Rasio Kewirausahaan Indonesia Masih 3,29%, Tertinggal dari Malaysia dan Singapura
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkap rasio kewirausahaan Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Direktur Bina Usaha Perdagangan Kemendag Franciska Simanjuntak menyebut rasio kewirausahaan Indonesia saat ini berada di kisaran 3,29%. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 4,74% dan Singapura sebesar 8,76%.
"Kalau kita melihat data kewirausahaan di Indonesia saat ini adalah sekitar 3,29% dan kalau kita membandingkan dengan negara-negara tetangga, peluang kewirausahaan ini masih cukup terbuka lebar," ujar perwakilan Kemendag dalam konferensi pers pre-event International Franchise License and Business Concept Expo Conference (IFRA) 2026, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Tak hanya terhadap negara tetangga, Franciska juga memaparkan kalau posisi Indonesia juga masih tertinggal dari negara maju seperti Amerika Serikat (AS) yang memiliki rasio kewirausahaan sekitar 12%.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang terjun ke dunia usaha. Pemerintah bahkan menargetkan rasio kewirausahaan nasional dapat meningkat hingga 10-12%.
Baca Juga
Kemendag Bidik Pertumbuhan Waralaba Indonesia Capai 7% Tahun Ini
"Kita memang harus mencapai target rasio sekitar 10-12%," ungkap Franciska.
Dia mengatakan, peningkatan rasio kewirausahaan menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah. Karena itu, Kemendag terus mendorong berbagai program yang dapat memperkenalkan dan mempermudah masyarakat, khususnya generasi muda, untuk masuk ke dunia usaha.
Salah satu program yang didorong adalah Kampus Prener, yang menyasar mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Program tersebut tidak hanya memberikan pengenalan terhadap sistem bisnis, tetapi juga mendorong mahasiswa agar berani menjadi wirausahawan.
"Menurut kami sekarang ini sarjana kedokteran jangan semua jadi dokter, tapi mereka harus memikirkan bidang wirausaha, alat-alat apa ataupun kesempatan usaha apa yang bisa mendorong sektor kedokteran ini untuk tumbuh," terangnya.

