Anindya Bakrie: Kadin Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan komitmen dunia usaha untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) menuju pertumbuhan ekonomi 8%.
Komitmen tersebut disampaikan Anindya saat memberikan paparan dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan jajaran Kadin Indonesia, Kadin Provinsi, Asosiasi, dan himpunan pengusaha dari seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Mengawali sambutannya, Anindya menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas kesempatan mempertemukan para pelaku usaha dari seluruh Indonesia, mulai dari Aceh, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Papua Barat, Papua Barat Daya, hingga berbagai daerah lainnya.
"Kami merasa ini merupakan suatu kehormatan yang luar biasa karena dapat hadir bersama seluruh keluarga besar Kadin Indonesia. Terima kasih kepada Bapak Presiden atas kesempatan ini," ujar Anindya.
Ia menegaskan bahwa Kadin merupakan induk organisasi dunia usaha yang menaungi Kadin Provinsi, asosiasi, serta himpunan pelaku usaha sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987. Dalam menjalankan fungsinya, Kadin memiliki dua peran utama, yakni sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus wadah dunia usaha yang mengemban amanat Pasal 33 UUD 1945 mengenai demokrasi ekonomi, asas kekeluargaan, gotong royong, dan ekonomi kerakyatan.
Anindya mengungkapkan bahwa sejak pertemuan dengan Presiden Prabowo di Hambalang sekitar satu tahun lalu, Kadin telah mempersiapkan diri menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Saat itu, kata dia, Presiden telah mengingatkan bahwa dunia akan memasuki masa penuh gejolak, bukan hanya perang dagang, tetapi juga konflik fisik yang berdampak terhadap perekonomian global.
"Kami menyadari bahwa ketahanan energi, ketahanan pangan, dan ketahanan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional. Karena itu kami memilih untuk tetap optimistis dan mencari solusi," katanya.
Menurut Anindya, meskipun tantangan global semakin berat, Indonesia masih berada pada posisi yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain.
Ia menilai fundamental ekonomi nasional tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga sekitar 5% selama dua dekade terakhir serta tingkat inflasi yang tetap terkendali. "Kondisi ini memang tidak mudah, tetapi justru menjadi normal baru yang harus kita hadapi bersama," ujarnya.
Anindya menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi agar mampu keluar dari middle income trap.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sekitar 5% selama dua dekade terakhir merupakan fondasi yang kuat, namun perlu ditingkatkan secara bertahap menuju target 8%.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam melakukan evaluasi serta penguatan berbagai program pembangunan yang dinilai mendapat respons positif dari pasar dan lembaga pemeringkat internasional.
Anindya menyebut pula kehadiran Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia memiliki peran strategis dalam menarik investasi baru bersama sektor swasta.
"Kadin siap bahu-membahu dengan pemerintah dan Danantara untuk mendorong investasi, memperkuat dunia usaha, serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8 persen. Kami berharap Bapak Presiden selalu sehat dan dapat memimpin Indonesia melewati berbagai tantangan menuju negara maju," kata Anindya.
Sinergi Daerah Dorong Pertumbuhan
Anindya mengatakan Kadin terus melakukan konsolidasi hingga ke daerah untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah. Berdasarkan berbagai kunjungan ke sejumlah provinsi seperti Maluku Utara, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tenggara Barat, ia melihat kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah dan Kadin mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya bergantung pada belanja APBN maupun APBD, tetapi juga lahir dari kreativitas dan inisiatif dunia usaha di daerah.
"Kami melihat korelasi yang sangat positif. Ketika kemitraan pemerintah daerah dan Kadin berjalan baik, pertumbuhan ekonomi daerah juga meningkat secara signifikan," katanya.
Empat Quick Wins Kadin
Anindya menjelaskan, sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo, Kadin langsung mengonsolidasikan organisasi dan meluncurkan empat program cepat (quick wins) yang dinilai memiliki dampak ekonomi besar.
Program pertama adalah Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Gotong Royong. Hingga saat ini, Kadin telah berkontribusi melalui pembangunan dan dukungan terhadap 866 dapur MBG, termasuk 128 dapur di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Anindya, program tersebut memiliki efek pengganda yang besar karena berdasarkan riset UNICEF, setiap satu dolar investasi pada program gizi mampu menghasilkan manfaat ekonomi sebesar tiga hingga 15 dolar.
