Hilirisasi Mineral Dorong Nilai Tambah RI, MIND ID Catat Nilai Ekonomi Rp 185,16 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi mineral mendorong perubahan pola pengelolaan sumber daya alam (SDA) Indonesia dari ekspor bahan mentah menuju pengolahan bernilai tambah di dalam negeri. Kebijakan ini memperluas rantai industri sekaligus meningkatkan peran sektor pertambangan sebagai pemasok bahan baku bagi manufaktur nasional.
Sepanjang 2025, MIND ID mencatat generated economic value sebesar Rp 185,16 triliun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertambangan dan penggalian mencatat kontribusi Rp 229,9 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II 2026, setara 8,87% dari perekonomian nasional.
Baca Juga
Selama bertahun-tahun, kekayaan mineral Indonesia lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang relatif terbatas. Pola tersebut membuat aktivitas pertambangan belum sepenuhnya terhubung dengan rantai industri domestik. Pemerintah kemudian mendorong hilirisasi melalui kebijakan pembatasan dan pelarangan ekspor sejumlah mineral mentah. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong perusahaan membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.
Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (UI) Ali Ahmudi mengatakan pengelolaan sumber daya alam, termasuk melalui hilirisasi, perlu memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi negara sesuai amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
“Sebesar-besarnya manfaat dari kegiatan ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam, termasuk pertambangan, harus memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, termasuk terhadap pemasukan negara, baik melalui pajak, bagi hasil, maupun mekanisme lainnya,” ujar Ali dikutip Rabu (30/9/2026).
Menurut Ali, peningkatan nilai tambah menjadi salah satu bagian penting dalam mengukur manfaat hilirisasi. Selain penerimaan negara, proses tersebut perlu membangun basis industri baru dan memperluas aktivitas ekonomi yang terkait dengan pengolahan mineral.
Nilai Ekonomi Hilirisasi Mineral
Dalam ekosistem tersebut, Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID mengelola sejumlah komoditas mineral secara terintegrasi bersama anggota holdingnya. Sepanjang 2025, MIND ID mencatat generated economic value sebesar Rp 185,16 triliun.
Generated economic value menggambarkan nilai ekonomi yang dihasilkan perusahaan dari kegiatan bisnisnya. Pada periode yang sama, MIND ID mencatat distributed economic value sebesar Rp180,30 triliun.
Nilai tersebut disalurkan kepada sejumlah pemangku kepentingan, termasuk negara, pekerja, mitra usaha, investor, dan masyarakat. Angka tersebut menggambarkan distribusi nilai ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas operasional dan rantai bisnis perusahaan.
Salah satu gambaran konkret peningkatan nilai tambah terlihat dari pengembangan ekosistem bauksit menjadi alumina dan aluminium. Komoditas bauksit yang sebelumnya memiliki nilai sekitar US$ 40 per metrik ton dapat diproses lebih lanjut hingga menjadi aluminium dengan nilai sekitar US$ 3.400 per ton.
Perbedaan nilai tersebut menunjukkan besarnya ruang ekonomi yang tersedia ketika mineral diproses lebih jauh sebelum dipasarkan. Proses pengolahan juga menciptakan kebutuhan terhadap fasilitas industri, tenaga kerja, logistik, energi, serta jasa pendukung lainnya. Aluminium kemudian menjadi bahan baku bagi berbagai sektor industri. Penggunaannya mencakup konstruksi, transportasi, kelistrikan, hingga sektor energi baru terbarukan seperti panel surya.
Baca Juga
Resmikan SGAR di Mempawah, Jokowi Ungkap Devisa Rp 50 T Hilang Akibat Impor Alumunium
Ketersediaan aluminium dari rantai produksi domestik juga berkaitan dengan kebutuhan industri terhadap bahan baku. Semakin panjang rantai pengolahan di dalam negeri, semakin besar aktivitas ekonomi yang dapat terbentuk di sekitar industri tersebut.
Ali mengatakan keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari kenaikan penerimaan negara. Menurut dia, dampak kebijakan tersebut juga perlu dilihat dari kemampuan industri menciptakan basis produksi baru serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Hilirisasi membuat sektor pertambangan memiliki keterkaitan yang lebih erat dengan industri pengolahan. Hubungan tersebut dapat menciptakan permintaan terhadap berbagai produk dan jasa pendukung, mulai dari energi, transportasi, teknologi, hingga tenaga kerja dengan keahlian tertentu.
