Produksi Minyak Baru 578.156 BOPD, ESDM Ungkap 3 Biang Kerok Penghambat Target 2026
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan produksi minyak nasional hingga 31 Juli 2026 tercatat rata-rata 578.156 barrel oil per day (BOPD). Capaian tersebut masih di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 610.000 BOPD.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah masih terus mengupayakan peningkatan produksi minyak dan gas bumi agar target yang ditetapkan tahun ini dapat tercapai.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Hampir 3%, AS Ancam ‘Sanksi Ekonomi Terberat’ untuk Iran
“Sampai dengan 31 Juli rata-rata produksi minyak itu ada di angka 578.156 BOPD. Demikian juga dengan realisasi produksi gas bumi, keduanya memang sampai hari ini masih kita upayakan untuk bisa mencapai target produksi di tahun 2026 ini,” kata Laode dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, terdapat sejumlah tantangan yang memengaruhi kinerja produksi migas nasional. Salah satu kendala utama terjadi pada awal 2026, yakni kebocoran pipa milik Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang mengganggu pasokan gas menuju Blok Rokan.
“Pada awal 2026 ini adanya kebocoran pipa TGI yang menyebabkan terganggunya produksi Rokan, karena pasokan gas yang menuju kepada Rokan terhambat,” sebut Laode.
Selain gangguan pasokan gas, produksi Blok Rokan juga menghadapi kendala pada sistem kelistrikan. Pemerintah saat ini masih mengupayakan perbaikan pembangkit agar dapat segera beroperasi kembali sehingga kegiatan produksi di blok tersebut bisa kembali optimal.
“Ini terkait dengan kendala sistem kelistrikan yang hingga saat ini masih kami upayakan agar pembangkit ini nanti bisa segera kita perbaiki dan dioperasikan kembali sehingga bisa optimal kembali produksi di Blok Rokan,” jelas dia.
Tantangan lainnya berasal dari Blok Cepu yang mengalami natural decline atau penurunan produksi secara alamiah dengan tingkat yang cukup ekstrem sepanjang 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan produksi minyak nasional.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 3%, AS Pilih Tekanan Ekonomi Hadapi Iran daripada Perang
Laode mengatakan pemerintah telah berdiskusi dengan operator lapangan dan operator wilayah kerja (WK) untuk menekan laju penurunan produksi Blok Cepu. Berbagai langkah telah diambil agar natural decline dapat direduksi.
“Kondisi yang terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar, jadi jangan turun lagi (produksinya). Seperti itu yang kita lakukan dengan lapangan Cepu,” pungkas Laode.
