Indonesia Open Network (ION) Hadir, UMKM Berpeluang Masuk Ekosistem Digital Lebih Luas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia Open Network (ION) diperkenalkan sebagai infrastruktur jaringan digital terbuka yang dirancang untuk memperluas akses perdagangan digital bagi seluruh pelaku usaha, mulai dari UMKM, perbankan, penyedia sistem pembayaran, hingga perusahaan logistik.
President Director Indonesia Open Network (ION) Bayu Prawira Hie menjelaskan, ION merupakan singkatan dari Indonesia Open Network, yakni jaringan digital yang bersifat terbuka sehingga seluruh pihak dapat berpartisipasi dalam satu ekosistem.
"ION itu singkatan dari Indonesia Open Network (ION). Disebut Open Network, network itu kan jaringan. Jaringan apa? Jaringan digital yang open maksudnya terbuka untuk semua pihak untuk bisa bergabung, yang dimiliki oleh Indonesia," kata Bayu saat wawancara di Kantor Investortrust, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga
Kementerian UMKM dan Apindo Percepat Implementasi Indonesia Open Network
Menurut Bayu, konsep ION berbeda dengan platform digital yang selama ini dikenal masyarakat, seperti marketplace maupun aplikasi ride-hailing yang dikelola secara tertutup (closed network).
Dalam sistem tertutup, seluruh aktivitas di dalam ekosistem dikendalikan oleh satu perusahaan. Sementara itu, ION mengadopsi konsep open network sehingga berbagai pelaku, mulai dari penjual, pembeli, penyedia sistem pembayaran, perbankan, hingga perusahaan logistik dapat saling terhubung dalam satu jaringan.
"Kalau close (network) itu kan berarti pengelolanya hanya satu. Kalau kita open (network) semua pihak boleh berpartisipasi. Termasuk misalnya payment system, logistics, perbankan memberikan loan. Itu semua adalah partisipan di dalam open network ini," ujar Bayu.
Ia mengibaratkan perbedaan keduanya seperti jalan tol dan jalan arteri. Jalan tol memiliki satu pengelola yang mengatur seluruh akses masuk dan keluar, sedangkan jalan arteri dapat digunakan siapa saja selama mengikuti aturan yang sama.
Baca Juga
Menteri UMKM: Indonesia Open Network Masuki Tahap Teknis Formulasi Penerapan Sistem
Dengan model tersebut, berbagai institusi, termasuk perbankan, dapat langsung terhubung dengan banyak penjual tanpa harus membangun jaringan merchant secara mandiri.
Bayu mencontohkan, selama ini bank memiliki jutaan nasabah yang berpotensi menjadi pembeli. Namun, untuk menghadirkan layanan belanja di aplikasi perbankan, bank harus menjalin kerja sama dengan merchant satu per satu. Melalui ION, proses tersebut dinilai menjadi lebih efisien.
"Begitu aplikasi perbankan plug-in ke ION, otomatis akan terkoneksi dengan banyak penjual. Bank tidak perlu lagi membangun merchant satu per satu," imbuhnya.
Selain memperluas akses perdagangan digital, ION juga menggunakan teknologi open source sehingga biaya operasional dinilai lebih rendah dibandingkan sistem tertutup yang bergantung pada satu vendor teknologi.
Menurut Bayu, kompetisi yang lebih terbuka diharapkan dapat menekan biaya transaksi e-commerce. Penurunan biaya transaksi tersebut pada akhirnya berpotensi membuat harga jual lebih kompetitif dan meningkatkan volume perdagangan digital.
Baca Juga
Indonesia Open Network (ION) Disebut Jadi Solusi Jangka Panjang Sistem Logistik RI
"Dengan membangun jalan terbuka ini, kita membangun demokratisasi e-commerce. Persaingan yang sehat akan menciptakan efisiensi, menurunkan biaya transaksi, dan pada akhirnya memperbesar perputaran perdagangan digital," tuturnya.
Bayu menegaskan ION bukan merupakan marketplace baru, melainkan infrastruktur digital yang memungkinkan berbagai marketplace, aplikasi, dan pelaku usaha saling terhubung dalam satu jaringan terbuka.
"ION sendiri bukan suatu marketplace baru. Bukan suatu platform. Tapi infrastruktur yang memungkinkan marketplace-marketplace tumbuh bersaing dengan e-commerce," pungkasnya.
