Boy Thohir: Indonesia–Tiongkok Bisa Lahirkan Raksasa Industri Hijau Dunia
Poin Penting
|
Kemitraan harus diwujudkan menjadi investasi nyata, lapangan kerja, dan kesempatan belajar bagi generasi muda Indonesia.
JAKARTA, Investortrust.id — Pengusaha Garibaldi “Boy” Thohir meyakini kerja sama Indonesia–Tiongkok dapat melahirkan perusahaan industri hijau yang mampu bersaing di tingkat global. Untuk mewujudkannya, hubungan baik kedua negara harus terus diterjemahkan menjadi investasi nyata yang menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemampuan industri, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Boy, yang juga menjabat Ketua Komite Tiongkok Kadin Indonesia, menegaskan komitmennya untuk mempertemukan pelaku usaha kedua negara dan mendorong realisasi kemitraan. Menurut dia, ketidakpastian global justru memperbesar kebutuhan untuk membangun hubungan bisnis yang kuat dan berjangka panjang.
“Saya terus bersemangat tanpa lelah ingin terus menjadi jembatan yang kokoh, jembatan yang baik, untuk mempererat dan merealisasikan semua bentuk kerja sama antara perusahaan-perusahaan di Indonesia dan perusahaan-perusahaan di Tiongkok,” ujar Boy dalam sambutannya di hadapan jajaran GEM dan para mitra usaha di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Dua nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) itu, masing-masing, adalah MoU antara Dayabumi dan International Green Industrial Park (IGIP), serta antara Dayabumi dan PT QMB New Energy Materials Indonesia (QMB). Kedua kesepahaman menjadi langkah awal untuk mengkaji pengembangan proyek dan memperluas pemanfaatan energi terbarukan bagi sektor industri.
Boy optimistis, perusahaan dari kedua negara dapat tumbuh menjadi pemain utama dunia apabila mampu menggabungkan kekuatan dan mewujudkan rencana bersama. Karena itu, Boy menekankan pentingnya menjaga kesinambungan kerja sama hingga menghasilkan kegiatan usaha yang konkret. “Kalau kerja sama kedua negara ini dapat terealisasi, perusahaan-perusahaan dari kedua negara akan menjadi champion di dunia,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Boy memberikan apresiasi kepada Chairman GEM, Profesor Xu Kaihua, atas pengembangan industri hijau di Indonesia. GEM merupakan kelompok usaha yang mengembangkan proyek kawasan industri hijau IGIP di Indonesia.
Baca Juga
Dayabumi–GEM Kembangkan Energi Bersih untuk Industri di Sulawesi Tengah
Menurut Boy, Xu dan GEM telah menunjukkan kemampuan mengubah visi menjadi proyek nyata. Ia menilai langkah tersebut sebagai contoh positif investasi Tiongkok di Indonesia dan berpotensi menjadi rujukan bagi kemitraan berikutnya.
Boy bahkan menyampaikan penghormatan secara terbuka kepada Xu karena dinilainya bergerak lebih cepat dalam mewujudkan kawasan industri hijau. Apresiasi itu berangkat dari pengalaman keduanya berbagi gagasan mengenai transformasi industri dan transisi energi. “Saya harus mengangkat topi dan memberi hormat kepada Profesor Xu karena sudah lebih cepat mewujudkan kawasan industri hijau dibandingkan saya,” ujar Boy.
Ia menilai kekuatan seorang pengusaha terletak pula pada kemampuan mengeksekusi gagasan. Dalam pandangannya, Xu dan GEM memperlihatkan kesungguhan tersebut melalui pengembangan proyek yang ia harapkan dapat menjadi contoh kerja sama industri berskala global.
Boy menyebut kawasan yang dikembangkan GEM sebagai salah satu proyek industri hijau terbaik dan terbesar di Indonesia menurut penilaiannya. Ia berharap keberhasilan proyek tersebut dapat memperlihatkan kepada dunia bahwa kemitraan Indonesia–Tiongkok mampu menghasilkan perusahaan besar dengan manfaat ekonomi yang luas. “Ini akan menjadi contoh nyata bahwa hasil kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia menciptakan perusahaan dengan skala global,” katanya.
Dari Pertambangan Menuju Industri Hijau
Boy menjelaskan, pengembangan industri hijau sejalan dengan visi transformasi kelompok usahanya. Berangkat dari bisnis pertambangan, ia ingin memperluas kegiatan usaha menuju industri yang lebih ramah lingkungan serta mendukung peralihan menuju energi hijau. “Visi saya adalah bagaimana grup saya bisa bertransformasi, yang tadinya di pertambangan, menjadi lebih hijau dan bertransisi kepada energi hijau,” ujarnya.
Salah satu visi yang disampaikannya adalah membangun kawasan industri hijau di Kalimantan Utara. Kawasan tersebut direncanakan menggunakan energi listrik tenaga air sebagai sumber pasokan energinya.
Menurut penuturan Boy, kesamaan pandangan mengenai arah pengembangan industri itu menjadi bagian penting dari hubungannya dengan Xu. Keduanya berdiskusi mengenai peluang membangun kegiatan industri yang memanfaatkan energi lebih bersih.
Boy juga mengenang perjalanan bersama Xu untuk melihat pembangkit listrik tenaga air di Tiongkok. Kunjungan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang ia ingat ketika membicarakan rencana kawasan industri hijau dan dukungan energi yang dibutuhkan.
Dalam ingatannya, gagasan Xu mengenai pengembangan kawasan industri tersebut belum mengemuka pada awal percakapan mereka. Namun, sekitar enam bulan kemudian, Xu sudah menunjukkan rencana pengembangannya. Kemajuan itulah yang membuat Boy mengapresiasi kecepatan mitranya dalam bergerak.
