Perhapi: Inovasi Tambang Butuh Dukungan Kampus dan Industri
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mendorong pemerintah memperkuat kolaborasi antara industri tambang, perguruan tinggi, dan lembaga riset sekaligus mempercepat diversifikasi hilirisasi mineral. Langkah tersebut penting agar inovasi nasional lebih cepat diterapkan di industri.
Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis dan Mineral Kritis Pengurus Pusat Perhapi Muhammad Toha mengatakan sinergi antara dunia akademik dan industri masih menjadi tantangan besar. Banyak inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi belum mampu menembus tahap komersialisasi karena berhenti pada pengujian skala laboratorium.
Baca Juga
PNBP Minerba Tembus Rp 48,95 Triliun, Sektor Tambang Tetap Jadi Andalan
"Yang paling menjadi tantangan adalah menyinkronkan hasil temuan universitas dengan dunia praksis. Selama ini banyak yang masih berhenti di skala laboratorium," kata Muhammad Toha saat dihubungi Investortrust, Selasa (14/7/2026)..
Toha menilai pemerintah perlu mendorong kolaborasi tersebut melalui kebijakan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Salah satu caranya adalah memberikan insentif kepada perusahaan tambang yang mengembangkan penelitian bersama perguruan tinggi. "Pemerintah memang perlu memberikan insentif kepada perusahaan kalau misalnya perusahaan itu berkolaborasi sama universitas. Artinya, take and give-nya ada," ujarnya.
Menurutnya, skema tersebut telah diterapkan di sejumlah negara dan terbukti mampu mempercepat lahirnya inovasi yang siap digunakan oleh industri. Dengan dukungan insentif, perusahaan akan memiliki dorongan lebih besar untuk mengadopsi hasil riset dalam negeri sehingga manfaat penelitian tidak berhenti sebagai publikasi akademik semata.
Hilirisasi Perlu Diversifikasi
Selain mendorong kolaborasi riset, Toha mengingatkan agar kebijakan hilirisasi mineral nasional tidak hanya berpusat pada nikel. Ia menilai ketergantungan terhadap satu komoditas dapat meningkatkan risiko ketika pasar global mengalami perlambatan atau perubahan harga. "Indonesia itu hilirisasinya masih single commodity. Kita terlalu menonjol di nikel," katanya.
Menurut Toha, Indonesia memiliki banyak sumber daya mineral lain yang dapat memberikan nilai tambah melalui hilirisasi, seperti bauksit, mangan, tembaga, timah, hingga berbagai mineral kritis yang dibutuhkan dalam pengembangan industri teknologi dan transisi energi.
Ia menilai diversifikasi hilirisasi akan memperkuat struktur industri nasional sekaligus memperbesar sumber devisa negara dari berbagai komoditas. "Hilirisasi terhadap timah, bauksit, mangan dan komoditas lainnya harus kita lakukan. Maka devisa akan semakin besar dan keamanan industri kita menjadi lebih kuat," ujarnya.
Baca Juga
Indonesia-India Sepakat Perkuat Kerja Sama di Sektor AI Hingga Mineral Kritis
Toha mengatakan kontribusi hilirisasi nikel terhadap devisa nasional saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 13%. Untuk itu, Indonesia perlu mengembangkan hilirisasi mineral lainnya agar pertumbuhan industri tidak bergantung pada satu komoditas saja.
Menurutnya, hilirisasi emas telah menunjukkan hasil yang cukup baik karena menghasilkan produk bernilai tambah, seperti logam mulia dan industri perhiasan yang mampu menyerap tenaga kerja.
Ke depan, ia berharap pendekatan serupa diterapkan pada berbagai komoditas mineral lainnya. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan setengah jadi, tetapi juga mampu menghasilkan produk manufaktur bernilai tambah tinggi yang memperkuat daya saing industri nasional, meningkatkan devisa, dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
