Inalum Bidik Hilirisasi Aluminium untuk Bahan Baku Pesawat Terbang dan Baterai EV
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) membidik pengembangan industri material berteknologi tinggi, termasuk bahan baku pesawat terbang dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), sebagai bagian dari strategi memperdalam hilirisasi aluminium nasional.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Arif Haendra mengatakan aluminium yang selama ini diproduksi perusahaan masih merupakan produk antara yang perlu diolah lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah lebih besar bagi industri nasional.
Baca Juga
Menurut dia, pengembangan hilirisasi tidak cukup berhenti pada produksi aluminium, tetapi harus dilanjutkan ke produk turunan, seperti aluminium paduan (alloy), billet, kabel, hingga material khusus untuk kebutuhan industri berteknologi tinggi.
“Di kepala teman-teman MIND ID dan Inalum, sekarang itu bukan hanya membangun smelter, tapi mendalami hilirisasinya. Setelah nanti smelter jalan, kita ingin tidak akan memproduksi seperti Inalum lagi,” ujar Arif dalam pemaparannya pada Media Gathering 2026, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Kedua jenis material tersebut memiliki karakteristik yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan struktur pesawat terbang. Namun, pengembangannya membutuhkan peningkatan kemampuan teknologi dan penguasaan proses produksi agar dapat memenuhi kebutuhan industri.
Arif menilai, kemampuan memproduksi material dengan spesifikasi lebih tinggi akan membawa industri aluminium nasional naik kelas. Pasalnya, kebutuhan industri terus berkembang sehingga menuntut material dengan karakteristik yang semakin spesifik.
“Bahkan sekarang kita diminta untuk lebih berkembang ke arah advanced material. Itu untuk teknologi pertahanan, teknologi EV, baterai EV, kemudian teknologi semacam semikonduktor dan sebagainya,” ungkapnya.
Baca Juga
Selain industri penerbangan, Inalum melihat peluang penggunaan aluminium dalam rantai industri kendaraan listrik. Menurut Arif, aluminium masih digunakan pada berbagai bagian kendaraan listrik, termasuk komponen struktural dan bagian tertentu dalam sistem baterai.
Dia menyebutkan, kandungan aluminium dalam baterai kendaraan listrik dapat mencapai sekitar 40%. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya peluang pemanfaatan aluminium seiring perkembangan industri kendaraan listrik.
"Jadi di dalam baterai mobil, itu masih mengandung 40% aluminium. Meskipun dibilang dia litium, dibilang dia nikel, itu ada aluminiumnya. Braket kemudian di titik-titik tertentu itu masih mengandung aluminium, kurang lebih ada 40% aluminium di sana," terang Arif.
