Boy Thohir, Amanat Sang Ayah, dan Kesempatan Kedua dari Tuhan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pengusaha nasional Garibaldi “Boy” Thohir mengungkapkan bagaimana amanat almarhum ayahandanya, H. Muhammad “Teddy” Thohir, terus menjadi pegangan hidup yang harus dijalankannya dengan penuh tanggung jawab. Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, Boy mendapat pesan khusus dari sang ayah untuk menjaga delapan anak dalam keluarga besar Thohir, termasuk anak-anak dari kakak perempuannya, Rika Thohir, dan anak dari adiknya, Erick Thohir. Amanat itu menjadi salah satu alasan terbesar Boy untuk terus bertahan hidup ketika dirinya berada dalam kondisi kritis akibat Covid-19 pada November 2020.
Kesetiaan terhadap amanat sang ayah tersebut diceritakan Boy dalam acara ramah tamah bersama sejumlah pemimpin media massa di kantor barunya, kawasan Kuningan CBD, Jakarta, Rabu (30/09/2026). Di hadapan para sahabat yang telah dikenalnya selama puluhan tahun, Boy membagikan pengalaman paling menentukan dalam kehidupannya: menghadapi ancaman kematian, memikul tanggung jawab terhadap keluarga besar, dan memaknai kesembuhan dari Covid-19 sebagai kesempatan kedua yang diberikan Allah untuk berbuat lebih banyak bagi sesama.
Bagi Boy, pesan almarhum ayahandanya bukan sekadar nasihat orang tua yang cukup dikenang. Amanat tersebut merupakan tanggung jawab moral yang harus dijalankan sepanjang hidupnya.
Ia mengenang bagaimana sang ayah, ketika kondisi kesehatannya mulai menurun, memanggil dirinya dan menyampaikan pesan mengenai masa depan keluarga besar Thohir. Pada awalnya, Boy mengaku sempat kebingungan ketika ayahnya mengatakan bahwa dirinya memiliki delapan anak yang harus dijaga.
Boy merasa jumlah tersebut tidak sesuai dengan kenyataan karena ia hanya mempunyai tiga anak. Namun, setelah mendengarkan penjelasan ayahnya, ia memahami bahwa yang dimaksud bukan hanya ketiga anak kandungnya, melainkan juga anak-anak dari Rika Thohir dan Erick Thohir yang harus diperhatikannya.
"Beliau bilang, kamu itu punya delapan anak yang harus kamu take care. Saya bilang, kok delapan? Anak saya kan cuma tiga," kenang Boy, mengisahkan percakapannya dengan sang ayah. Boy kemudian memahami bahwa ayahnya sedang menitipkan tanggung jawab untuk menjaga keutuhan keluarga besar.
Sebagai anak laki-laki tertua, ia diharapkan dapat melanjutkan peran sang ayah dalam menjaga dan memperhatikan seluruh anggota keluarga. "Saya enggak mau tahu. Di keluarga Lampung itu anak laki-laki paling besar, dia yang meneruskan saya," tutur Boy, mengenang pesan ayahandanya.
Amanat tersebut melekat kuat dalam ingatannya. Bahkan, ketika dirinya berada di ruang perawatan intensif dan menghadapi ketidakpastian antara hidup dan mati, salah satu hal yang paling dikhawatirkannya adalah kemungkinan tidak dapat menuntaskan tanggung jawab yang telah dititipkan sang ayah.
Boy merasa masih memiliki kewajiban terhadap anak-anak dan keluarga besar yang belum selesai dijalankannya. Ia juga memikirkan masa depan anak-anaknya yang ketika itu masih membutuhkan pendampingan dan perhatian orang tua.
Kekhawatiran tersebut memperlihatkan bahwa bagi Boy, tanggung jawab sebagai anak, kakak, ayah, dan kepala keluarga memiliki makna yang tidak kalah penting dibandingkan keberhasilannya sebagai pengusaha.
