Penetrasi Motor Listrik Masih di Bawah 1%, Aismoli Ungkap 5 Biang Keroknya
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar motor listrik Indonesia dinilai masih jalan di tempat meski jumlah produsen dan kapasitas industri terus bertambah. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) mencatat penetrasi motor listrik masih di bawah 1% dari total populasi sepeda motor konvensional yang mencapai sekitar 145 juta unit.
Public Relation & Event Executive Aismoli, Riniwaty Sinaga mengatakan, kondisi ini menjadi paradoks bagi Indonesia yang memiliki basis industri sepeda motor terbesar di ASEAN. Di sisi lain, jumlah pelaku industri motor listrik terus bertambah dan investasi tetap berjalan.
"Kalau dibilang industri bertumbuh enggak? Bertumbuh. Mereknya nambah, kapasitas produksinya juga nambah, lokalisasinya juga mereka tetap berkembang," kata Rini di Jakarta, dikutip Minggu (23/8/2026).
Baca Juga
Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 Juta per Unit, Aismoli: Bisa Pengaruhi Penjualan
Berdasarkan data Aismoli, terdapat 83 perusahaan yang terdaftar di Kementerian Perindustrian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 perusahaan merupakan produsen sepeda motor listrik roda dua.
Namun, pertumbuhan industri belum diikuti permintaan yang stabil. Penjualan motor listrik sempat melonjak dari sekitar 17.000 unit pada 2022 menjadi 77.000 unit pada 2024, terutama setelah adanya insentif pembelian dari pemerintah.
Momentum itu berbalik setelah program insentif dihentikan. Penjualan motor listrik turun sekitar 23% pada 2025, meski Aismoli menilai kontraksi tersebut masih relatif kecil dibandingkan sejumlah negara lain yang mencatat penurunan lebih dari 50% setelah insentif dicabut.
Menurut Rini, kondisi tersebut menunjukkan pelaku industri sudah telanjur menanamkan investasi cukup besar sehingga tidak mudah meninggalkan pasar Indonesia. "Industri sudah investasi besar dan mereka tidak serta-merta kemudian menarik diri," ujarnya.
Lima masalah utama
Aismoli mengidentifikasi lima kesenjangan utama yang masih menghambat adopsi motor listrik di Indonesia. Kelima faktor tersebut mencakup keterjangkauan harga, kepercayaan konsumen, layanan purnajual, nilai jual kembali, serta kepastian kebijakan pemerintah.
Dari lima faktor tersebut, kepastian kebijakan dinilai menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan investasi industri. Rini mengatakan pelaku usaha membutuhkan kejelasan mengenai besaran dan waktu pelaksanaan insentif agar dapat menyusun strategi bisnis sekaligus komunikasi kepada konsumen.
Baca Juga
Tanggapi Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 Juta, Wamenperin Sebut Kuota Berpeluang Ditambah
Sebelumnya, pemerintah memastikan insentif pembelian motor listrik 2026 sebesar Rp 3 juta per unit dengan anggaran Rp 3 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan insentif sebelumnya yang mencapai Rp 7 juta per unit dan dinilai Aismoli dapat memengaruhi daya beli konsumen.
"Kalau September lebih baru dijalankan rasanya enggak efektif," tegas Rini. Menurutnya, semakin lambat program insentif berjalan, semakin pendek pula waktu yang tersedia bagi masyarakat untuk memanfaatkannya hingga akhir 2026.

