Ambisi Bangun Mal Bawah Tanah Pertama di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id — PT MRT Jakarta (Perseroda) melalui anak usahanya, PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), menyiapkan extended concourse Stasiun MRT Bundaran HI dengan konsep area komersial (mal) bawah tanah yang akan diisi sekitar 24-25 tenant.
Pembangunan extended concourse tersebut menelan investasi sekitar Rp 200 miliar dari kontribusi Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan ditargetkan rampung pada Mei 2027.
Head of Commercial Department MRT Jakarta, Ricky Agung Kresna Putra menyatakan, tenant yang akan mengisi area tersebut akan dikurasi dengan konsep yang berbeda dari pusat perbelanjaan pada umumnya.
Baca Juga
Telan Investasi Rp 25,3 Triliun, Progres MRT Bundaran HI-Kota Capai 63%
"Harapan kita tentunya, kita mau coba hal yang baru dengan konsep yang berbeda. Karena ini kan pertama kalinya di Indonesia punya mal di bawah tanah," kata Ricky saat ditemui di lokasi proyek extended concourse Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, MRT Jakarta tidak mengarahkan extended concourse sebagai pusat one-stop shopping, melainkan sebagai area yang berorientasi pada destinasi (destination-oriented). "Jadi destination-oriented. Jadi ada lifetime-nya," jelas Ricky.
Ricky menyampaikan, tenant yang sudah memiliki gerai di pusat perbelanjaan tetap dimungkinkan hadir di extended concourse. Namun, konsep maupun merek yang dihadirkan akan melalui proses kurasi.
"Walaupun nanti ada tenant yang di sini, ada juga di mal, pasti akan ada brand-nya lain, mungkin konsepnya juga akan berbeda. Tentunya kami akan kurasi juga," tegas dia.
Dia menambahkan, MRT Jakarta akan mengutamakan tenant yang menawarkan konsep berbeda sehingga pengguna merasakan pengalaman yang berbeda saat berada di area tersebut.
"Kalau memang konsepnya berbeda, yang mending pengguna merasa berbeda, karena juga ada hal-hal yang baru, itu yang diutamakan," ujar Ricky.
Ricky mengatakan, proses penjajakan tenant untuk extended concourse Bundaran HI sudah berjalan. Sejumlah pihak disebut telah menghubungi MRT Jakarta untuk menanyakan peluang kerja sama.
"Kalau misalnya sudah, tentu sudah banyak, karena ini memang sudah banyak yang tahu juga bahwa area ini, extended concourse namanya, pasti beberapa (mitra) sudah datang ke kami tentunya," ucap dia.
Baca Juga
Hak Penamaan Stasiun MRT Benhil dan Haji Nawi Mulai Dilirik, Siapa Peminatnya?
Meski demikian, belum ada tenant yang dipastikan telah mengambil area tersebut. MRT Jakarta masih melakukan pembahasan internal dan penjajakan dengan calon tenant.
"Tapi kalau untuk fix-nya sudah pasti ada yang ngambil, itu belum. Jadi kami masih ngobrol satu sama lain di internal kami," tutur Ricky.
MRT Jakarta menargetkan pembahasan lebih lanjut dengan calon tenant dapat dilakukan pada kuartal IV/2026. Nantinya, MRT Jakarta akan mengumumkan bentuk kerja sama dan tenant yang akan hadir.
"Untuk targetnya sih kami pinginnya, sebenarnya sih di Q4 ini mungkin sudah akan ngobrol lebih lanjut lagi," tandas Ricky.
Terkait kontribusi pendapatan, lanjut Ricky, MRT Jakarta telah memiliki target komersial dari keberadaan tenant di extended concourse. Namun, dia tidak mengungkapkan nilai target tersebut. "Kalau berapanya kami mungkin tidak bisa share lebih lanjut, tapi lagi-lagi target pasti ada," katanya.
Ricky menegaskan, keberadaan area komersial tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pendapatan, tetapi juga memberikan "more customer experience" bagi pengguna MRT Jakarta.
"Yang paling penting kan bukan angka yang kami ingin dapatkan, tapi lebih kepada kalau memang sudah berjalan, penggunanya merasakan hal yang berbeda," katanya.
Dia juga menilai konsep extended concourse berbeda dengan Blok M Hub. Dikatakan, cakupan area dan bentuk kerja sama pada extended concourse lebih terbatas sehingga peluang kerja sama komersial lebih diarahkan pada skema co-branding.
"Kalau ini mungkin jangkanya lebih pendek, tidak sepanjang naming rights, karena memang areanya juga kan untuk visi bedanya tidak seluas stasiun. Juga mungkin benefit yang ditambahkan tidak seluas stasiun juga, mungkin lebih ke co-branding," terang Ricky.
Konsep mal bawah tanah sendiri telah diterapkan di sejumlah negara. Di Singapura misalnya, terdapat CityLink Mall yang merupakan mal bawah tanah pertama di negara tersebut dan terhubung langsung dengan Stasiun MRT City Hall dan Esplanade. CityLink memiliki sekitar 60.000 kaki persegi area ritel dengan sekitar 70 tenant.
Selain itu, Singapura juga memiliki Marina Bay Link Mall yang berada di bawah kawasan Marina Bay Financial Centre dan terintegrasi dengan jaringan pejalan kaki bawah tanah serta stasiun MRT.
Pemerintah Singapura menjadikan jaringan bawah tanah tersebut sebagai bagian dari konektivitas antara gedung, pusat aktivitas, dan stasiun MRT di kawasan pusat bisnis.
Sementara di Jepang, kawasan pertokoan bawah tanah telah berkembang di sejumlah kota besar sejak dekade 1950-an dan 1960-an.
Salah satu contohnya adalah Crysta Nagahori di Osaka yang dibuka pada 1997 sebagai salah satu pusat perbelanjaan bawah tanah terbesar di Jepang.