Sebelas Hari di ICU, Menghadapi Ujian Terberat
Boy kemudian menceritakan pengalaman ketika dirinya terinfeksi Covid-19 pada awal November 2020. Pada awalnya, ia mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan penyakit tersebut. Namun, keadaan berubah ketika kondisi kesehatannya memburuk dan ia harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Saat itu, pandemi masih berada dalam periode yang sangat sulit. Vaksin belum tersedia secara luas, sementara fasilitas kesehatan menghadapi tekanan luar biasa akibat banyaknya pasien yang membutuhkan penanganan.
Boy mengingat bagaimana orang-orang terdekatnya mendesak agar ia segera mendapatkan perawatan di rumah sakit. Setelah menjalani perawatan selama tiga hari di ruang biasa, kondisinya mengharuskan ia dipindahkan ke ruang perawatan intensif atau intensive care unit (ICU).
Selama 11 hari berada di ICU, Boy menghadapi pengalaman yang disebutnya sebagai ujian paling berat sepanjang hidup. "Di tahun 2020, awal bulan November, saya kena Covid. Awalnya sebagai manusia saya merasa tenang saja. Tapi, begitu terserang Covid, luar biasa penderitaan saya. Saya merasa seperti mau mati saja. Ternyata, itu ujian yang paling berat untuk hidup saya," tuturnya.
Situasi rumah sakit ketika itu semakin menambah tekanan psikologis yang dirasakannya. Boy mengingat bahwa rumah sakit tempatnya dirawat memiliki sekitar 200 tempat tidur. Di tengah tingginya risiko kematian pasien Covid-19 pada masa tersebut, ia menyadari bahwa penyakit yang dihadapinya tidak dapat dianggap ringan. Ia melihat sendiri bagaimana jenazah-jenazah dibawa oleh parawat.
Hari demi hari berlalu tanpa kepastian kapan dirinya akan pulih. Pada situasi itu, Boy mulai memikirkan kemungkinan terburuk apabila dirinya tidak berhasil melewati masa kritis. Namun, yang paling mengganggu pikirannya bukanlah perusahaan, kekayaan, atau berbagai investasi yang telah dibangunnya. Ia justru memikirkan amanat ayahandanya yang belum sepenuhnya dapat ia tunaikan.
Boy juga memikirkan anak-anaknya yang masih membutuhkan kehadiran seorang ayah. Dalam kondisi kritis tersebut, ia menyadari bahwa sebesar apa pun keberhasilan seseorang, kehidupan tetap berada di luar kendali manusia.
Pengusaha nasional ini juga mengingat amanat sang ayah untuk menjaga delapan cucunya dan membangun mesjid At Thohir. Masjid sedang dibangun, tapi belum rampung. Amanat ini tidak bisa ia laksanakan jika kesehatannya terus memburuk.
Ia mulai menyadari keberadaan hidup manusia di bumi fana. Tidak ada kekayaan yang mampu menjamin seseorang terhindar dari penyakit. Tidak ada pula kedudukan yang dapat memastikan seseorang memperoleh kesempatan hidup lebih panjang.
Pengalaman itu membuat Boy semakin memahami keterbatasan manusia dan pentingnya menjalankan tanggung jawab selama kesempatan masih tersedia.
Kesembuhan sebagai Kesempatan Kedua dari Allah
Setelah melewati masa perawatan yang berat, Boy akhirnya dinyatakan pulih.
Namun, kesembuhan tersebut tidak dipandangnya sebagai peristiwa biasa.
Ia memaknainya sebagai anugerah sekaligus kesempatan kedua yang diberikan Allah untuk melanjutkan kehidupan. "Alhamdulillah, saya rasa memang Allah punya rencana lain. Dia kasih saya kesempatan kedua," ujar Boy.
Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benaknya adalah untuk apa kesempatan tersebut diberikan. Boy merasa bahwa dirinya masih mempunyai tugas yang harus diselesaikan, baik terhadap keluarga, perusahaan, karyawan, maupun masyarakat luas. Kedelapan cucu ayahnya akan dijaga dengan baik dan membantu agar mereka menjadi pribadi mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat. Masjid At Thohir akan dirampungkan.
Pengalaman menghadapi Covid-19 mengubah cara pandangnya mengenai kehidupan. Jika sebelumnya sebagian besar perhatian dicurahkan untuk mengembangkan kegiatan usaha, pengalaman tersebut memperkuat kesadarannya bahwa keberhasilan bisnis harus disertai tanggung jawab sosial yang lebih luas.
Menolak PHK, Memilih Berbagi Beban
Baginya, kesempatan untuk kembali sehat berarti kesempatan untuk terus bekerja, menjaga amanat keluarga, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Kesadaran itu tidak berhenti sebagai refleksi pribadi. Boy menceritakan bagaimana pengalaman tersebut turut memengaruhi keputusan-keputusan yang diambilnya dalam mengelola perusahaan.
Boy mengenang bahwa pada 2021, ketika dampak pandemi dirasakan berbagai sektor usaha, industri pertambangan juga menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan. Salah satu yang dipikirkannya adalah nasib para karyawan ketika pandemi menyebabkan kegiatan ekonomi mengalami tekanan berat dan Adaro dalam tekanan berat secara finansial.
Dalam situasi tersebut, manajemen perusahaan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit untuk mempertahankan kegiatan operasional. Salah satu alternatif yang mengemuka adalah melakukan pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
Namun, Boy tidak menghendaki perusahaan mengambil langkah tersebut. Ia memahami bahwa kehilangan pekerjaan di tengah pandemi akan menimbulkan persoalan yang jauh lebih berat bagi karyawan dan keluarga mereka.
Bahkan bagi dirinya yang secara ekonomi sudah berkecukupan, pandemi telah menjadi pengalaman yang sangat berat. Karena itu, ia membayangkan betapa sulitnya keadaan yang harus dihadapi karyawan apabila kehilangan sumber penghasilan ketika kegiatan ekonomi belum pulih.
Boy kemudian mengusulkan agar beban perusahaan ditanggung bersama melalui pengurangan penghasilan, sebagai alternatif terhadap PHK. Menurut penuturannya, pilihan tersebut diambil karena perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap orang-orang yang selama ini ikut membangun dan mengembangkan kegiatan usaha.
Keputusan itu memperlihatkan bagaimana pengalaman pribadi menghadapi Covid-19 memengaruhi pandangannya terhadap tanggung jawab sosial perusahaan.
Bagi Boy, karyawan bukan sekadar komponen biaya operasional yang dapat dikurangi ketika perusahaan menghadapi kesulitan.
Mereka adalah manusia yang memiliki keluarga dan tanggung jawab kehidupan masing-masing. Karena itu, keberlangsungan perusahaan perlu diupayakan dengan tetap memperhatikan nasib para pekerja.
Perkembangan kemudian berubah ketika harga batu bara meningkat tajam pada 2022, antara lain dipengaruhi gejolak pasar energi global setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina. Boy mengungkapkan bahwa kinerja perusahaan pada tahun tersebut justru mencapai hasil yang sangat baik.
Ia kembali mengaitkan pengalaman itu dengan keyakinannya bahwa kehidupan sering kali menghadirkan perkembangan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.
Ketika pandemi menimbulkan kesulitan besar, perusahaan harus mengambil keputusan berat. Namun, ketika keadaan pasar berubah, peluang pertumbuhan kembali terbuka.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya mengenai pentingnya mempertahankan tanggung jawab dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Dua Masjid At-Thohir
Salah satu amanat almarhum H. Muhammad “Teddy” Thohir yang diwujudkan keluarga besarnya adalah pembangunan dua masjid, masing-masing di Depok, Jawa Barat, dan Los Angeles, Amerika Serikat. Kedua masjid tersebut bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga simbol bakti anak-anak kepada orang tua sekaligus upaya meneruskan nilai-nilai keagamaan dan kepedulian sosial yang diwariskan sang ayah.
