Menko Airlangga: 'Critical Mineral' Jadi 'Golden Moment' Indonesia di Tengah Perang Tarif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia memiliki momentum strategis untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok energi hijau global. Kekayaan mineral dan kapasitas hilirisasi menjadi modal utama, terutama ketika negara-negara maju mulai mencari alternatif pasokan critical mineral (mineral kritis) di luar China.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia memiliki sumber daya strategis untuk mendukung energi hijau dan hilirisasi, mulai nikel, timah, bauksit, tembaga, emas hingga batu bara. Namun, kekuatan tersebut perlu ditopang pasokan energi yang bersih, andal, dan terjangkau.
Baca Juga
“Nah hilirisasi menjadi sangat penting, dan apalagi kalau ditopang oleh energi yang bersih dan andal dengan harga yang terjangkau, atau dengan akses yang terjangkau,” kata Airlangga dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 yang diselenggarakan Investortrust di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Salah satu sektor yang menjadi andalan adalah kendaraan listrik. Airlangga menyebut nilai tambah sektor tersebut bisa lebih dari 60 kali, dengan nilai permintaan pada 2045 diperkirakan mencapai 5,91 triliun.
Menurut Airlangga, pengembangan ekosistem energi hijau dan hilirisasi membuat Indonesia memiliki posisi strategis dalam transisi energi global. Negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada disebut mulai mengincar kerja sama di bidang critical mineral dengan Indonesia.
“Karena critical mineral ini yang pertama dan kuat itu hampir 90% di negara China, sehingga alternatifnya adalah negara ASEAN. Dan di negara ASEAN yang punya bahan baku hanya Indonesia. Jadi inilah the golden moment sebetulnya buat Indonesia untuk bisa dikembangkan,” ujar Airlangga.
Selain mineral, Indonesia juga memiliki pasir silika dalam jumlah besar yang dapat menjadi modal pengembangan industri panel surya. Airlangga menyebut kapasitas pembangunan solar panel Indonesia setara 11 gigawatt per tahun. Namun, ekspor ke Amerika Serikat kini menghadapi bea masuk 110%.
“Jadi kenaikan ekspor kita 110 kali, maka Amerika mengatakan nih Indonesia ujug-ujug punya kekuatan di bidang energi maka dikenakan 110%,” ucap Airlangga.
Baca Juga
Perminas dan ITB Perkuat Teknologi Pengolahan Mineral Strategis
Sementara itu, produk baja, khususnya stainless steel, juga menghadapi tarif tinggi. Airlangga menyebut Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris masing-masing mengenakan bea masuk 50% terhadap produk tersebut. Menurutnya, kondisi itu masih memungkinkan Indonesia bersaing selama tarif yang diterapkan bersifat setara.
“Dengan bea masuk 50% pun kita masih bisa ekspor, baik itu ke Amerika maupun ke Eropa. Asalkan, saya bilang level playing field. Kalau satu negara 50%, sedunia kena 50%, kita masih tetap bisa bersaing. Yang kita enggak bisa bersaing kalau kita kena 50% sendirian, nah itu sulit untuk bersaing,” pungkasnya.
