Ekonom UI Apresiasi Perampingan 218 BUMN, Ingatkan Fokus Benahi BUMN 'Zombie'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Universitas Indonesia Dipo Satria Ramli menyambut positif langkah perampingan (streamlining) badan usaha milik negara (BUMN) oleh Danantara. Meski demikian, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut diarahkan untuk membenahi BUMN yang sudah tidak produktif atau menghadapi tekanan keuangan berkepanjangan, dengan tetap mengutamakan manfaat bagi masyarakat.
"Langkah Danantara ini saya apresiasi karena memang cukup banyak BUMN 'zombie', yaitu perusahaan yang sudah tidak aktif atau memiliki beban utang yang besar," kata Dipo dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).
Sebagai bagian dari transformasi BUMN, Danantara tengah menjalankan strategi untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat fokus bisnis perusahaan negara. Dari total 1.077 entitas, pemerintah menargetkan jumlah BUMN berkurang menjadi sekitar 200–300 perusahaan pada 2026.
Hingga Juni 2026, sebanyak 218 entitas telah dirampingkan dengan proyeksi efisiensi mencapai sekitar Rp 50 triliun.
Baca Juga
Danantara Kebut Merger BUMN Asuransi di Bawah IFG, Target Rampung 2026
Selain itu, Dipo menilai proses merger BUMN sebaiknya tidak hanya bertujuan meningkatkan valuasi maupun mempercantik laporan keuangan. Menurutnya, sebagian penggabungan perusahaan berpotensi hanya memperbaiki nilai buku tanpa diikuti peningkatan produktivitas atau manfaat ekonomi yang nyata.
"Beberapa merger terlihat hanya fokus pada valuasi dan accounting kosmetik sehingga angka konsolidasinya terlihat lebih tinggi," imbuhnya.
Ia menjelaskan, BUMN memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan swasta karena selain mengejar keuntungan, juga mengemban fungsi pelayanan publik. Oleh sebab itu, restrukturisasi harus tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
"BUMN tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memiliki objektif sosial. Misalnya PLN, tujuannya bukan hanya laba, tetapi memastikan akses listrik yang baik bagi seluruh masyarakat," tutur dia.
Dipo menuturkan, perampingan akan lebih tepat jika difokuskan pada BUMN yang tidak sehat tanpa mengurangi tingkat persaingan yang masih diperlukan di sejumlah sektor. Dipo menilai restrukturisasi BUMN tidak hanya dilakukan melalui pengurangan jumlah entitas, tetapi juga mencakup upaya penyelamatan perusahaan-perusahaan strategis.
Secara terpisah, Chief Executive Officer Danantara Investment Management Dony Oskaria menegaskan transformasi BUMN tidak semata-mata berorientasi pada efisiensi finansial, tetapi juga membawa tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat.
"Di samping melakukan transformasi pengelolaan BUMN, kami juga bertanggung jawab kepada seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana pengelolaan BUMN ini harus dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya," terang Dony.
Dony menambahkan, proses merger tetap berpotensi menghasilkan efisiensi, terutama melalui penyederhanaan fungsi-fungsi yang selama ini tumpang tindih di dalam perusahaan.
"Umumnya merger memang menghasilkan efisiensi karena ada banyak peran yang tumpang tindih, terutama pada fungsi back office," katanya.
