Mendag Dorong Kelanjutan PTA RI-Sri Lanka, Bidik Perluasan Ekspor ke Asia Selatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mendorong kelanjutan perundingan Indonesia-Sri Lanka Preferential Trade Agreement (ISL-PTA) melalui putaran ketiga. Ia menekankan pentingnya Indonesia membuka pasar Sri Lanka melalui PTA yang saat ini sedang dalam tahap perundingan.
Dengan begitu, Indonesia dapat semakin memperbesar peluang ekspor ke pasar Asia Selatan. Hal tersebut disampaikan Mendag Busan pascapertemuan dengan Menteri Tenaga Kerja di Kabinet sekaligus Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan Sri Lanka, Anil Jayantha Fernando.
"Kami membahas sejumlah upaya untuk meningkatkan perdagangan antara Indonesia dan Sri Lanka. Salah satunya adalah dengan melanjutkan ISL-PTA melalui perundingan putaran ketiga. Kami optimistis perjanjian tersebut dapat bermanfaat bagi kedua negara," ujar Mendag dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga
Kadin Indonesia dan Kedutaan Besar Sri Lanka Perkuat Kerja Sama Perdagangan hingga Investasi
Indonesia dan Sri Lanka telah meluncurkan perundingan ISL-PTA pada 14 Maret 2024. Putaran pertama perundingan berlangsung secara daring pada 3—4 April 2024, dilanjutkan dengan putaran kedua di Kolombo, Sri Lanka pada 15—16 Juli 2024.
Sementara itu, Menteri Anil menyampaikan, Sri Lanka sedang melakukan reviu internal terhadap ISLPTA sebagai bagian dari kelanjutan perundingan. Ia berharap proses tersebut dapat segera diselesaikan sehingga kedua negara dapat mewujudkan perdagangan yang lebih terbuka dan kuat.
Pada Januari-Juli 2026, total perdagangan Indonesia dan Sri Lanka tercatat sebesar US$ 266 juta. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia sebesar US$ 244 juta dan impor US$ 22 juta. Sementara itu, pada 2025, nilai perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 530,2 juta. Ekspor Indonesia mencapai US$ 476,7 juta dan impor sebesar US$ 53,5 juta.
Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD 423,1 juta. Komoditas ekspor utama Indonesia ke Sri Lanka mencakup kopra, mobil dan kendaraan bermotor untuk angkutan orang, produk setengah jadi dari besi atau baja nonpaduan, asam lemak monokarboksilat industri, minyak asam, alkohol lemak industri, serta tembakau mentah dan sisa tembakau.
Sementara itu, komoditas impor utama Indonesia dari Sri Lanka mencakup kain rajutan atau kaitan, minyak bumi dan minyak yang diperoleh dari mineral bitumen, mesin untuk mengolah tembakau, serta beragam produk ban.
