PLN Layani 159 'Data Center' dengan Kapasitas 2.038 MVA
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT PLN (Persero) melayani 159 pelanggan pusat data dengan kapasitas tersambung 2.038 megavolt ampere (MVA) di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat perkembangan kecerdasan buatan dan ekonomi digital. Sekitar 99% kapasitas tersebut masih terkonsentrasi di sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, sementara pengembangan pusat data mulai meluas ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pertumbuhan pusat data membutuhkan dukungan kelistrikan dengan karakteristik yang semakin spesifik, mulai dari kapasitas, keandalan, kualitas daya, hingga pemanfaatan energi bersih.
Baca Juga
PLN dan Pelindo Siapkan 24 Unit OPS untuk Pelabuhan Tanjung Priok
“Meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan semakin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital. PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan seiring dengan perkembangan sektor digital, dengan perencanaan yang dilakukan lebih awal agar kebutuhan energi dapat diantisipasi dan investasi dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Darmawan dikutip Jumat (25/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan seiring dengan semakin pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi awan, dan berbagai layanan digital yang membutuhkan fasilitas pusat data dengan pasokan listrik yang stabil.
Dalam sesi diskusi pada Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (23/9/2026), Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN Dini Sulistyawati mengatakan 159 pelanggan data center yang dilayani perseroan mencatat konsumsi energi sebesar 2.378 gigawatt hour (GWh).
Dini mengatakan sekitar 99% kapasitas tersambung pelanggan data center masih berada di sistem Jawa-Madura-Bali. Jawa Barat menjadi salah satu klaster utama pengembangan pusat data di Indonesia. Namun, ekspansi pusat data mulai bergerak ke wilayah lain. Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi mulai menjadi lokasi pengembangan fasilitas data center seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital.
Perluasan tersebut membuat PLN perlu menyesuaikan perencanaan jaringan dan pasokan listrik dengan karakteristik masing-masing wilayah. Kebutuhan pusat data tidak hanya berkaitan dengan besarnya daya, tetapi juga kontinuitas pasokan dan kualitas listrik yang dibutuhkan untuk menjaga operasional fasilitas.
“Kami percaya ini baru permulaan. Kecerdasan buatan, cloud computing, layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan,” ungkap Dini.
PLN Dorong Perencanaan Sejak Awal
Dini mengatakan tantangan PLN bukan hanya menambah kapasitas pasokan listrik. Perseroan juga perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kapasitas, keandalan sistem, keterjangkauan harga, dan stabilitas jaringan dalam jangka panjang.
Baca Juga
Electrifying Agriculture PLN Bantu Produktivitas Petani di Musim Kemarau
Pengembangan pembangkit dan jaringan karena itu perlu dilakukan secara terintegrasi dengan rencana pembangunan data center. PLN mendorong pendekatan early alignment atau penyelarasan sejak tahap awal pengembangan fasilitas pusat data.
“Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak, didukung oleh proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah,” kata Dini.
Menurut dia, pengelolaan kebutuhan listrik pusat data perlu dilakukan melalui proses perencanaan bersama antara PLN, pelanggan, dan pemerintah.