Program kedua adalah Satgas Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG). Dalam program ini Kadin juga menerbitkan white paper bertajuk Health is the New Wealth.
Ia menyebut sektor kesehatan memiliki potensi ekonomi mencapai sekitar Rp 670 triliun, dengan setiap satu rupiah investasi berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi dua hingga tiga kali lipat.
Program ketiga adalah peningkatan kualitas pekerja migran Indonesia melalui sertifikasi dan pelatihan terhadap 208.000 calon pekerja migran agar memiliki kompetensi yang lebih tinggi.
Menurutnya, devisa dari pekerja migran saat ini telah mencapai sekitar US$ 17,19 miliar, menjadikannya salah satu penyumbang devisa terbesar nasional setelah komoditas utama seperti baja, batu bara, dan kelapa sawit.
Sementara program keempat adalah renovasi rumah tidak layak huni sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Tiga Juta Rumah pemerintah.
Anindya mengatakan sektor perumahan memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian nasional dan berpotensi menciptakan sekitar 19 juta lapangan kerja.
"Kami mendukung penuh Program Tiga Juta Rumah sejak awal karena dampaknya sangat luas terhadap perekonomian," ujarnya.
Anindya juga melihat peluang besar kolaborasi antara dunia usaha dengan program Koperasi Desa Merah Putih yang kini telah hadir di sekitar 80.000 desa.
Menurutnya, Kadin dapat berkontribusi melalui program sertifikasi, pelatihan, hingga penguatan aktivitas perdagangan sehingga koperasi desa mampu berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Diplomasi Ekonomi Internasional
Dalam kesempatan itu, Anindya menyampaikan apresiasi atas dukungan Presiden Prabowo dan para menteri yang telah melibatkan Kadin dalam berbagai misi ekonomi internasional.
Menurutnya, diplomasi ekonomi menjadi instrumen penting untuk membuka pasar baru, menarik investasi, serta mempercepat industrialisasi nasional.
Ia mencatat target investasi nasional sebesar Rp 2.041 triliun telah mencapai sekitar separuhnya pada semester pertama tahun ini dan berhasil menciptakan hampir 1,5 juta lapangan kerja baru.
Untuk memperkuat tindak lanjut kerja sama internasional, Kadin membentuk Kadin Global Engagement Office (GEO) yang bertugas memastikan berbagai perjanjian perdagangan internasional seperti Free Trade Agreement (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh dunia usaha nasional.
Selain itu, Kadin juga rutin menyelenggarakan forum diplomasi ekonomi bersama para duta besar negara sahabat guna memperkuat hubungan perdagangan internasional.
Luncurkan Platform "We Buy From Indonesia"
Dalam pertemuan tersebut, Anindya juga memperkenalkan inisiatif baru bertajuk "We Buy From Indonesia", sebuah platform digital perdagangan yang memetakan rantai pasok industri Indonesia sekaligus mempromosikan produk nasional kepada pembeli global.
Ia menjelaskan, platform tersebut tidak hanya menjadi katalog produk, tetapi juga menampilkan keterlibatan perusahaan Indonesia dalam rantai pasok berbagai industri dunia.
Menurut Anindya, banyak produk yang diproduksi di Indonesia telah menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan global seperti Tesla, Airbus, Kia, IKEA, hingga berbagai perusahaan multinasional lainnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Kadin, nilai ekspor Indonesia mencapai sekitar US$ 300 miliar per tahun, di mana sekitar US$ 60 miliar berasal dari komoditas batu bara, baja nirkarat (stainless steel), dan kelapa sawit.
Sementara sekitar US$ 240 miliar lainnya berasal dari berbagai produk manufaktur dan industri bernilai tambah yang diproduksi pelaku usaha nasional.
Platform tersebut disusun dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Mandarin, serta dikembangkan bersama berbagai kementerian, terutama Kementerian Perdagangan, agar menjadi basis data perdagangan nasional yang akurat.
