Swedia Sambangi Pertamina, Bahas Peluang Bisnis Energi Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero), menerapkan Dual Growth Strategy untuk menjaga ketahanan dan keterjangkauan energi sekaligus mendorong pengembangan bisnis rendah karbon. Strategi tersebut dijalankan melalui penguatan bisnis eksisting dan pengembangan energi hijau secara bersamaan.
Hal itu disampaikan Senior Vice President Business Sustainability Pertamina Wenny Ipmawan saat menerima kunjungan delegasi Swedia di Pertamina Digital Hub, Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026). Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan membuka peluang kolaborasi antara Indonesia dan Swedia dalam keberlanjutan, transisi energi, serta transformasi digital.
Baca Juga
Pertamina Is Mobilizing Capacity Amid a Nationwide Surge in Subsidized Fuel Demand
Wenny mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia membutuhkan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi dan agenda keberlanjutan. Untuk itu, transisi energi tidak diarahkan sebagai pilihan antara mempertahankan bisnis energi konvensional atau beralih sepenuhnya ke bisnis hijau.
“Keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak seharusnya dipandang sebagai dua tujuan yang bertentangan. Keduanya harus dapat berjalan secara beriringan. Hal tersebut kemudian kami terjemahkan ke dalam strategi Pertamina melalui Dual Growth Strategy,” kata Wenny dikutip Senin (14/9/2026).
Pada pilar pertama, Pertamina mengoptimalkan bisnis eksisting dengan meningkatkan produksi sektor hulu, memperkuat eksplorasi, pengeboran, perawatan, dan intervensi sumur. Di sektor hilir, perusahaan juga memperkuat bisnis pengolahan dan kegiatan strategis untuk menjaga ketahanan serta keterjangkauan energi nasional.
Pilar kedua diarahkan pada pengembangan bisnis rendah karbon. Pertamina memperkuat ekosistem biofuel dan mengembangkan panas bumi sebagai bagian dari portofolio energi rendah karbon perusahaan.
Saat ini, kapasitas panas bumi Pertamina mencapai sekitar 727 megawatt. Perusahaan menargetkan kapasitas tersebut meningkat menjadi 1 gigawatt pada 2028 dan 1,9 gigawatt pada 2038. Pertamina juga mengembangkan teknologi rendah karbon dan berbagai inisiatif dekarbonisasi untuk mendukung target net zero emissions 2060 atau lebih cepat.
Digitalisasi Jadi Pengungkit Pertumbuhan
Wenny mengatakan Pertamina menjadikan pemanfaatan data, teknologi, dan inovasi digital sebagai salah satu kapabilitas penting untuk menunjang operasional perusahaan. Melalui Pertamina Digital Hub, perusahaan mengintegrasikan berbagai kemampuan digital untuk mendukung pengambilan keputusan, meningkatkan visibilitas operasional, dan menghasilkan solusi bagi berbagai lini bisnis.
Pertamina Digital Hub berperan sebagai pusat pengembangan dan orkestrasi solusi digital perusahaan. Kapabilitas tersebut mencakup pemantauan operasional secara digital, pengembangan produk dan solusi melalui digital factory, serta orkestrasi teknologi dan inovasi untuk mendukung kolaborasi di seluruh rantai bisnis.
Di sisi lain, Kepala Delegasi Swedia sekaligus Head of Strategy PMO Business Sweden Anna Liberg mengatakan kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama Indonesia-Swedia. Menurutnya, terdapat kesesuaian antara kompetensi Swedia di bidang keberlanjutan, energi hijau, transportasi, pertambangan, digitalisasi, kehutanan, dan kesehatan dengan portofolio Pertamina.
Baca Juga
Tanker Minyak Pertamina pun Andil Selamatkan Penumpang dan Nakhoda KM Virgo Transport 8
“Kami sangat mengapresiasi kesempatan ini. Kami meyakini terdapat kesesuaian yang sangat baik antara berbagai bidang kerja sama Swedia dan Indonesia dengan portofolio Pertamina,” kata Anna.
Swedia juga terbuka berbagi pengalaman terkait energi hijau, kebijakan karbon, serta pengembangan bahan bakar hijau, termasuk pemanfaatan used cooking oil atau minyak jelantah.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perusahaan terus membuka kolaborasi dengan berbagai pihak dalam menjalankan Dual Growth Strategy. “Kolaborasi ini bertujuan untuk mendukung ketahanan energi nasional,” kata Baron.