Bagi Boy, pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya kemampuan menjalankan rencana. Visi besar memerlukan komitmen dan tindak lanjut agar dapat berkembang menjadi kegiatan industri yang menghasilkan manfaat.
Persahabatan dan Kesamaan Nilai
Dalam sambutannya, Boy juga menceritakan sisi personal yang melandasi hubungan bisnisnya dengan Xu. Ia mengatakan hadir dalam tiga kapasitas sekaligus: sebagai Ketua Komite Tiongkok Kadin Indonesia, sebagai ayah dari putranya, Gama, dan sebagai sahabat Xu.
Hubungan persahabatan itu tumbuh sejak kunjungan awal Boy ke Tiongkok. Setelah tiba di Wuhan dan melanjutkan perjalanan darat menuju tempat pertemuan, ia baru sampai di hotel sekitar pukul satu dini hari. Xu ternyata hadir langsung untuk menyambutnya.
“Saya tidak akan lupa. Begitu saya sampai di hotel, mungkin pukul satu tengah malam, Profesor Xu menyambut saya dengan kehadiran beliau secara langsung,” tutur Boy.
Xu kemudian mengajaknya makan di restoran yang menyajikan makanan kesukaannya, sate kambing. Sambutan hangat tersebut meninggalkan kesan mendalam. Sejak pertemuan itu, Boy merasakan adanya kecocokan yang dapat menjadi dasar persahabatan sekaligus kemitraan bisnis jangka panjang.
Kecocokan tersebut, menurut dia, berkembang menjadi kesamaan nilai. Boy melihat Xu sebagai pengusaha yang memperhatikan karyawan, lingkungan, pendidikan, serta kontribusi dunia usaha terhadap negara. “Kami bukan saja sebagai pengusaha yang berhasil, tetapi juga mencerminkan sosok pengusaha yang peduli terhadap karyawan, lingkungan, dan negaranya,” ujarnya.
Boy juga mengapresiasi perhatian Xu terhadap pendidikan. Ia menilai kesediaan seorang pengusaha untuk mendidik dan membagikan pengetahuan menjadi kualitas penting, terutama dalam membangun generasi penerus dunia usaha.
Kesamaan visi dan nilai itulah yang memperkuat keinginannya untuk terus menjalin kemitraan. Bagi Boy, hubungan bisnis jangka panjang membutuhkan kepercayaan serta pandangan yang sejalan mengenai tanggung jawab perusahaan.
Kesempatan Belajar bagi Pengusaha Muda
Boy menyambut baik peluang putranya, Gama, untuk bekerja sama dengan Xu. Ia mengatakan kesempatan tersebut memiliki nilai penting sebagai ruang belajar dari pengusaha yang berpengalaman mengembangkan industri dan menjalankan transformasi bisnis.
Menurut Boy, Gama melihat peluang usaha sekaligus kesempatan memperluas pengetahuan. Melalui kerja sama tersebut, ia berharap putranya dapat belajar mengenai pengembangan industri hijau dan cara membangun perusahaan yang memberikan kontribusi bagi negara.
“Selain melihat peluang bisnis, Gama juga melihat bahwa ini kesempatan untuk bisa belajar dengan Profesor Xu. Pada hari ini, saya minta tolong kepada Profesor Xu, anggap saja Gama ini menjadi putranya,” ujar Boy.
Ia berharap semangat serupa tumbuh di kalangan pengusaha muda Indonesia. Keinginan untuk maju perlu disertai kesediaan belajar dan membangun kemitraan dengan perusahaan yang memiliki pengalaman serta keahlian.
Boy menilai kerja sama dengan pelaku industri yang menguasai bidang transisi hijau dapat membantu generasi muda memperkuat kemampuan mereka. Bekal tersebut diharapkan menjadi dasar untuk mengembangkan usaha dan memperbesar kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.
Dorong Dukungan bagi Realisasi Proyek
Sebagai bentuk dukungannya, Boy menyampaikan keinginan untuk mengupayakan kehadiran Bahlil Lahadalia dalam peresmian awal atau soft opening proyek. Ia juga menyatakan akan berusaha agar peresmian penuh dapat dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Saya akan berupaya dengan sekuat tenaga, bersama Pak Bahlil, untuk peresmian penuhnya nanti. Saya akan melobi supaya Presiden Prabowo yang meresmikan,” katanya.
Pernyataan tersebut merupakan rencana yang ingin diperjuangkan Boy. Dalam sambutannya, ia tidak menyampaikan kepastian jadwal ataupun konfirmasi kehadiran pejabat pada peresmian.
Boy menilai skala proyek, potensi penyerapan tenaga kerja, dan konsep industri hijau yang dikembangkan menjadi alasan penting untuk memberikan dukungan. Menurut dia, proyek semacam itu dapat menunjukkan manfaat nyata investasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama industri internasional.
Ia berharap kemitraan yang dibangun bersama GEM membuka jalan bagi lebih banyak kolaborasi. Keberhasilan satu proyek, dalam pandangannya, dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk membangun kerja sama yang serupa.
Di tengah situasi dunia yang penuh tantangan, Boy menegaskan keyakinannya terhadap masa depan hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok. Ia berharap hubungan tersebut terus diperkuat melalui kegiatan usaha yang menghasilkan manfaat bagi kedua negara.
“Semoga kerja sama yang baik ini bisa menjadi contoh untuk kerja sama berikutnya. Kita bisa memperlihatkan bahwa kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia akan menciptakan begitu banyak manfaat, membuka lapangan kerja, dan memberikan kontribusi positif, baik untuk Tiongkok maupun Indonesia,” ujar Boy.
