Anindya Bakrie Sebut Indonesia Bisa Menjadi Primadona Ekonomi Dunia, Ini Alasannya!
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, Indonesia merupakan satu dari tiga negara yang berpotensi menjadi primadona ekonomi dunia. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang bisa terus dikembangkan di tengah berbagai krisis dan konflik geopolitik.
“Ada tiga negara yang diharapkan menjadi primadona. Yang pertama adalah Indonesia, kedua India, ketiga Arab Saudi. Karena China juga dianggap sedikit melambat,” ujar Anindya Bakrie dalam acara "Blak-Blakan soal Mobil Nasional dan Polemik LFP vs Nikel" di Jakarta, Senin (29/01/2024).
Baca Juga
BKPM Sebut Hilirisasi Jadi Tren Investasi 2024, Ini Penjelasannya
Anindya memaparkan, ketiga negara tersebut digadang-gadang menjadi primadona karena memiliki keunggulannya masing-masing. Arab Saudi sedang membangun industrial park yang diproyeksikan menjadi kekuatan mereka di masa depan.
Adapun India, menurut Anin, akan fokus membuat berbagai produk bernilai tambah tinggi berbasis semikonduktor. “Sebagai gambaran, di bus listrik ada 3.000 chips untuk satu bus. India akan fokus di situ,” tutur Chief Executive Officer (CEO) PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tersebut.
Indonesia sendiri, kata Anindya Bakrie, mesti fokus pada critical materials di bawah tanah, seperti nikel, bauksit, tembaga, dan seng. Maka wajar jika pemerintah ingin menggenjot hilirisasi sektor pertambangan.
“Hilirisasi atau bahasa dulunya industrialisasi bukan hal baru. Di mana-mana dilakukan. Paling ngetop dulu kan? Kalau kita menonton Peaky Blinders, itu kan pertama kali kita lihat belajar industrialisasi. Dilakukan di Inggris dengan batu bara. Mereka menikmati, bisa menjadi jagoan saat Perang Dunia I,” papar dia.
Baca Juga
Kontribusi Positif Hilirisasi, Sumbang 26,5% Realisasi Investasi 2023
Anin menegaskan, hilirisasi hasil tambang bukan saja bisa menghasilkan nilai tambah yang luar biasa besar terhadap perekonomian nasional, tapi juga membawa kesejahteraan lebih merata. “Kenapa? Karena critical minerals ini kebanyakan ada di Timur,” tegas Anindya Bakrie.
Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Luthfi mengatakan, hilirisasi juga membuat nilai ekspor Indonesia meningkat. Neraca perdagangan ekspor nijih (ore) nikel pada Desember 2019 bernilai US$ 1,1 miliar. Setelah diolah, nilai ekspornya meningkat menjadi US$ 10,86 miliar pada Desember 2020.

