Pungutan Ekspor Sawit Capai Rp22,7 Triliun, BPDP Perkuat Hilirisasi dan Program B50
Poin Penting
|
KALIMANTAN TENGAH, investortrust.id – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat penerimaan dana dari pungutan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya mencapai Rp22,7 triliun hingga Semester I-2026 atau lebih tepatnya pada 30 Juni 2026.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & Umum, BPDP Zaid Burhan Ibrahim mengatakan dana yang dihimpun sepanjang semester I 2026 tersebut akan dimanfaatkan kembali untuk membiayai berbagai program yang diamanatkan pemerintah dalam mendukung pengembangan industri sawit nasional.
"Sampai dengan 30 Juni tahun 2026, penerimaan BPDP mencapai Rp22,7 triliun. Dana ini tentunya akan digunakan kembali untuk program-program yang diamanatkan kepada BPDP sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan pemerintah," ujar Zaid saat media briefing, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga
Punya Potensi 16 Juta Ton per Tahun, Limbah Sawit Siap Jadi Motor Ekonomi Baru UMKM
Menurutnya, dana pungutan ekspor tersebut dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program strategis, mulai dari pengembangan biodiesel, peremajaan sawit rakyat (PSR), pengembangan sumber daya manusia, riset dan inovasi, promosi sawit berkelanjutan, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Zaid menambahkan, pengelolaan dana tersebut juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat hilirisasi sekaligus mendukung implementasi program biodiesel B50 yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan BPDP akan terus memastikan dana pungutan ekspor sawit dapat dikelola secara optimal agar memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, pelaku usaha, serta perekonomian nasional.
"Nah, ini tentunya kan akan digunakan kembali untuk program-program yang diamanatkan oleh BPDP dan kita kan menjadi bagian dari kerja-kerja yang diamanatkan pemerintah. Untuk bagaimana program-program BPDP ini sangat berguna bagi masyarakat, bagi perekonomian, dan ini komitmen dari Bapak Presiden kita, Bapak Prabowo, sehingga dengan program B50 tadi kan penggunaan bahan bakar nabati ini semakin lebih tinggi," bebernya.
