Boy Thohir Borong 2,8 Juta Saham ESSA, ADRO, dan AADI di Tengah Guncangan MSCI
Harga saham tertekan akibat kekhawatiran terhadap perubahan klasifikasi pasar Indonesia, sementara ketiga emiten membukukan pertumbuhan laba dan memiliki prospek yang bagus.
JAKARTA, Investortrust.id — Pengusaha nasional Garibaldi “Boy” Thohir kembali menambah investasi di pasar saham Indonesia ketika kekhawatiran terhadap perubahan klasifikasi pasar oleh MSCI memicu gelombang penjualan. Melalui PT Trinugraha Thohir (TNT), Boy membeli 2.824.900 saham tiga emiten yang tetap mencatatkan pertumbuhan laba di tengah tekanan harga saham.
Berdasarkan siaran pers pada Senin (19/10/2026), pembelian tersebut mencakup 2.252.300 saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), 470.000 saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), serta 102.600 saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Ketiganya memiliki keterkaitan dengan portofolio investasi Boy Thohir.
“Saat ini merupakan momen yang tepat untuk menangkap peluang investasi jangka panjang, seiring dengan solidnya fundamental perusahaan-perusahaan nasional, serta tingkat valuasi saham yang kompetitif,” kata Boy dalam keterangan tersebut.
Pembelian itu berlangsung setelah pengumuman MSCI mengguncang pasar saham Indonesia. Dalam pengumuman tertanggal 15 Oktober 2026 waktu New York, MSCI membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan paling lambat 30 Juni 2027. Dengan demikian, perubahan klasifikasi tersebut belum menjadi keputusan final.
Meski demikian, pasar langsung bereaksi. Data BEI menunjukkan, IHSG anjlok sekitar 11,6% pada Jumat (16/10/2026), kemudian sempat kembali merosot lebih dari 5% pada perdagangan Senin (19/10/2026). Kekhawatiran utamanya adalah potensi keluarnya saham Indonesia dari indeks global yang menjadi acuan investasi internasional.
Baca Juga
Danantara Tak Mundur! Investasi Pasar Modal Berlanjut di Tengah Tekanan MSCI
Tekanan tersebut turut menghantam saham yang dibeli Boy. Pada 16 Oktober, ESSA turun 15% dari Rp560 menjadi Rp476 per saham. Pada hari yang sama, ADRO merosot 10,16% dari Rp2.460 menjadi Rp2.210, sedangkan AADI jatuh 12,39% dari Rp11.300 menjadi Rp9.900 per saham.
Pada penutupan 19 Oktober, pergerakannya mulai berbeda. ADRO menguat 1,36% menjadi Rp2.240 dan AADI naik 2,78% menjadi Rp10.175, sementara ESSA turun lagi 1,26% menjadi Rp470. Berdasarkan perhitungan dari harga penutupan 15 Oktober, ketiganya masih terkoreksi masing-masing sekitar 8,94%, 9,96%, dan 16,07%.
Penurunan harga tersebut berlawanan arah dengan pertumbuhan laba yang telah dilaporkan ketiga perusahaan. Data resmi ESSA menunjukkan pendapatan semester I-2026 mencapai US$186,5 juta, meningkat 34,8% secara tahunan. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$30,2 juta, sekitar dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
ESSA juga memiliki peluang pengembangan usaha melalui bisnis amonia. Dalam laporan tahunan 2025, perseroan menyatakan optimisme terhadap prospek 2026 berdasarkan kebutuhan amonia untuk produksi pupuk dan pengembangan energi. Inisiatif amonia rendah karbon atau blue ammonia menjadi salah satu arah pengembangan strategis, meskipun realisasi manfaatnya tetap bergantung pada kemajuan proyek dan kelayakan ekonominya.
Baca Juga
Laba bersih ADRO semester I-2026 sekitar US$309 juta, meningkat 76,8%, dengan pendapatan tumbuh 16,5% menjadi US$999,2 juta. Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan margin, efisiensi jasa pertambangan, serta bisnis batu bara metalurgi. Ekspansi aluminium membuka peluang pertumbuhan berikutnya, walaupun kebutuhan investasi dan peningkatan kewajiban tetap perlu diperhatikan.
AADI juga membukukan pertumbuhan. Berdasarkan laporan keuangan interim, pendapatan semester I-2026 mencapai US$2,55 miliar, naik 6,13%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 10,52% menjadi US$473,77 juta dari US$428,68 juta. Selain batu bara, perusahaan memperoleh pendapatan dari logistik serta penyewaan aset ketenagalistrikan dan jasa penunjangnya.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa kejatuhan harga saham tidak dapat serta-merta dibaca sebagai kemerosotan kinerja operasional ketiga emiten. Pengumuman MSCI menyangkut persoalan kelayakan investasi pasar Indonesia, terutama transparansi kepemilikan, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta pelaksanaan reformasi dan penegakan aturan. Pengumuman itu bukan penilaian atas laba masing-masing perusahaan.
Secara analitis, tekanan penjualan akibat kekhawatiran arus modal dapat membuat harga saham bergerak berlawanan dengan pertumbuhan laba. Dalam konteks itulah pembelian saham oleh Boy Thohir menunjukkan penilaiannya bahwa koreksi harga justru membuka peluang investasi jangka panjang. Ia memilih menambah kepemilikan ketika pasar sedang tertekan, dengan keyakinan bahwa fundamental perusahaan dan prospek usahanya tetap mendukung penciptaan nilai bagi pemegang saham.
