Harga Emas Turun Tipis, Pelaku Pasar Pantau Selat Hormuz dan Kebijakan The Fed
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas global bergerak stabil pada Senin (20/7/2026) seiring investor menimbang eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, dampaknya terhadap harga minyak dunia, serta sinyal dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi.
Harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.006,74 per ons, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus turun 0,1% menjadi US$ 4.015,90 per ons.
Baca Juga
UOB: Indonesia Bersiap Memasuki Fase New Normal, Minat Investor Meningkat
"Harga emas tetap berkorelasi negatif dengan harga minyak, dengan para pelaku pasar memantau dengan cermat perkembangan di Timur Tengah," kata Analis UBS Giovanni Staunovo dilansir CNBC.
Konflik di kawasan tersebut kembali meningkat setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kesembilan berturut-turut. Ketegangan itu memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
Kekhawatiran bertambah setelah Iran menyatakan dua kapal tanker minyak mengalami ledakan dan tidak dapat melanjutkan pelayaran. Kondisi itu sempat mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.
Namun, kenaikan harga minyak kemudian memangkas penguatannya setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat masih dapat dilanjutkan apabila sejalan dengan kepentingan nasional Iran.
Harga minyak yang tinggi meningkatkan risiko inflasi global karena dapat mendorong kenaikan biaya energi dan transportasi. Kondisi tersebut juga memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari pernyataan Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack. Ia bergabung dengan sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat yang menilai suku bunga kemungkinan masih perlu dinaikkan untuk mengendalikan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga
Harga Antam (ANTM) Melemah ke Rp 2,606 Juta Seusai Emas Dunia Jatuh
Pandangan tersebut memicu perdebatan menjelang pertemuan Federal Reserve berikutnya. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 80%, naik dari 73% pada pekan sebelumnya berdasarkan CME FedWatch Tool.
Meski demikian, UBS tetap memandang prospek harga emas dalam jangka menengah hingga panjang masih positif. "Kami memperkirakan dolar yang lebih lemah akan mendukung harga emas dalam 6-12 bulan ke depan, dengan logam mulia ini diperkirakan akan kembali bergerak di atas angka US$ 5.000 per ons," kata Staunovo.
