Harga Emas Dunia Naik Tipis, The Fed Bayangi Pemulihan Logam Mulia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia bergerak naik tipis pada perdagangan awal Asia, Senin (2/11/2026), tetapi masih berada di dekat level terendah dalam 1 tahun terakhir. Kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) dan peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kembali menekan daya tarik logam mulia tersebut.
Harga emas spot naik 0,5% menjadi US$ 3.894,89 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,1% menjadi US$ 3.903,90 per ons. Meski mencatatkan kenaikan pada awal perdagangan, harga emas masih bergerak di sekitar posisi terendah sejak Oktober 2025 yang tercapai pada sesi sebelumnya. Pada Jumat (30/10/2026), harga emas bahkan sempat jatuh di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons.
Analis Commerzbank dalam catatannya pada Jumat menjelaskan tekanan terhadap emas terjadi di tengah penurunan tajam saham teknologi. Kondisi tersebut memicu aksi jual paksa pada sejumlah aset, termasuk emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
Baca Juga
Kilau Emas Antam (ANTM) Kembali Menguat, Harga Naik Rp 20.000
Tekanan juga muncul akibat kebutuhan investor memenuhi kewajiban tambahan jaminan transaksi atau margin call. Kondisi ini membuat sebagian investor terpaksa melepas kepemilikan emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Sentimen negatif terhadap emas semakin kuat setelah 3 pejabat The Fed pada Jumat menyampaikan alasan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi yang masih tinggi. Data ekonomi AS juga memperlihatkan tekanan inflasi meningkat pada September 2026. Konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lainnya.
Perkembangan tersebut memperkuat perkiraan ekonom bahwa The Fed berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai sekitar 75%.
Ekspektasi tersebut menjadi tantangan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dana pada instrumen berbunga seperti obligasi dan deposito. Kondisi itu meningkatkan biaya peluang atau opportunity cost dalam memegang emas. Akibatnya, sebagian investor dapat mengalihkan dana dari emas ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Ketegangan Geopolitik dan Inflasi Eropa
Selain kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pelaku pasar. Negosiator Iran berada di Doha, Qatar, pada Minggu (1/11/2026) untuk menjalani hari ketiga pembicaraan dengan mediator Qatar. Pertemuan tersebut bertujuan mendorong kesepakatan untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran.
Informasi mengenai pembicaraan tersebut disampaikan seorang pejabat yang mengetahui jalannya diskusi kepada Reuters. Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, harga energi, dan permintaan terhadap aset lindung nilai.
Sementara itu, tekanan inflasi juga membayangi kawasan Eropa. Survei Peramal Profesional yang dirilis Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) pada Jumat menunjukkan inflasi zona euro diperkirakan jauh lebih tinggi pada tahun ini dan tahun depan dibandingkan perkiraan sebelumnya. Inflasi kawasan tersebut bahkan diperkirakan baru kembali mencapai target 2% ECB pada 2028.
Baca Juga
Produksi Emas Merdeka Gold (EMAS) Melonjak 69%, Target Produksi 2027 Bakal Terlampaui
Dari sisi permintaan fisik, pasar emas utama di Asia belum menunjukkan penguatan berarti sepanjang pekan sebelumnya. Di India, pembeli cenderung menunda transaksi karena memperkirakan harga emas masih berpotensi turun lebih lanjut. Sikap menunggu tersebut membuat aktivitas pembelian emas fisik belum pulih.
Permintaan di China, salah satu konsumen emas terbesar dunia, juga masih rendah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pasar emas ketika investor global menghadapi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga AS.
Pergerakan harga logam mulia lainnya justru menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Asia. Harga perak spot naik 1,2% menjadi US$ 49,6935 per ons. Harga platinum menguat 0,8% menjadi US$ 1.446,05 per ons, sedangkan paladium naik 1,1% menjadi US$ 986,76 per ons.
