MIND ID Ungkap 5 Tantangan Pengelolaan Minerba Nasional, Ini Rinciannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Holding BUMN pertambangan MIND ID melihat pengelolaan mineral dan batu bara (minerba) nasional menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di sisi lain, terbuka peluang membangun rantai nilai yang lebih terintegrasi agar kekayaan sumber daya alam (SDA) memberikan nilai tambah lebih besar bagi negara dan masyarakat.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan sedikitnya terdapat lima isu utama yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara ke depan. Persoalan tersebut mencakup keberlanjutan cadangan, volatilitas harga, biaya operasi, hingga kebutuhan penguatan hilirisasi.
Baca Juga
Hilirisasi Bauksit RI Diperluas, MIND ID Bidik Logam Tanah Jarang
“Ada lima isu yang menjadi perhatian kami. Yang pertama, dalam pengelolaan komoditas utama, kami menghadapi isu berkelanjutan cadangan, volatilitas harga, penerapan DMO yang belum konsisten, peningkatan biaya operasi, isu pembebasan dan tumpang tindih lahan, penambangan ilegal, dan kebutuhan sumber energi yang andal dan kompetitif,” ujar Maroef dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Menurut Maroef, tantangan berikutnya adalah pengelolaan sisa hasil pertambangan (SHP). Material sisa kegiatan pertambangan tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber daya baru apabila diolah menggunakan teknologi dan pendekatan ekonomi sirkular.
Khusus batu bara, MIND ID melihat besarnya sumber daya yang masih tersedia perlu diikuti dengan upaya meningkatkan nilai ekonominya. Pengelolaan batu bara berkalori rendah maupun sisa hasil pengolahan menjadi bagian dari tantangan tersebut.
“Pengelolaan sisa hasil pertambangan atau SHP tidak semata sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui teknologi dan ekonomi sirkular,” jelas Maroef.
Pada sektor mineral strategis, MIND ID mendorong hilirisasi bergerak lebih jauh. Pengolahan mineral tidak cukup berhenti pada produk antara atau midstream, melainkan perlu diarahkan menjadi material dan produk dengan nilai tambah lebih tinggi yang dibutuhkan industri nasional maupun pasar global.
“Indonesia perlu mendorong pemanfaatan mineral strategis untuk memperkuat industri nasional. Hilirisasi ke depan tidak cukup berhenti pada produk antara atau midstream, tetapi perlu diarahkan menuju material dan produk bernilai tambah yang lebih tinggi,” sebut dia.
Maroef menegaskan pengembangan rantai nilai tersebut harus berjalan bersamaan dengan perlindungan lingkungan, kepentingan masyarakat, serta tata kelola yang baik. Karena itu, agenda besar MIND ID adalah membangun rantai nilai mineral dan batu bara nasional yang semakin terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Baca Juga
Tegaskan Tanggung Jawab Keberlanjutan, Grup MIND ID Perkuat Penanganan Dampak Karhutla
“Seluruh pengembangan tersebut harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, kepentingan masyarakat, tata kelola yang baik, dan keberlanjutan. Oleh karena itu, bagi MIND ID, agenda besarnya adalah membangun rantai nilai mineral dan batu bara nasional yang semakin terintegrasi dari hulu ke hilir,” kata Maroef.
Untuk merealisasikan agenda tersebut, MIND ID menilai dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah dan DPR, BUMN, dunia usaha hingga lembaga penelitian. Sinergi tersebut diharapkan membuat kekayaan mineral dan batu bara tidak sekadar menjadi komoditas ekspor, tetapi menjadi fondasi industrialisasi, ketahanan ekonomi, dan penciptaan nilai tambah nasional.