Masjid At-Thohir di kawasan Podomoro Golf View, Cimanggis, Tapos, Depok, mulai dibangun pada 2016 atas prakarsa keluarga besar Teddy Thohir, termasuk Garibaldi “Boy” Thohir dan Erick Thohir. Masjid tersebut diresmikan Presiden Joko Widodo pada 9 Maret 2022. Kehadirannya menjadi wujud penghormatan keluarga kepada almarhum sekaligus sarana ibadah dan kegiatan keagamaan bagi masyarakat.
Amanat tersebut juga diwujudkan hingga ke Amerika Serikat. Pada 2018, keluarga besar Thohir melalui sebuah yayasan membeli bangunan bekas gereja di kawasan Koreatown, Jalan Kenmore, Los Angeles, California. Bangunan tersebut kemudian direnovasi dan dialihfungsikan menjadi Masjid At-Thohir. Masjid ini diresmikan pada 27 Maret 2022 oleh Duta Besar RI untuk Amerika Serikat saat itu, Rosan Roeslani. Kehadirannya diharapkan menjadi pusat kegiatan ibadah dan mempererat hubungan komunitas Muslim, termasuk diaspora Indonesia di Los Angeles.
Kedua masjid tersebut merupakan bukti bahwa amanat orang tua tidak berhenti sebagai pesan yang dikenang, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Masjid At-Thohir di Depok dan Los Angeles menjadi warisan spiritual keluarga yang manfaatnya diharapkan terus mengalir lintas generasi dan melampaui batas negara.
Keduanya sekaligus mencerminkan nilai yang ditanamkan Teddy Thohir kepada anak-anaknya: keberhasilan hidup hendaknya tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dipersembahkan bagi kepentingan dan kemaslahatan sesama.
Menyiapkan Generasi Penerus, Membangun Family Office
Kesadaran tentang keterbatasan hidup juga mendorong Boy memikirkan masa depan keluarga dan keberlanjutan usaha yang telah dibangunnya. Ia menyadari bahwa berbagai aset, investasi, dan kewajiban keuangan yang dimilikinya harus dikelola secara tertib agar tidak menimbulkan persoalan bagi keluarga apabila suatu saat dirinya tidak lagi dapat menjalankan tanggung jawab tersebut.
Pengalaman menghadapi Covid-19 menjadi pengingat bahwa proses regenerasi tidak dapat ditunda tanpa batas. Boy kemudian mulai melibatkan anak-anaknya secara lebih intensif dalam kegiatan usaha keluarga.
Ia meminta mereka yang telah memasuki usia kerja untuk kembali dan mengambil tanggung jawab dalam pengelolaan bisnis. Menurut Boy, keterlibatan generasi penerus penting agar mereka tidak hanya menikmati hasil dari perusahaan yang telah dibangun, tetapi juga memahami proses, risiko, dan tanggung jawab di balik kegiatan usaha tersebut.
Pemikiran itu pula yang kemudian melatarbelakangi keputusannya membangun kantor keluarga atau family office di kawasan Kuningan CBD, Jakarta. Boy mengisahkan bahwa lahan tempat kantor barunya berdiri sebelumnya merupakan sebuah rumah dengan halaman dan kolam renang.
Setelah membeli properti tersebut, ia semula berencana melakukan renovasi untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan keluarga dan kegiatan usaha.
Namun, kondisi bangunan lama yang mengalami keretakan membuatnya memutuskan untuk membangun kembali properti tersebut. Pembangunan dimulai sekitar 2023.
Kini, bangunan tersebut menjadi tempat kegiatan usaha keluarga sekaligus ruang kerja bagi anak-anaknya yang mulai mengambil peran masing-masing.
