Indonesia Incorporated: Memimpin Global South Melalui Kekuatan Dunia Usaha
Poin Penting
|
Oleh: Teguh Anantawikrama - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Transformasi Teknologi dan Digital
INVESTORTRUST - Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh rivalitas geopolitik, perang dagang, perebutan teknologi, dan gangguan rantai pasok global, Indonesia menghadapi sebuah momentum yang mungkin hanya muncul sekali dalam satu generasi. Tatanan internasional yang selama puluhan tahun didominasi oleh segelintir kekuatan besar sedang mengalami perubahan mendasar. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru bermunculan di berbagai kawasan berkembang, sementara negara-negara Global South semakin percaya diri untuk menentukan arah pembangunan dan kepentingannya sendiri. Dalam konteks inilah, posisi Indonesia menjadi semakin penting, bukan hanya sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, melainkan juga sebagai salah satu negara yang memiliki legitimasi politik, kapasitas ekonomi, dan kredibilitas diplomatik untuk memainkan peran yang lebih besar dalam panggung global.
Pesan tersebut tercermin kuat dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi BRICS di New Delhi. Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan bahwa Indonesia akan tetap berdiri di atas prinsip bebas aktif, menjalin hubungan baik dengan semua negara, serta menolak terjebak dalam logika persaingan blok yang semakin mengeras. Sikap tersebut bukan sekadar pilihan diplomatik, melainkan fondasi dari apa yang dapat disebut sebagai doktrin kemandirian strategis Indonesia. Doktrin ini berangkat dari keyakinan bahwa Indonesia harus mampu bekerja sama dengan semua pihak tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan kepentingan nasionalnya sendiri. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, kemandirian strategis menjadi aset yang jauh lebih berharga dibandingkan keberpihakan yang sempit dan jangka pendek.
Namun demikian, kemandirian strategis tidak dapat dibangun hanya melalui diplomasi negara. Ia memerlukan fondasi ekonomi yang kuat, dunia usaha yang kompetitif, serta kapasitas nasional yang mampu mengubah posisi geopolitik menjadi keunggulan ekonomi. Tanpa kekuatan ekonomi yang memadai, kemandirian strategis hanya akan menjadi slogan politik yang sulit diwujudkan dalam praktik. Karena itulah peran dunia usaha menjadi sangat menentukan. Di era ketika ekonomi dan geopolitik semakin menyatu, pengusaha tidak lagi sekadar menjadi pelaku ekonomi, melainkan juga bagian dari instrumen strategis bangsa dalam memperkuat posisinya di dunia.
Dalam konteks tersebut, kehadiran Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dalam BRICS Business Forum di New Delhi memiliki makna yang jauh melampaui agenda bisnis biasa. Anindya membawa pesan bahwa Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam membangun ekosistem ekonomi baru yang sedang tumbuh di antara negara-negara Global South. Ia menegaskan pentingnya memperkuat konektivitas bisnis antarnegara anggota BRICS melalui kemudahan mobilitas pelaku usaha, interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara, serta investasi yang lebih besar pada sumber daya manusia dan infrastruktur ekonomi. Menurut Anindya, BRICS Business Council harus mampu mengidentifikasi hambatan-hambatan nyata yang dihadapi dunia usaha dan menyampaikannya kepada pemerintah masing-masing negara agar dapat diselesaikan secara konkret. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa integrasi ekonomi tidak cukup dibangun melalui deklarasi politik, melainkan harus diwujudkan melalui penyelesaian berbagai hambatan yang selama ini mengurangi daya saing pelaku usaha.
Pernyataan Anindya tersebut sesungguhnya mencerminkan kebutuhan utama dunia usaha saat ini. Pelaku ekonomi tidak membutuhkan retorika yang berlebihan. Mereka membutuhkan kepastian regulasi, efisiensi logistik, kemudahan pembayaran, akses pembiayaan, dan kemudahan mobilitas lintas negara. Ketika hambatan-hambatan tersebut dapat dikurangi, perdagangan akan tumbuh lebih cepat, investasi akan meningkat, dan peluang penciptaan lapangan kerja akan semakin besar. Oleh karena itu, agenda ekonomi BRICS seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai forum diplomasi, melainkan sebagai instrumen praktis untuk memperkuat daya saing dunia usaha anggota-anggotanya.
Bagi Indonesia, momentum ini membuka peluang yang sangat besar. Keanggotaan BRICS menempatkan Indonesia dalam jaringan ekonomi yang mencakup hampir separuh populasi dunia dan proporsi yang sangat signifikan dari produk domestik bruto global. Akses terhadap pasar yang luas tersebut memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonominya dari negara pengekspor komoditas menjadi negara yang memiliki posisi penting dalam rantai nilai global. Potensi tersebut semakin besar karena Indonesia memiliki kombinasi yang jarang dimiliki negara lain, yaitu sumber daya alam strategis, pasar domestik yang besar, stabilitas politik yang relatif baik, serta posisi geografis yang berada di jalur perdagangan internasional.
