Jangan Cuma Jadi Pasar, Wamenkomdigi Ingatkan Indonesia Harus Kuasai Infrastruktur AI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menilai persaingan global di sektor kecerdasan buatan (AI) telah bergeser. Fokusnya kini bukan lagi pada aplikasi, melainkan penguasaan infrastruktur pendukung.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria mengatakan, Indonesia perlu memperkuat fondasi AI. Tujuannya agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemain dalam rantai pasok AI global.
“Kita selama ini disibukkan bermain di hilir, tapi kita melupakan yang hulu. Padahal hilir itu cuma produk akhir yang mungkin lebih tepat buat negara-negara yang menjadikan dirinya sebagai pasar, sementara yang di hulu, infrastruktur AI ini sangat penting,” ujar Nezar dalam keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, penguasaan infrastruktur AI menjadi kunci daya saing negara. Infrastruktur tersebut mencakup pusat data, komputasi, chip semikonduktor, energi, hingga talenta digital.
Nezar menilai Indonesia memiliki peluang besar masuk ke rantai pasok AI global. Salah satu modal utamanya adalah cadangan pasir silika yang dibutuhkan industri semikonduktor.
“Potensi Indonesia untuk masuk ke global supply chain itu cukup besar. Kalau kita lihat di infrastruktur untuk membuat semikonduktor dibutuhkan pasir silika. Ada 340 juta ton kurang lebih cadangan pasir silika di Indonesia,” katanya.
Baca Juga
Wamenkomdigi Optimistis Gabung WAICO Bisa Perkuat Implementasi Dua Perpres AI
Ia menegaskan sumber daya alam tersebut harus diolah melalui hilirisasi. Langkah itu dinilai dapat meningkatkan nilai tambah industri nasional.
“Jadi, saya kira hilirisasi itu bukan cuma slogan ya. Hilirisasi adalah downstreaming dari mineral dan bahan-bahan lain. Ini adalah langkah strategis yang harus dieksekusi oleh semua stakeholder yang ada di Indonesia, terutama di industri elektronik yang sedang bergerak sangat dinamis saat ini,” ujarnya.
Nezar juga mendorong kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Sinergi tersebut dibutuhkan untuk memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok global.
Momentum WAICO
Di sisi lain, Indonesia juga telah resmi menjadi salah satu pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Pemerintah mengklaim bahwa langkah ini dapat memperkuat implementasi kebijakan nasional di bidang AI.
Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan, pendirian WAICO sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto bahwa penguasaan teknologi digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat serta menjadi salah satu faktor peningkat daya saing.
“AI (akal imitasi) dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tentunya akan memperkuat daya saing Indonesia,” ujar Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat (17/7/2026).
Airlangga menyebut Prabowo ingin Indonesia berperan aktif di dalam pengelolaan tata kelola AI dunia. Pemerintah Indonesia ingin pengembangan AI bersifat inklusif, aman, beretika, dan tidak dimonopoli suatu kekuatan tertentu.
“Dan ini (AI) agar bermanfaat di dalam negeri,” jelasnya.
Pendirian WAICO sendiri melibatkan 29 negara di dunia. Indonesia bergabung atas undangan China sebagai anggota pendiri WAICO. Keuntungannya, Indonesia memiliki akses pertama bagi pembicaraan tentang pengembangan AI.