Kantor baru itu bukan sekadar simbol keberhasilan ekonomi keluarga Thohir.
Bagi Boy, keberadaan family office mempunyai makna yang lebih personal: menyiapkan kesinambungan tanggung jawab keluarga dan memastikan generasi penerus memahami amanat yang harus mereka jalankan.
"Yang gedung ini kenapa? Karena salah satunya memang titipan dari almarhum," ujarnya. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kantor baru tidak dapat dilepaskan dari keinginannya menjaga warisan nilai sang ayah. Apabila dahulu Teddy Thohir menitipkan keluarga besar kepada Boy, kini Boy berupaya memastikan agar tanggung jawab tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Tidak Ada Keberhasilan yang Datang Ujug-ujug
Dalam kesempatan yang sama, Boy menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Indonesia.Menurutnya, keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Setiap pencapaian besar membutuhkan proses panjang, kerja keras, disiplin, konsistensi, dan persistensi.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan membangun usaha tidak selalu berlangsung mulus. Ada masa ketika seseorang harus bekerja jauh lebih keras daripada orang lain, menghadapi kegagalan, dan tetap bertahan meskipun hasil yang diharapkan belum terlihat.
"Untuk yang muda-muda, enggak ada yang gampang. Semuanya perlu proses," ujar Boy. Pesan tersebut juga disampaikannya kepada anak-anaknya yang kini mulai terlibat dalam kegiatan usaha keluarga.
Boy tidak ingin mereka menganggap keberhasilan sebagai sesuatu yang dapat diperoleh hanya karena berasal dari keluarga pengusaha. Sebaliknya, mereka harus memahami bahwa perusahaan yang telah berkembang dibangun melalui proses panjang dan berbagai pengorbanan.
Boy mencontohkan pentingnya kesediaan bekerja hingga larut malam ketika tanggung jawab pekerjaan memang menuntut hal tersebut. Ia menekankan bahwa seseorang yang ingin mencapai hasil berbeda harus bersedia memberikan usaha yang tidak biasa.
Menurut Boy, tidak cukup bagi generasi muda hanya mempunyai cita-cita besar tanpa kesediaan untuk bekerja keras mewujudkannya. Keberhasilan membutuhkan disiplin untuk menjalankan pekerjaan secara teratur, konsistensi dalam mempertahankan kualitas usaha, serta persistensi ketika menghadapi berbagai hambatan.
Pesan tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang kerap menampilkan keberhasilan seseorang melalui hasil akhirnya.
Di balik perusahaan besar, terdapat perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Ada keputusan sulit yang harus diambil, kegagalan yang harus dihadapi, serta kesempatan yang hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang telah mempersiapkan diri. Karena itu, Boy berharap generasi muda tidak terjebak pada keinginan memperoleh keberhasilan secara instan.
Kepercayaan sebagai Modal Utama
Selain kerja keras, Boy menekankan pentingnya menjaga kepercayaan. Baginya, kepercayaan merupakan modal yang sangat berharga dalam membangun hubungan bisnis maupun persahabatan.
"Karena memang kuncinya, menurut saya, tentu harus jaga baik kepercayaan. Itu nomor satu," ujarnya. Boy mengatakan, hubungan baik dengan banyak pihak tidak dapat dibangun dalam waktu singkat.
Dibutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk membangun hubungan yang dilandasi rasa saling percaya. Hal tersebut pula yang menjadi alasan dirinya mengundang para pemimpin media dalam pertemuan di kantor barunya.
Ia menganggap para undangan bukan sekadar mitra dalam hubungan profesional, melainkan sahabat yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Boy menyampaikan apresiasi atas hubungan baik yang telah terjalin dan dukungan yang diterimanya selama menjalankan kegiatan usaha.