Karena itu, Indonesia perlu mulai melihat dirinya bukan sekadar sebagai negara berkembang yang sedang mengejar ketertinggalan. Indonesia harus mulai menempatkan dirinya sebagai salah satu pemimpin Global South. Perubahan ini bukan semata-mata soal kebanggaan nasional, melainkan perubahan cara pandang dalam merumuskan strategi pembangunan. Ketika Indonesia memandang dirinya sebagai pemimpin, maka fokus kebijakan tidak lagi terbatas pada bagaimana mengikuti perubahan global, melainkan bagaimana membentuk perubahan tersebut agar selaras dengan kepentingan nasional dan kepentingan negara-negara berkembang lainnya.
Dalam perspektif tersebut, peluang yang terbuka bagi Indonesia sangat luas. Indonesia dapat menjadi pusat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam strategis yang dibutuhkan dunia. Indonesia juga berpeluang menjadi pusat manufaktur baru yang melayani pasar negara-negara berkembang, sekaligus menjadi simpul perdagangan yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Di sektor digital, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun ekosistem ekonomi digital terbesar di kawasan dan menjadi model transformasi digital bagi negara-negara berkembang lainnya. Pada saat yang sama, sektor jasa seperti pendidikan, kesehatan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan teknologi berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru yang semakin penting dalam dekade mendatang.
Meski demikian, peluang sebesar apa pun tidak akan menghasilkan manfaat apabila tidak disertai kesiapan dunia usaha nasional. Tantangan terbesar pengusaha Indonesia saat ini bukan lagi keterbatasan pasar, melainkan kemampuan untuk berpikir dalam horizon yang lebih panjang. Terlalu banyak perusahaan yang masih terjebak dalam orientasi jangka pendek, mengejar keuntungan sesaat, dan enggan melakukan investasi yang hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian. Padahal perusahaan-perusahaan global yang mendominasi pasar dunia saat ini dibangun melalui investasi panjang dalam teknologi, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan tata kelola yang baik. Mereka menanam sebelum memanen dan membangun kapasitas sebelum peluang benar-benar terbuka.
Karena itu, konsep pengusaha pejuang menjadi semakin relevan. Pengusaha pejuang bukanlah mereka yang hanya berhasil membangun bisnis yang besar, melainkan mereka yang mampu melihat hubungan antara kepentingan perusahaan dan kepentingan bangsa. Mereka memahami bahwa daya saing nasional pada akhirnya akan menentukan daya saing perusahaan. Mereka menyadari bahwa investasi pada pendidikan, inovasi, produktivitas, dan keberlanjutan bukan sekadar biaya, melainkan fondasi bagi pertumbuhan jangka panjang. Pengusaha seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk mengisi doktrin kemandirian strategis dengan kekuatan ekonomi yang nyata.
Hal yang sama berlaku bagi jutaan pelaku UMKM Indonesia. Naik kelas pada era Global South tidak lagi cukup dimaknai sebagai peningkatan omzet atau pembukaan cabang baru. Naik kelas berarti mampu memenuhi standar internasional, menguasai teknologi digital, memperoleh sertifikasi global, serta menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di berbagai negara. Dengan kata lain, UMKM Indonesia harus bergerak dari sekadar pemain lokal menjadi bagian dari ekosistem ekonomi global. Proses tersebut memang tidak mudah, tetapi merupakan syarat mutlak apabila Indonesia ingin memperoleh manfaat maksimal dari perubahan lanskap ekonomi dunia.
Pada titik inilah gagasan Indonesia Incorporated menemukan relevansinya. Pemerintah, dunia usaha, BUMN, UMKM, perguruan tinggi, lembaga riset, dan masyarakat sipil harus bergerak dalam arah yang sama. Tantangan global yang semakin kompleks tidak dapat dijawab oleh satu institusi secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi nasional yang mampu menyatukan sumber daya, visi, dan energi bangsa untuk mencapai tujuan bersama. Indonesia Incorporated bukan sekadar slogan, melainkan kerangka berpikir yang menempatkan seluruh elemen bangsa sebagai bagian dari satu tim besar yang bekerja untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.
Dari New Delhi, sesungguhnya kita sedang menyaksikan lebih dari sekadar pertemuan para pemimpin dunia dan pelaku bisnis. Kita sedang menyaksikan lahirnya peluang historis bagi Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar dalam tatanan internasional yang sedang berubah. Doktrin kemandirian strategis yang ditegaskan Presiden Prabowo memberikan arah yang jelas mengenai posisi Indonesia di tengah dunia yang semakin multipolar. Sementara itu, gagasan dan langkah-langkah yang diperjuangkan Kadin Indonesia di bawah kepemimpinan Anindya Bakrie menunjukkan bagaimana dunia usaha dapat menjadi mitra strategis negara dalam menerjemahkan visi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang konkret.
Pada akhirnya, negara yang kuat bukanlah negara yang memiliki banyak sekutu atau sumber daya yang melimpah semata. Negara yang kuat adalah negara yang mampu mengubah peluang sejarah menjadi kemajuan nyata bagi rakyatnya. Momentum kebangkitan Global South memberikan kesempatan langka bagi Indonesia untuk melakukan hal tersebut. Pertanyaannya bukan lagi apakah peluang itu tersedia, melainkan apakah dunia usaha Indonesia memiliki keberanian, visi, dan ketekunan untuk memanfaatkannya. Jika jawabannya adalah ya, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi bagian dari perubahan dunia, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan yang menentukan arahnya.
