DBS: Rupiah Tetap Kuat Meski Impor Naik dan Perdagangan Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Senior Ekonom DBS Bank, Radhika Rao mengatakan, kinerja rupiah akan tetap kuat. Meski impor naik signifikan dan neraca perdagangan tak tumbuh kuat, rupiah masih bertahan dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS).
“Kesimpulan utama kami adalah meskipun impor meningkat, trade account tidak terlalu kuat, arus modal tetap positif,” kata Radhika, saat The Indonesia Equation: Risks, Returns, and the Road to 2027, yang digelar di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga
Rupiah Kokoh Hadapi Dolar AS, Yen Jepang Mencatat Penguatan Tajam
Radhika melihat arus modal yang masuk ke Indonesia melalui beberapa saluran, di antaranya arus modal langsung asing (foreign direct investment/FDI), portofolio di pasar uang, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dia menilai neraca pembayaran Indonesia tidak terlalu lemah karena arus modal yang masih kuat.
“Perdagangan memang lemah, tetapi arus modal kuat sehingga keduanya saling mengimbangi dan tidak menimbulkan masalah pada neraca pembayaran,” ucap dia.
Arus modal yang masuk ke Indonesia memperlihatkan bahwa kondisi Asia Tenggara masih menarik bagi investor. Hal ini terjadi di tengah penerapan tarif dan langkah-langkah proteksionisme perdagangan. “Dalam kondisi tersebut, kita justru melihat investasi meningkat ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” kata dia.
Menurut Radhika, Indonesia masih memiliki daya tarik karena sejumlah faktor. Salah satu yang menonjol, yaitu biaya tenaga kerja yang sangat kompetitif, terutama untuk sektor manufaktur.
“Biaya untuk tenaga ahli manufaktur, pekerja blue collar, maupun pekerja white collar masih cukup kompetitif jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya,” ujar dia.
Radhika mengatakan salah satu pendorong ini adalah strategi China Plus One dan Taiwan Plus One. Dua strategi ini akan mendorong FDI berjalan cukup positif. “Kami memperkirakan tren tersebut akan terus berlanjut, termasuk ke pasar Indonesia,” kata dia.
Faktor lainnya, kata Radhika, yaitu hilirisasi yang menunjukkan banyak keberhasilan, terutama dalam tiga atau empat tahun terakhir. Dalam dua tahun terakhir, investasi yang berkaitan dengan nikel cukup kuat. Meski harga komoditas mengalami pasang surut, hilirisasi akan membantu mengatasi dinamika naik-turunnya siklus industri tersebut.
“Kita dapat melihat bahwa energi terbarukan, transisi hijau, serta agenda hilirisasi menjadi bagian yang sangat penting dalam cerita FDI ini. Rantai pasok baterai juga merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan,” kata dia.
Selain itu, Radhika melihat adanya dorongan positif dari proyeksi peningkatan suku bunga acuan yang akan ditempuh Bank of Japan (BOJ) sebesar 25 bps. Ini telah membantu rupiah karena prospek arus modal yang positif.
Baca Juga
“Hal kedua yang membantu rupiah adalah dolar AS secara global telah melemah dari level tertingginya. Jadi, dolar yang lebih lemah, ditambah dengan prospek arus modal yang positif, diperkirakan akan membantu rupiah,” ujar dia.
DBS Bank memproyeksikan, sisa tahun ini nilai tukar rupiah akan berada di kisaran yang stabil dalam rentang Rp 17.600-18.000 per dolar AS. Dengan kondisi yang relatif stabil, Radhika melihat ruang bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, menjadi tak lagi penting.
“Dari perspektif tersebut, Bank Indonesia telah bertindak secara preemptive,” kata dia.