Ia menilai kepercayaan yang dipelihara dalam jangka panjang dapat menjadi fondasi penting untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, Boy juga mengungkapkan keputusan strategis Grup Adaro untuk melepas investasi batu bara di Australia dan memusatkan perhatian pada pengembangan bisnis di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil pertimbangan mengenai arah investasi perusahaan ke depan. Menurut Boy, Grup Adaro telah membuktikan kemampuannya mengembangkan usaha di luar negeri, termasuk melalui investasi pertambangan di Australia.
Namun, setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, ia bersama pemegang saham dan manajemen memutuskan untuk lebih memprioritaskan pengembangan bisnis di dalam negeri. Boy menyebut keputusan tersebut sebagai bagian dari identitas dan komitmen perusahaan terhadap Indonesia. "DNA kita memang yang di Indonesia," ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa investasi di Australia telah memberikan hasil yang baik. Namun, perusahaan memandang masih banyak peluang pengembangan usaha yang dapat dilakukan di Tanah Air.
Dari Amanat Keluarga Menuju Tanggung Jawab kepada Bangsa
Jika ditarik benang merahnya, berbagai kisah yang disampaikan Boy dalam pertemuan tersebut memperlihatkan perkembangan pemahamannya mengenai tanggung jawab. Pada mulanya, tanggung jawab itu hadir dalam bentuk amanat seorang ayah kepada anak laki-laki tertuanya.
Teddy Thohir meminta Boy menjaga delapan anak dalam keluarga besar dan memastikan mereka tetap memperoleh perhatian serta perlindungan. Ketika menghadapi Covid-19, amanat tersebut menjadi salah satu alasan yang membuat Boy sangat mengkhawatirkan kemungkinan tidak dapat melanjutkan kehidupannya.
Setelah sembuh, ia memaknai kesempatan kedua dari Allah sebagai panggilan untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih luas.
Tanggung jawab itu tidak hanya menyangkut keluarga, tetapi juga karyawan, perusahaan, pemegang saham, dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kegiatan usahanya. Kesadaran tersebut kemudian menemukan bentuk dalam berbagai keputusan, mulai dari upaya mempertahankan tenaga kerja selama pandemi, menyiapkan generasi penerus, hingga mengarahkan kembali investasi perusahaan ke Indonesia.
Keberhasilan bisnis dan pengabdian kepada masyarakat bukanlah dua tujuan yang harus dipertentangkan. Keberhasilan ekonomi justru dapat memperbesar kemampuan seseorang untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Semakin besar usaha yang dibangun, semakin luas pula kesempatan untuk menciptakan lapangan kerja, mengembangkan kegiatan ekonomi, dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks itulah Boy mengajak para sahabatnya untuk tidak berhenti pada keluhan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan rumah bersama yang harus dijaga, apa pun keadaan yang sedang dihadapi. "Baik buruknya, ini negara kita. Mau diapain? Ya sudah, apa yang kita bisa perbuat," ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kepedulian terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui tindakan nyata sesuai kemampuan dan bidang masing-masing.
Bagi pengusaha, salah satu bentuknya adalah membangun perusahaan yang produktif, memperluas investasi, dan menciptakan pekerjaan.
Bagi generasi muda, kontribusi tersebut dimulai dari kesediaan membangun kemampuan melalui kerja keras, disiplin, konsistensi, dan persistensi. Sementara bagi dirinya sendiri, Boy memandang seluruh perjalanan tersebut sebagai bagian dari rasa syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan.
Warisan yang Tidak Diukur dengan Kekayaan
Ramah tamah bersama para pemimpin media di kantor baru kawasan Kuningan CBD itu akhirnya menghadirkan sisi personal seorang Boy Thohir yang tidak selalu terlihat di balik berbagai pemberitaan mengenai kegiatan bisnisnya.
Ia berbicara tentang rasa takut menghadapi kematian, tanggung jawab kepada keluarga, kecemasan memikirkan masa depan anak-anak, serta rasa syukur karena berhasil melewati masa kritis.
