Naik Level dengan 3 Standar ISO, PHR Buktikan Operasional Migas Bisa Makin Aman
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mempertahankan tiga sertifikasi standar internasional melalui proses surveillance kedua di Jakarta, sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola dan efektivitas proses bisnis di wilayah operasinya. Ketiga sertifikasi tersebut mencakup ISO 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu, ISO 14001:2015 untuk Sistem Manajemen Lingkungan, dan ISO 45001:2018 untuk Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Direktur Utama PHR Muhamad Arifin mengatakan penerapan ISO tidak hanya ditujukan untuk memperoleh sertifikat. Standar tersebut harus menjadi instrumen yang mendorong organisasi agar lebih adaptif dan efektif.
Baca Juga
PHR Siapkan 3 Sumur Migas Non-Konvensional di Rokan, Tajak Perdana Desember 2026
“ISO bukan sekadar sertifikasi atau selembar kertas yang kita banggakan karena mendapatkan validasi. Yang terpenting, standar tersebut mampu mendorong perbaikan sehingga organisasi menjadi lebih lincah, adaptif, dan fleksibel,” ujar Arifin dikutip Rabu (26/8/2026).
Menurut Arifin, pembangunan perusahaan yang unggul membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, prosedur yang andal, pemanfaatan teknologi dan inovasi, serta pencapaian kinerja. Kepatuhan terhadap prosedur dan standar menjadi salah satu fondasi agar setiap proses dapat berjalan secara konsisten dan dipertanggungjawabkan.
Arifin mengatakan keunggulan perusahaan juga ditentukan oleh kualitas orang yang menjalankan proses bisnis serta penerapan prosedur yang memastikan kepatuhan. Pada sisi teknologi, Zona Rokan menjadi salah satu wilayah operasi yang telah menerapkan berbagai teknologi dan metode pengembangan lapangan dalam industri hulu minyak dan gas bumi.
PHR telah menerapkan metode primary recovery, secondary recovery, hingga tertiary recovery dalam pengembangan lapangan. Primary recovery merupakan tahap awal pengambilan minyak dengan memanfaatkan tekanan alami reservoir, sedangkan secondary recovery menggunakan metode tambahan untuk meningkatkan perolehan minyak. Tertiary recovery dilakukan dengan teknologi lanjutan untuk meningkatkan produksi dari reservoir yang telah memasuki tahap lebih matang.
PHR juga mempersiapkan penerapan teknologi dan metode pengembangan baru untuk membuka potensi produksi, termasuk melalui pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK).
“Rokan merupakan salah satu yang terbaik. Apa pun yang ada di dunia migas, hampir semuanya ada di Rokan. Kita memiliki primary, secondary, tertiary, dan ke depan MNK juga segera diimplementasikan. Ini menunjukkan bahwa teknologi dan inovasi menjadi bagian penting dari perjalanan kita untuk menjadi perusahaan yang unggul,” tutur Arifin.
Selain pengembangan teknologi, Arifin mengatakan keunggulan perusahaan harus tercermin dalam pencapaian kinerja. Untuk itu, PHR menjaga keseimbangan antara kualitas proses dan hasil akhir, termasuk produksi, aspek health, safety, security, and environment (HSSE), serta kinerja keuangan.
PHR selanjutnya berencana memperkuat dan memperluas penerapan standar serta sistem manajemen perusahaan. Langkah tersebut mencakup upaya mempertahankan sertifikasi yang sudah dimiliki sekaligus membuka peluang penerapan standar baru.
Baca Juga
PHR Sumbang Sepertiga Produksi Minyak Nasional, Hasilkan Hampir 200 Ribu Barel per Hari
Perluasan juga diarahkan pada cakupan area sertifikasi di Regional 1 yang meliputi Zona 1, Zona Rokan, dan Zona 4. Langkah tersebut akan memperluas penerapan sistem manajemen di wilayah operasional PHR yang mencakup kegiatan usaha hulu migas di Sumatra.
Direktur Commercial PT Sucofindo Agus Permadi mengapresiasi keberhasilan PHR mempertahankan tiga sertifikasi ISO hingga surveillance kedua. Menurut dia, pencapaian tersebut menunjukkan konsistensi PHR dalam menjalankan sistem manajemen dan memperkuat tata kelola perusahaan.
PT PHR menjalankan tugas dari Subholding Upstream Pertamina untuk mengelola bisnis dan operasional kegiatan usaha hulu migas di Wilayah Kerja Regional 1 Sumatra yang terbentang dari Aceh hingga Sumatra Selatan.
