Saleh Husin: Pertumbuhan Impor Harus Dikonversikan Jadi Peningkatan Produksi dan Ekspor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kadin Indonesia melihat ekspor masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun, terutama didukung industri pengolahan yang menjadi backbone ekspor. Namun, impor kemungkinan tetap tumbuh tinggi seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal.
“Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan impor tersebut dikonversikan menjadi peningkatan produksi dan ekspor, sehingga surplus perdagangan tetap terjaga. Pada Januari–Juli, ekspor tumbuh 4,43%, sementara impor tumbuh jauh lebih tinggi 19,94%,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin menanggapi pengumuman kinerja neraca perdagangan Indonesia bulan Agustus 2026, Kamis (1/10/2026).
Dalam pandangan Saleh Husin, kenaikan impor lebih banyak menunjukkan penguatan aktivitas produksi dan investasi, karena 91,33% impor Januari–Juli terdiri atas bahan baku/penolong dan barang modal.
“Namun, pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor tetap perlu diwaspadai. Bagi Kadin, indikator pentingnya bukan sekadar kenaikan impor, tetapi apakah impor tersebut menghasilkan peningkatan kapasitas produksi, produktivitas, dan ekspor industri,” kata Saleh.
Ketika menyinggung sektor usaha apa yang paling berpotensi meningkatkan ekspor, Saleh berpendapat bahwa peluang terbesar berada pada industri pengolahan bernilai tambah, khususnya makanan-minuman dan agroindustri, logam dan hilirisasi mineral, elektronika/mesin, serta otomotif dan komponennya.
“Sementara itu, industri padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki dan furnitur masih menghadapi tantangan biaya produksi, produktivitas, teknologi, dan persaingan global. Fokusnya perlu bergeser dari ekspor berbasis komoditas menuju produk manufaktur dengan nilai tambah dan kandungan domestik yang lebih tinggi,“ tuturnya.
Untuk itu, Saleh Husin menekankan agar pemerintah perlu memastikan impor produktif diikuti investasi, peningkatan kapasitas dan produktivitas industri, serta ekspansi pasar ekspor. Prioritasnya adalah menjaga daya saing biaya energi dan logistik, menjamin ketersediaan bahan baku, memperkuat industri intermediate/domestic supply chain, memberikan kepastian regulasi, memperluas akses pasar, dan mendorong hilirisasi.
“Dengan demikian, impor hari ini tidak berhenti sebagai pengeluaran devisa, tetapi menjadi kapasitas produksi dan ekspor Indonesia di masa depan,” pungkas Saleh Husin.