Di tengah kisah mengenai investasi dan perkembangan perusahaan, Boy berulang kali kembali kepada persoalan yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia: keluarga, kesehatan, persahabatan, kepercayaan, dan kesempatan untuk berbuat baik.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang pengusaha tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang membentuk perjalanan hidupnya. Warisan sang ayah bukan hanya berkaitan dengan nama keluarga ataupun keberhasilan ekonomi. Ada amanat yang harus dijaga, tanggung jawab yang harus diteruskan, dan nilai-nilai yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pengalaman menghadapi Covid-19 semakin mempertegas makna amanat tersebut.
Kesembuhan memberikan kesempatan baginya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, mendampingi keluarga, serta memperluas kontribusi bagi masyarakat.
Sementara itu, kepada anak-anak dan generasi muda, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak dapat diwariskan begitu saja tanpa kesiapan untuk bekerja dan memikul tanggung jawab.
Pesan yang mengemuka dari pertemuan tersebut bukan semata-mata mengenai bagaimana Boy Thohir membangun perusahaan dan mengembangkan investasi.
Pesan yang lebih dalam adalah bagaimana seorang anak berusaha tetap setia kepada amanat ayahandanya, bahkan ketika dirinya telah mencapai keberhasilan besar dalam kehidupan.
Pengalaman menghadapi Covid-19 membuat Boy semakin menyadari betapa berharganya amanat sang ayah. Dan kesempatan kedua yang diyakininya diberikan Allah mendorongnya untuk memperluas tanggung jawab, dari menjaga keluarga hingga berbuat lebih banyak bagi Indonesia.
Ayahanda Boy Thohir, H. Muhammad “Teddy” Thohir, merupakan pengusaha nasional terkemuka yang merintis kesuksesan dari bawah. Lahir pada 1935 di Gunung Sugih, Lampung Tengah, Teddy tumbuh dalam keluarga sederhana dan harus kehilangan ayahnya sejak kecil. Berbekal tekad kuat untuk mengubah nasib, ia merantau ke Solo untuk menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), sebelum mengadu nasib di Jakarta.
Perjalanan kariernya dimulai sebagai kepala administrasi di Union Carbide. Ia kemudian bergabung dengan Astra Group dan menjadi salah satu tokoh penting yang turut membesarkan kelompok usaha tersebut bersama William Soeryadjaya. Pada 1978, Teddy mendirikan Trinugraha Thohir (TNT Group), yang berkembang menjadi kelompok usaha dengan kegiatan bisnis di sektor properti, otomotif, media, dan sumber daya alam.
Teddy Thohir wafat pada 1 November 2016, meninggalkan tiga anak, yakni Rika Thohir, Garibaldi “Boy” Thohir, dan Erick Thohir. Selain warisan bisnis, ia mewariskan nilai kerja keras, disiplin, tanggung jawab, dan kesetiaan kepada keluarga. Sosoknya juga diabadikan melalui pembangunan Masjid At-Thohir di Cimanggis, Depok, yang menjadi simbol penghormatan dan kecintaan keluarga kepada almarhum. Warisan terbesar sang ayah, demikian Boy, bukan semata-mata kekayaan dan keberhasilan usaha, melainkan amanat untuk menjaga keutuhan keluarga, meneruskan nilai-nilai kehidupan, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Perjalanan hidup Boy Thohir merupakan sebuah perjalanan yang mengingatkan bahwa kekayaan dapat diwariskan, perusahaan dapat diteruskan, dan jabatan pada waktunya akan berakhir. Namun, amanat orang tua yang dijalankan dengan penuh kesetiaan dapat menjadi warisan nilai yang terus hidup melampaui generasi.
Itulah salah satu makna terdalam dari kesempatan kedua yang diberikan Tuhan: bukan sekadar memperoleh waktu lebih panjang untuk menikmati keberhasilan, melainkan memperoleh kesempatan untuk menyelesaikan amanat dan memberikan manfaat lebih besar kepada sesama. (PD)
