Catatkan Lonjakan Kinerja, EBITDA Chandra Asri (TPIA) Berbalik Positif Hampir US$ 1 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan peningkatan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan perusahaan meningkat menjadi hampir US$ 8,2 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 5 miliar.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Suryandi mengatakan, peningkatan kinerja tersebut merupakan hasil dari strategi pengembangan bisnis dan diversifikasi yang dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Selain pendapatan, kinerja EBITDA perusahaan juga menunjukkan perbaikan signifikan. Dari sebelumnya mencatatkan EBITDA negatif US$ 32 juta pada 2025, Chandra Asri berhasil membukukan EBITDA hampir US$ 1 miliar pada sembilan bulan pertama 2026.
Baca Juga
Proyek CA-EDC Capai 85%, Chandra Asri (TPIA) Siap Perkuat Pasokan Bahan Baku Industri Nasional
"Ini memberikan satu gambaran bahwa strategi pertumbuhan Chandra Asri yang kita lakukan secara disiplin dan prudent itu memberikan hasil yang positif," ujar Suryandi dalam pemaparan kinerja dan strategi perusahaan pada diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Menurut Suryandi, peningkatan pendapatan salah satunya ditopang oleh kontribusi Aster, perusahaan energi dan petrokimia di Singapura yang diakuisisi Chandra Asri bersama Glencore pada 2025.
Akuisisi tersebut efektif dikonsolidasikan pada Mei 2025 sehingga kontribusinya terhadap pendapatan sepanjang tahun lalu belum mencerminkan kinerja selama satu tahun penuh. Pada 2026, kontribusi bisnis Aster tercatat secara lebih penuh dalam laporan keuangan konsolidasi perusahaan.
Dia menjelaskan, pengembangan bisnis melalui akuisisi dan diversifikasi menjadi bagian dari strategi Chandra Asri untuk memperkuat sumber pendapatan. Pasalnya, industri petrokimia memiliki karakteristik siklikal yang membuat kinerjanya rentan terhadap perubahan harga minyak, keseimbangan pasokan dan permintaan, serta kondisi geopolitik global.
"Revenue, tadi saya cerita mengenai infrastruktur memberikan revenue stream yang baru. Dengan adanya Aster yang kita akuisisi tahun 2025 secara efektif kita handover ke kita itu di Mei 2025, jadi tahun 2025 belum tercatat full, tahun ini tercatat full," jelasnya.
Lebih lanjut, Suryandi menjelaskan bahwa perbandingan kinerja keuangan 2025 dan 2026 perlu memperhitungkan adanya pencatatan negative goodwill sekitar US$ 1,7 miliar dari transaksi akuisisi aset Shell di Singapura.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Perbesar Anggaran Buyback Jadi Rp 2 Triliun, Bidik 1,6 Miliar Saham
Pencatatan tersebut merupakan keuntungan akuntansi satu kali yang muncul karena nilai akuisisi aset berada jauh di bawah nilai valuasinya. Faktor tersebut memengaruhi perolehan bottom line atau laba komprehensif perusahaan pada 2025.
Untuk itu, Chandra Asri mengeluarkan dampak negative goodwill dalam penyajian perbandingan kinerja agar pertumbuhan operasional perusahaan dapat terlihat lebih proporsional.
"Kalau dibandingkan sama 2025, misalnya net income-nya, pasti kelihatan turun. Tapi itu tidak apple to apple. Saya harus keluarkan itu dulu agar supaya kelihatan pertumbuhannya seperti apa," ungkap Suryandi.
