Askrindo Jamin Penyaluran KUR Rp 57 Triliun hingga Agustus 2026, Dukung 1,37 Juta Debitur
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) mencatat volume pertanggungan kredit usaha rakyat (KUR) mencapai sekitar Rp 57 triliun hingga Agustus 2026. Penjaminan tersebut mencakup 1,37 juta debitur dan mendukung penyerapan tenaga kerja sekitar 1,9 juta orang.
Direktur Utama Askrindo Fankar Umran mengungkapkan, pihaknya memiliki peran besar dalam memberikan penjaminan atas pembiayaan yang disalurkan pemerintah melalui perbankan.
“Karena kami adalah salah satu daripada penjamin, kami menjamin separuh daripada yang disalurkan pemerintah. Juga mengalami seirama dengan fluktuasi naik turunnya penyaluran nasional,” ujarnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Senin (14/9/2026).
Fankar menjelaskan, sepanjang 2025 Askrindo mencatat volume pertanggungan sebesar Rp 114 triliun dengan jumlah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mendapat dukungan mencapai sekitar 2 juta. Penjaminan tersebut turut berkontribusi terhadap penyerapan sekitar 3,7 juta tenaga kerja.
Baca Juga
Sementara, hingga Agustus 2026, volume pertanggungan Askrindo mencapai Rp 81 triliun. Jumlah UMKM yang telah mendapatkan dukungan mencapai 1,4 juta, dengan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sekitar 1,9 juta orang.
Dari total penyaluran yang dijamin Askrindo, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) menjadi bank penyalur dengan kontribusi terbesar. Sekitar 78% penyaluran didominasi BRI, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI).
Dominasi BRI, kata Fankar, juga terlihat dari sisi penerima manfaat. Sekitar 90% UMKM yang mendapatkan dukungan penjaminan Askrindo berasal dari nasabah BRI. sementara dari sisi tenaga kerja yang didukung, kontribusi nasabah BRI mencapai 85%.
Baca Juga
IFG Angkat Leonardo Henry Gavaza Sebagai Direktur Keuangan Askrindo
Pertanian dan Perdagangan Jadi Sektor Utama
Berdasarkan sektor usaha, penyaluran KUR yang dijamin Askrindo paling banyak mengalir ke sektor pertanian dan kehutanan dengan kontribusi 41%. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan sebesar 32% dan jasa-jasa sebesar 14%.
Fankar menyatakan, komposisi tersebut menunjukkan kuatnya peran KUR dalam menopang kegiatan ekonomi produktif, khususnya pada sektor yang banyak digeluti pelaku usaha mikro dan kecil.
“Kontribusi terbesar atau sektor usaha yang dibiayai dominan oleh perbankan adalah pertanian dan kehutanan 41%, kemudian perdagangan 32%, dan jasa-jasa 14%,” katanya.
Sementara berdasarkan segmen bisnis, penjaminan Askrindo didominasi oleh segmen mikro dan kecil. Porsi segmen mikro mencapai 79%, sedangkan segmen kecil sekitar 20%. Dengan begitu, hampir 99% penjaminan berada pada dua kelompok usaha tersebut. Segmen lainnya seperti segmen khusus, tenaga kerja Indonesia (TKI), dan super mikro hanya menggenggam porsi sekitar 0,1%.
Jawa Tengah Pimpin Penyaluran
Secara kewilayahan, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan penyaluran KUR terbesar yang dijamin Askrindo. Nilainya mencapai Rp 14,09 triliun, disusul Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Menurut Fankar, tingginya penyaluran KUR di sejumlah provinsi tersebut sejalan dengan besarnya jumlah pelaku UMKM di wilayah masing-masing.
“Kalai kita lihat, ini searah dengan jumlah pengusaha UMKM yang ada pada wilayah yang bersangkutan,” ucapannya.
Hingga Agustus 2026, Jawa Tengah juga menjadi wilayah dengan jumlah debitur dan tenaga kerja yang didukung paling besar. Jumlah debitur mencapai 279.000 dengan tenaga kerja yang didukung sekitar 392.000 orang.
Secara nasional, total debitur KUR yang telah mendapatkan penjaminan Askrindo mencapai sekitar 1,372 juta orang, dengan tenaga kerja yang didukung sekitar 1,9 juta orang. Fankar mengatakan, data tersebut menunjukkan bahwa fungsi penjaminan tak hanya berkaitan dengan mitigasi risiko pembiayaan perbankan, tapi juga memiliki dampak langsung terhadap keberlanjutan usaha UMKM dan penciptaan lapangan kerja.
