RKAB Jadi Tantangan, GM Tractor Optimistis Pasar Alat Berat 'Rebound' 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan dinilai menjadi salah satu faktor yang menekan permintaan alat berat di Indonesia pada 2026. Di tengah pasar nasional yang terkontraksi sekitar 15%, PT Gaya Makmur Tractors (GMT), distributor alat berat, justru mencatat pertumbuhan penjualan lebih dari 20% hingga bulan lalu. Jika persoalan RKAB terselesaikan, pasar alat berat 2027 diprediksi akan rebound.
Sales and Marketing Director PT Gaya Makmur Tractors Yulius Sikku mengatakan dampak RKAB terasa karena kebutuhan alat berat sangat berkaitan dengan aktivitas produksi perusahaan tambang. Ketika rencana produksi dan kegiatan pertambangan mengalami penyesuaian, permintaan terhadap alat berat ikut terdampak.
"Secara keseluruhan hampir semua dealer berpandangan bahwa semua kita tahu RKAB jadi salah satu isu nasional untuk di dunia pertambangan, mau itu di batu bara maupun di nikel," kata Yulius saat konferensi pers di sela Indonesia Mining 2026 Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut secara tidak langsung menekan kebutuhan alat berat di Indonesia. Pelemahan itu tercermin dari kontraksi penjualan alat berat nasional sekitar 15% pada Agustus 2026.
Namun, kondisi tersebut belum menghentikan pertumbuhan GMT. Sebagai distributor berbagai merek alat berat asal China, seperti XCMC, GMT justru mencatat tren penjualan yang meningkat lebih dari 20%.
Baca Juga
Optimalkan I-EAEU FTA, Menko Airlangga Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat di Belarus
"Angka penjualan alat berat bulan lalu, itu secara nasional semua merek memang ada kontraksi sekitar 15%. Ada penurunan sekitar 15%. Nah, tapi kami sebagai dealer dari brand China, ini sedikit lebih beruntung, karena saat ini kita sampai bulan lalu, secara trend kalau GMT sendiri kita masih meningkat kira-kira lebih 20%," ujar Yulius.
Menurut dia, tekanan akibat RKAB juga membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam melihat prospek pasar alat berat pada 2027. GMT masih melihat peluang pemulihan, tetapi belum memasang proyeksi agresif karena arah kebijakan pemerintah terhadap komoditas tambang dan mineral masih menjadi perhatian.
Yulius mengatakan perusahaan masih mencermati bagaimana pemerintah mengatur produksi dan kegiatan pertambangan pada tahun depan. "Kalau aturannya konsisten dan tidak ada perubahan banyak, which is RKAB semuanya lancar, ya kita ekspektasi tahun depan akan ada rebound," katanya.
Sebaliknya, apabila kebijakan RKAB masih memberikan tekanan terhadap aktivitas pertambangan, kontraksi pasar alat berat berpotensi berlanjut. "Namun, kalau kebijakannya RKAB tetap seperti saat ini, ya bisa jadi kontraksi lebih lanjut terjadi di tahun depan," ujar Yulius.
Perusahaan kata dia, tetap optimistis terhadap peluang pertumbuhan, tetapi akan terus melihat perkembangan kebijakan pemerintah. "Jadi ya kalau pandangan kami ya cautiously optimistis ya. Kita lihat lah day by day gimana kebijakan pemerintah ke depan," kata Yulius.
Dorong Alat Berat Listrik
Di tengah tekanan pasar, GMT mendorong penggunaan alat berat berbasis listrik. Perusahaan melihat elektrifikasi sebagai salah satu cara untuk menawarkan biaya operasional yang lebih rendah kepada konsumen.
Menurut dia, biaya bahan bakar menjadi salah satu alasan utama perusahaan terus mendorong alat berat listrik. Kenaikan harga solar membuat biaya operasi alat berat konvensional semakin menjadi perhatian pelaku usaha. "Yang paling penting saat ini yang kita terus dorong, itu New Energy yang dari tema kita pada dua tahun terakhir," kata Yulius.
Berdasarkan uji yang dilakukan perusahaan, penggunaan alat berat listrik berpotensi memberikan penghematan biaya operasi sekitar 70%. Jika penghematan biaya perawatan turut diperhitungkan, total penghematan disebut dapat mencapai 80%-85%.
"Di alat berat EV (electrical vehicle) kita sudah coba dua tahun terakhir, itu pemilik alat EV itu bisa saving 70% hanya dari biaya operasi aja. Kalau ditambah dengan biaya maintenance itu penghematannya bisa mencapai 80%-85%," ujar Yulius.
GMT melihat perkembangan alat berat listrik berpotensi mengikuti pola pertumbuhan kendaraan listrik. Yulius mengatakan konsumen sebelumnya juga sempat meragukan kemampuan kendaraan listrik sebelum teknologi tersebut berkembang dan mendapatkan penerimaan pasar yang lebih luas. "Kami berkeyakinan bahwa trajektori perkembangan alat berat EV itu akan seperti trajektori perkembangan mobil EV," katanya.
Menurut Yulius, perkembangan kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang cepat. Hal tersebut menjadi gambaran bagi GMT mengenai peluang pertumbuhan alat berat listrik dalam lima tahun mendatang.
Baca Juga
GMT bahkan membidik pangsa pasar alat berat EV sekitar 20% dalam lima tahun ke depan. Perusahaan ingin mengambil posisi sebagai salah satu pemain awal ketika penggunaan alat berat listrik mulai meningkat. "Kalau lima tahun yang lagi market share alat berat EV itu mencapai 20%, which is GMT akan menjadi pemain pertama di situ," ujar Yulius.
Selain alat berat untuk pertambangan, Gaya Makmur Group juga mengembangkan kendaraan komersial berbasis listrik. Produk tersebut diarahkan untuk industri yang membutuhkan kendaraan dengan biaya operasional lebih rendah.
Yulius mengatakan perusahaan melihat peluang pertumbuhan pada segmen tersebut seiring meningkatnya perhatian konsumen terhadap biaya bahan bakar. Bagi perusahaan yang mengoperasikan armada dalam jumlah besar, penghematan biaya energi dapat memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional.
