KUR Perumahan Tembus Rp 28,34 Triliun, Renovasi Rumah Mendominasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mencatat realisasi penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR Perumahan mencapai Rp 28,34 triliun pada periode 1 Januari hingga 25 Oktober 2026. Penyaluran tersebut setara 69,67% dari target plafon Rp 40,67 triliun dengan total 117.946 debitur.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perumahan Perkotaan Kementerian PKP Sri Haryati menyatakan, pembiayaan dari sisi permintaan (demand) mendominasi penyaluran KUR Perumahan, terutama untuk renovasi rumah.
Berdasarkan data Kementerian PKP, pembiayaan dari sisi demand mencapai Rp 18,73 triliun atau 66,10% dari total realisasi. Penyaluran tersebut menjangkau 113.994 debitur.
Baca Juga
Prabowo Resmikan Akad Massal 62.000 Unit KPR Subsidi dan KUR Perumahan Rp 880 Miliar
Renovasi rumah menjadi kontributor terbesar dengan nilai pembiayaan Rp 13,85 triliun kepada 93.296 debitur. Selanjutnya, pembelian rumah menyerap Rp 2,91 triliun dengan 10.902 debitur, sedangkan pembangunan rumah untuk mendukung kegiatan usaha mencapai Rp 1,96 triliun dengan 9.796 debitur.
“Jadi kita mau menyampaikan bahwa KUR Perumahan itu juga bisa mendorong program 3 juta rumah karena dari sisi demand kan ada untuk renovasi, untuk bangun, untuk pembelian rumah,” kata Sri saat ditemui di Wisma Mandiri 2, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
Menurut dia, pembiayaan KUR Perumahan dari sisi permintaan dapat menambah dukungan terhadap program 3 juta rumah sekaligus mengurangi backlog perumahan. “Jadi itu benar-benar secara nyata menambah (capaian) program 3 juta rumah, mengurangi backlog,” ujar Sri.
Sementara itu, kata Sri, realisasi pembiayaan dari sisi penawaran (supply) mencapai Rp 9,60 triliun atau 33,90% dari total penyaluran. Pembiayaan tersebut menjangkau 3.952 debitur.
Penyaluran pada sisi supply terdiri atas pembiayaan pengembang perumahan sebesar Rp 5,54 triliun kepada 1.432 debitur, pedagang bahan bangunan sebesar Rp 2,98 triliun kepada 2.110 debitur, serta penyedia jasa konstruksi sebesar Rp 1,07 triliun kepada 410 debitur.
Baca Juga
Realisasi KUR Perumahan Tembus Rp 22,1 Triliun, Capai 57,8% dari Target
Sri menambahkan, pihaknya tidak menghitung kontribusi pembiayaan dari sisi supply sebagai tambahan capaian program 3 juta rumah. Hal ini dilakukan untuk menghindari penghitungan ganda (redundant) dengan program pembiayaan perumahan lainnya.
“Kalau yang suplai, itu kan dorongan. Jadi kita memang tidak menghitung di situ, karena bisa jadi nanti juga redundant atau sama dengan yang dilaporkan di FLPP atau PPN DTP. Jadi kita hati-hati betul ya terkait data,” jelas Sri.
