Koperasi di Bima Olah Garam Lokal, Bidik Pasar Konsumsi dan Industri
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Koperasi Produsen Tahu Tempe dan Garam Indonesia Nanga Tolo Sia di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil memproduksi Garam Merah Putih Bima untuk bersaing di pasar lokal maupun nasional.
Merek garam Merah Putih Bima yang baru diluncurkan itu, telah memenuhi sejumlah persyaratan dan perizinan sebelum dipasarkan, termasuk sertifikasi halal, izin edar BPOM, dan perizinan usaha
Ketua Koperasi Nanga Tolo Sia, Kisman mengatakan, selain memproduksi garam konsumsi, koperasi juga menyediakan jasa pengolahan garam yang dapat dimanfaatkan petambak maupun distributor.
Sebagai informasi, Koperasi Nanga Tolo Sia telah menerima hibah berupa sarana pabrik garam, beserta washing plant dari Direktorat Sumber Daya Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2024.
Kisman pun berkomitmen memperkuat usaha anggota koperasi melalui peningkatan produktivitas lahan, baik melalui ekstensifikasi, intensifikasi maupun diversifikasi. “Koperasi juga mengoptimalkan operasional washing plant untuk mengolah dan menyerap hasil panen garam petambak lokal,” ungkap Kisman, melalui siaran resmi KKP di Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan, bantuan hibah dirancang untuk mendorong optimalisasi pengolahan garam lokal agar mampu menghasilkan garam berkualitas tinggi yang memenuhi standar industri maupun konsumsi nasional.
Peningkatan kapasitas produksi dan pengolahan garam bernilai tambah. menjadi salah satu upaya KKP memperkuat usaha pergaraman masyarakat.
“KKP akan terus mendukung usaha-usaha pergaraman masyarakat sehingga tidak hanya kuat di hulu, tetapi juga mampu mengolah produksinya menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi,” tegas Treng.
Baca Juga
Target Stop Impor Garam 2029, Pemerintah Kucurkan Rp 2 Triliun Bangun K-SIGN di Rote Ndao
Selain bantuan fasilitas, KKP melalui Balai Besar Produksi Garam dengan wilayah kerja meliputi NTT, NTB, Bali, dan Jawa Timur juga berjanji memberi pendampingan kepada petambak dan pengurus koperasi. Hal ini akan dilakukan dalam aspek peningkatan kompetensi sumber daya manusia, teknik produksi, pengolahan, maupun pengelolaan usaha.
“Kami mengupayakan keberhasilan ini tidak hanya di Bima, tetapi wilayah-wilayah lain di Indonesia karena ini juga menjadi bagian dalam mendukung pencapaian target swasembada garam pada 2027,” sambung Treng.
Kepala Balai Besar Pengelolaan Garam KKP Muhammad Zaki Mahasin menambahkan, pentingnya strategi pemasaran yang kuat untuk memastikan keberlanjutan usaha koperasi. Menurutnya, pengembangan usaha perlu disertai kepastian pasar untuk berbagai produk garam, mulai dari garam olahan, garam olahan beryodium, hingga garam krosok.
“Koperasi harus memastikan pasar garam ada tiga, yaitu garam olahan, garam olahan beryodium dan krosok, masing-masing harus ada market-nya. Sehingga anggota koperasi pun harus punya tim marketing untuk mencari target pasar agar sustainability ke depan,” kata Zaki.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bima, produksi garam pada 2025 mencapai sekitar 1.200 ton dengan luas lahan garam sekitar 1.600 hektare. Keberadaan pabrik garam yang digerakkan oleh koperasi memungkinkan produk garam halus dari Bima dapat masuk ke rantai pasok kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan industri, sekaligus memperkuat posisi petambak garam.
