukan bersama gas alam dan memiliki nilai ekonomi sebagai bahan baku industri maupun produk energi.
Temuan Geliga-1 melanjutkan keberhasilan eksplorasi sebelumnya, antara lain Geng North-1 dan Konta-1 oleh Eni di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Wilayah tersebut kini menjadi bagian dari portofolio Searah Muara Bakau. Selain itu, terdapat temuan Layaran-1 dan Tangkulo-1 oleh Mubadala Energy di Wilayah Kerja South Andaman.
Rangkaian temuan tersebut meningkatkan prospek pengembangan sumber daya migas Indonesia. Hingga September 2026, contingent resources atau sumber daya migas yang telah ditemukan tetapi belum masuk kategori cadangan terbukti dan masih memerlukan tahapan pengembangan telah mencapai 1.497,4 juta barel setara minyak. Jumlah tersebut setara 230% dari target tahunan. SKK Migas memperkirakan pencapaiannya dapat meningkat menjadi 250% pada akhir 2026.
SKK Migas juga memproyeksikan reserve replacement ratio (RRR) mencapai 221,4% pada akhir tahun ini. RRR merupakan rasio penggantian cadangan yang membandingkan penambahan cadangan baru dengan volume migas yang telah diproduksikan.
Pemerintah Tawarkan Fleksibilitas Kontrak
Selain potensi geologi, Indonesia juga menawarkan sejumlah skema bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan industri hulu migas. Peluang tersebut mencakup pengembangan wilayah kerja yang sudah beroperasi, optimalisasi aset migas, hingga skema kemitraan farm-in dan farm-out.
Skema farm-in memungkinkan perusahaan masuk sebagai mitra dalam suatu wilayah kerja, sedangkan farm-out memberikan kesempatan kepada pemegang hak pengelolaan untuk mengalihkan sebagian kepentingannya kepada mitra lain.
Pemerintah juga menyediakan pilihan skema kontrak bagi hasil gross split dan cost recovery sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 13 Tahun 2024 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split di Sektor Minyak dan Gas Bumi.
Dalam skema gross split, pembagian hasil produksi dilakukan berdasarkan persentase yang disepakati dalam kontrak. Sementara itu, skema cost recovery memungkinkan kontraktor memperoleh penggantian biaya operasi sesuai ketentuan kontrak setelah memenuhi persyaratan yang berlaku.
Djoko mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan daya saing iklim investasi melalui penyederhanaan proses administrasi dan fleksibilitas kerja sama. "Kami siap memfasilitasi dan memberikan kemudahan dalam proses perizinan, mempercepat pengambilan keputusan dan memberikan fleksibilitas fiskal untuk mengakomodasi kerja sama internasional yang semakin baik," kata Djoko.
Upaya tersebut diarahkan untuk memberikan kepastian dan kemudahan bagi perusahaan energi global yang ingin mengembangkan portofolio bisnisnya di Indonesia.
Empat Kerja Sama Diteken di ADIPEC
Partisipasi Indonesia di ADIPEC 2026 juga menghasilkan penandatanganan sejumlah kerja sama internasional. Pada hari pertama penyelenggaraan, Indonesia Pavilion menjadi lokasi penandatanganan empat kesepakatan strategis yang melibatkan perusahaan Indonesia dan mitra asing. Kerja sama pertama berupa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara PT Pertamina Drilling Services Indonesia dan Halliburton Worldwide Ltd.
Kesepakatan kedua berupa kontrak time charter offshore support vessel antara PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari (ELPI Samudra Offshore) dan Atlantic Maritime Group FZE. Kontrak tersebut berkaitan dengan penyediaan kapal pendukung untuk kegiatan lepas pantai.
Kerja sama ketiga melibatkan PT Hidrokinetik Indo Pacific dan Tara Industries LLC. Kedua perusahaan sepakat menjajaki pendirian perusahaan baru yang bergerak di bidang surveying and mapping atau survei dan pemetaan berbasis di Abu Dhabi. Perusahaan tersebut akan melayani kebutuhan industri minyak dan gas bumi serta industri kabel bawah laut di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara atau Middle East and North Africa (MENA).
Sementara itu, kerja sama keempat melibatkan PT Luas Birus Utama dan Tara Industries LLC untuk promosi dan penerapan STARSEMAR Chemical Reservoir Stimulation. Teknologi stimulasi reservoir digunakan untuk meningkatkan kemampuan produksi minyak dan gas dari suatu lapangan.
Baca Juga
Pertamina Dorong Kolaborasi Kawasan Perkuat Hulu Migas di ASCOPE Ke-51
Penawaran investasi di ADIPEC 2026 berlangsung ketika tren penanaman modal di sektor hulu migas Indonesia menunjukkan peningkatan. SKK Migas mencatat investasi hulu migas mencapai US$ 14,9 miliar atau sekitar Rp 238,4 triliun sepanjang 2025. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$ 17,87 miliar atau sekitar Rp 285,9 triliun pada 2026. Jika tercapai, nilai investasi tersebut akan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Djoko mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam ADIPEC menjadi salah satu upaya untuk memperluas sumber investasi dan memperkuat kemitraan dengan perusahaan energi internasional.
"Tren investasi hulu migas Indonesia menunjukkan momentum yang positif. Pada 2025, investasi mencapai US$ 14,9 miliar dan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 17,87 miliar pada 2026, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Melalui ADIPEC, kami berharap dapat memperkuat momentum ini dengan membuka lebih banyak peluang kemitraan dan menarik investasi baru untuk mendukung pencapaian proyeksi tersebut," ujar Djoko.
Indonesia membawa dukungan 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 perusahaan dalam negeri dalam penyelenggaraan ADIPEC 2026.
