Pertamina Andalkan 'Dual Growth Strategy' Hadapi Tantangan Energi Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina menerapkan dual growth strategy untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon sebagai sumber pertumbuhan baru di tengah kebutuhan energi nasional yang masih ditopang impor.
Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita menyampaikan strategi tersebut dalam sesi IdeaFest 2026 di Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Menurut dia, forum yang banyak diikuti generasi muda itu menjadi ruang untuk memperluas pemahaman mengenai tantangan energi sekaligus mendorong gagasan baru menghadapi kebutuhan energi masa depan.
Arya mengatakan Pertamina memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan energi nasional. Namun, kebutuhan energi Indonesia masih lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam negeri sehingga sebagian pasokan harus dipenuhi melalui impor.
Baca Juga
Pertamina Rampungkan Proyek Sisi Nubi di Mahakam, Gas 6,12 MMSCFD Mengalir
“Sudah lama sekali kita melakukan impor. Artinya, konsumsi kita lebih tinggi daripada produksi nasional. Di situlah kita perlu mendatangkan pasokan migas dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ujar Arya dikutip Minggu (6/9/2026).
Kondisi tersebut membuat penguatan produksi energi domestik menjadi salah satu agenda penting perusahaan. Pada saat yang sama, Pertamina mulai memperluas pengembangan sumber energi baru dan teknologi rendah karbon untuk menjawab perubahan kebutuhan energi dalam jangka panjang.
Melalui dual growth strategy, Pertamina menjalankan dua fokus secara bersamaan. Perusahaan tetap mengoptimalkan bisnis energi yang sudah berjalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sementara bisnis rendah karbon dan energi baru terbarukan terus dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan berikutnya.
“Untuk memenuhi kebutuhan saat ini, kita harus menjaga ketahanan produksi agar masyarakat tetap mendapatkan BBM. Di sisi lain, kita juga membangun bisnis rendah karbon dan energi baru terbarukan,” jelas Arya.
Pertamina telah mengembangkan sejumlah potensi energi terbarukan dan teknologi rendah karbon. Pengembangan tersebut mencakup panas bumi, energi surya, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF).
Salah satu inovasi yang dikembangkan Pertamina adalah pemanfaatan used cooking oil (UCO), yakni minyak jelantah, sebagai bahan baku SAF. Minyak jelantah yang telah dikumpulkan kemudian diproses di Kilang Pertamina Cilacap bersama bahan baku pendukung lainnya untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan rendah karbon.
Arya mengatakan pengembangan SAF berbasis minyak jelantah telah melalui proses penelitian dan pengujian dalam waktu panjang. Riset mengenai teknologi tersebut telah dimulai sejak 2015, sedangkan proses uji coba berlangsung pada 2021 hingga 2025.
“Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025,” kata Arya.
Baca Juga
Penggunaan SAF berbasis minyak jelantah juga telah masuk ke tahap pemanfaatan pada penerbangan komersial. PT Pelita Air Service, maskapai penerbangan yang merupakan bagian dari ekosistem usaha Pertamina, telah menggunakan bahan bakar tersebut pada penerbangan rute Jakarta-Bali.
Selain SAF, Pertamina terus mengembangkan sumber energi terbarukan lain, termasuk panas bumi dan energi surya. Pengembangan tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan bisnis energi eksisting yang masih dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi energi nasional.
Arya mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi perubahan sistem energi. Pertamina tidak serta-merta meninggalkan sumber energi yang saat ini masih menjadi kebutuhan utama masyarakat, tetapi secara bersamaan mulai membangun portofolio energi yang lebih rendah karbon.
“Untuk memenuhi kebutuhan kita, energi yang existing tetap dijalankan, sembari terus mengembangkan energi yang ramah lingkungan,” pungkas Arya.
