Harga Emas Turun di Bawah US$ 4.300, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun mendekati US$ 4.290 per troy ounce pada awal perdagangan Asia, Kamis (24/9/2026) setelah sinyal hawkish dari pejabat Federal Reserve (The Fed) memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS). Tekanan tersebut membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik ketika pasar memperkirakan biaya uang AS kembali meningkat.
Gubernur Federal Reserve Michael Barr mengatakan penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober mencapai 69,7%, meningkat dari 48,7% sepekan sebelumnya. Perubahan ekspektasi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Jadi Rp 2,627 Juta, Ini Daftar Lengkapnya
Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pasar mulai memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun.
“Pernyataan Fed pasca-FOMC cenderung agresif. Jadi pasar memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun. Dan itu memberi tekanan pada harga emas,” ujar Grant.
Barr memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama bank sentral AS. Ia mengatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan diperlukan agar inflasi dapat kembali ke target 2% dalam waktu yang tepat. Pernyataan tersebut muncul setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pekan sebelumnya ke kisaran 3,75%-4%.
Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil surat utang Pemerintah AS. Pada Kamis, emas sempat berada di sekitar US$ 4.295,5 per troy ounce setelah mengalami aksi jual tajam pada sesi sebelumnya.
Permintaan China Tetap Kuat
Data perdagangan yang dikutip Bloomberg menunjukkan impor emas China telah menembus lebih dari 1.000 ton hingga Agustus 2026, melampaui total impor sepanjang 2025. Pembelian tersebut didukung oleh permintaan investasi, penguatan yuan, serta harga emas domestik yang bertahan pada premi terhadap harga global.
Data yang sama menunjukkan ETF emas China menambah sekitar 44 ton hingga Agustus, meningkat 18% sejak awal tahun. Kondisi tersebut berbeda dengan kepemilikan ETF emas global yang relatif tidak banyak berubah dalam periode yang sama.
Baca Juga
HSBC Indonesia Rilis Reksa Dana Batavia Gold Sharia Equity USD, Bidik Saham Tambang Emas Global
World Gold Council juga mencatat arus dana positif pada ETF emas China. Pada Agustus, ETF emas China menambah 11 ton sehingga total kepemilikannya mencapai 293 ton. Nilai aset kelolaan ETF tersebut meningkat menjadi sekitar RMB 282 miliar atau sekitar US$42 miliar.
Permintaan dari bank sentral China juga meningkat. People's Bank of China menambah sekitar 20,2 ton emas pada Agustus, menjadi pembelian bulanan terbesar sejak Oktober 2023. Dengan tambahan tersebut, cadangan emas China mencapai 2.387 ton pada akhir Agustus dan pembelian telah berlangsung selama 22 bulan berturut-turut.
