Blok Masela Masuk Fase Konstruksi, Investasi US$20,9 Miliar Dorong Ekonomi Maluku
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Gas Abadi Blok Masela resmi memasuki tahap pembangunan pasca-groundbreaking pada Juli 2026. Proyek hulu migas dengan nilai investasi mencapai US$ 20,9 miliar itu diproyeksikan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, khususnya Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Blok Masela yang dioperasikan INPEX Masela Ltd bersama PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas Masela memiliki cadangan gas sebesar 18,54 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF). Proyek ini dirancang memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD) untuk kebutuhan domestik, serta 35.000 barel kondensat per hari.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Brampi Moriolkosu, mengatakan pemerintah daerah mulai mempersiapkan masyarakat agar dapat terlibat dalam proyek tersebut melalui pendampingan usaha kecil dan menengah (UKM), kelompok tani, peternak, serta pengembangan tenaga kerja lokal.
“Kita sedang melakukan inventarisasi UKM, kelompok tani, dan kelompok peternak. Yang belum aktif akan didampingi agar mampu berkontribusi dalam proyek strategis nasional ini,” kata Brampi, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga
Tugu Insurance (TUGU) Siap Orkestrasi Proteksi Proyek Blok Masela
Pemda juga menyiapkan kerja sama dengan sektor swasta untuk pelatihan tenaga kerja serta pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan, jembatan, dan fasilitas perkantoran guna meningkatkan konektivitas antarwilayah di Kepulauan Tanimbar.
Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Wuryanto menilai Blok Masela akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia timur. Menurut dia, proyek berbasis darat (onshore) tersebut berpotensi menciptakan pusat ekonomi baru di sekitar lokasi kilang dan pelabuhan.
Pada masa puncak konstruksi, proyek ini diperkirakan menyerap 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bambang juga menegaskan bahwa sekitar 40% produksi gas Masela akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik sesuai rencana pengembangan (Plan of Development/POD).
“Di dalam POD sudah jelas bahwa 40% produksi Masela akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri,” ujar Bambang.
Baca Juga
Blok Masela Groundbreaking setelah 28 Tahun Mangkrak, Prabowo Ungkap Strateginya
Pengamat energi sekaligus Dosen Senior Universitas Darma Persada, Riki F. Ibrahim, menilai dimulainya konstruksi fisik mengharuskan perhatian lebih besar pada pengelolaan dampak sosial dan ekonomi di daerah. Menurutnya, pemerintah perlu mengantisipasi potensi inflasi daerah, spekulasi harga tanah, serta menjaga harmonisasi antara tenaga kerja lokal dan pendatang.
Riki menilai investasi Blok Masela dapat menjadi pendorong pemerataan ekonomi berbasis kawasan timur (east-centric growth) dan mengubah Maluku menjadi pusat industri energi baru. Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan Participating Interest (PI) 10% secara profesional serta pembentukan dana abadi daerah agar manfaat ekonomi proyek dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Selain menopang pasokan energi nasional melalui alokasi gas domestik, Blok Masela juga dirancang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna memenuhi standar lingkungan global dan meningkatkan daya saing gas Indonesia di pasar internasional.

